Senin, 08 November 2010

Pameran Situs Purbakala, Media Belajar Siswa



Pameran Situs Purbakala, Media Belajar Siswa

Kearifan lokal yang termuat (juga) dalam sejarah dan situs purbakala seakan semakin tersisih oleh budaya global. Karena, masyarakat kini (ternyata) cenderung tertarik budaya produk global daripada berbicara mengenai sejarah dan situs purbakala. Boleh jadi barangkali produk global dipahami dapat mengikuti gerak zaman, sementara sejarah dan situs purbakala (sebaliknya) ”menengok jauh ke belakang”. Padahal, beberapa pakar di bidang terkait menyatakan bahwa belajar sejarah dan situs purbakala sama artinya menggali nilai-nilai luhur bangsa.

Maka, ketika (sejak) 2- 6 November 2010, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng) bekerja sama dengan Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestari Situs Manusia Purba Sangiran, Balai Arkeologi Yogyakarta, dan Balai Pelestarian Peninggalan Sejarah Pubakala Jateng Museum Jateng Ronggowarsito menggelar pameran yang bertajuk ”Pameran Sejarah dan Purbakala 2010”, layak untuk diapresiasi. Sebab, ikhtiar tersebut merupakan respon positif terhadap era yang dicurigai (mulai) meninggalkan kearifan lokal itu.

Pameran yang digelar di Gedung Ngasirah, Kudus itu, agaknya tak hanya ditujukan untuk masyarakat umum, tetapi secara khusus untuk kaum pelajar. Terbukti, ada jadwal kunjungan yang dibuat oleh panitia, dalam hal ini pihak Disbudpar Kabupaten Kudus. Hampir semua sekolah, terutama SMP/MTs dan SMA/SMK, di Kabupaten Kudus diberi jadwal kunjung pameran. Ini bentuk kepedulian pemerintah terhadap sejarah dan situs purbakala yang kurang dikenal agar dikenal masyarakat.

Sekalipun sejarah dan situs purbakala itu mungkin berlokasi di daerah pelajar bertempat tinggal, belum tentu mereka mengetahuinya. Masih banyak pelajar di Kudus, misalnya, yang ternyata belum mengetahui keberadaan Situs Patiayam, yang pernah menggemparkan jagat kepurbakalaan Indonesia itu. Bahkan, barangkali masyarakat umum di Kudus pun mengalami hal serupa. Ironis bukan? Situs yang berada dekat, tetapi tidak dikenalnya.

Melalui pameran itu, masyarakat, khususnya pelajar di Kudus, tak hanya dikenalkan Situs Patiayam, yang terkenal dengan fosil gajah purbanya itu, tetapi juga Situs Sangiran, yang terkenal dengan fosil manusia purbanya itu. Untuk melengkapi informasi, di kedua stan tersebut disertakan juga banyak catatan yang dapat dibaca pengunjung. Dengan demikian, pelajar dapat belajar banyak mengenai kepurbakalaan dari kedua situs tersebut. Di samping itu, ada juga stan yang memamerkan replika Borobudur.

Keantusiasan pelajar di Kudus mendatangi pameran terlihat selama pameran dibuka. Sampai hari keempat (5/11) saja, beberapa rombongan pelajar dari berbagai sekolah masih tampak berdatangan, silih berganti. Kedatangan mereka tak hanya melihat-lihat, tetapi juga mencatat informasi untuk membuat laporan sebagai tugas sekolah.

Sayang, pameran sejarah dan situs purbakala itu sedikit agak tercederai kesan ”kesitusannya” karena di area pameran itu ada juga stan-stan yang menjual produk makanan dan konveksi.





3 komentar:

  1. Acara pameran seperti itu memang harus selalu kita dukung kehadirannya....karena besar sekali manfaatnya bagi kita, apalagi kaum muda, guna agar lebih meningkatkan kecintaan terhadap kebudanyaan sendiri....

    BalasHapus
  2. harus sering2 nih diadain acara kayak gini pak. positif banget buat siswa,:)

    BalasHapus
  3. wah, sungguh menarik dan menyenangkan kalau anak2 diajak ke objek pameran seperti ini, pak. melihat objek akan lebih bermakna ketimbang seribu kata2.

    BalasHapus

""