Selasa, 30 November 2010

Revitalisasi Pendidikan Toleransi




Revitalisasi Pendidikan Toleransi

Hidup berdampingan, saling menolong, menghargai, dan menghormati meski berbeda latar belakang, menjadi idaman banyak orang. Bisa terwujud berangkat dari masing-masing memiliki kebebasan yang mesti diberi ”ruang”. Hanya kebebasan yang dikembangkan memang jangan sampai mengebiri kebebasan orang lain. Dengan bahasa lain, hak-hak privat perlu diberi perlindungan untuk boleh berkembang, tanpa harus mengganggu hak-hak privat yang lain. Tumbuh bersama dengan tetap saling bertoleransi itulah yang (sejatinya) menjadi jiwa Indonesia. Yang, bisa digali dari semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Pengalaman menunjukkan bahwa keberagaman yang saling mengedepankan sikap bertoleransi memunculkan ”energi” yang dahsyat. Sekat-sekat kedaerahan, budaya, suku, agama, pendidikan, sosial, ekonomi, politik, jabatan, dan sebagainya yang ”diluruhkan” demi membangun ”kepaduan” mampu menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi. Bencana Wasior, Mentawi, dan Merapi (barangkali) tak bakal teratasi jika masing-masing mengandalkan ego pribadi atau kelompok.

Itulah sebabnya, keberagaman yang ada perlu dijaga dan (bahkan) dilestarikan. Menjaga dan melestarikan keberagaman dalam (hidup) kebersamaan sangat efektif dimulai dari sekolah. Karena, sekolah sebagai lembaga publik yang (memang) menampung kemajemukan. Sekolah dengan demikian harus menyediakan ”ruang” bagi bertumbuhnya keberagaman. Simbol-simbol keberagaman yang dulu pernah ”semarak” di sekolah-sekolah sejak di jenjang sekolah dasar (SD) bahkan taman kanak-kanak (TK), kini, perlu direvitalisasi.

Karena, disadari atau tidak, kini, jarang atau bahkan tak (lagi) terjumpai sama sekali tertempel di dinding sekolah (umum), misalnya, gambar berbagai tempat ibadah semua agama di Indonesia, pakaian adat, rumah adat, kesenian daerah, dan sebagainya simbol-simbol keberagaman lain, yang merupakan kekayaan negeri ini. Padahal, mengenalkan beragam perbedaan dengan mengembangkan sikap toleransi sejak dini sangatlah ”mengena”. Nilai-nilai menghargai dan menghormati perbedaan itu akan lebih mudah teresap dalam jiwa dan batin anak, yang boleh jadi membangun karakter mereka lebih inklusif.

Barangkali penting untuk digiatkan praktik-praktik hidup bersama dalam keberagaman di sekolah. Misalnya, siswa non-Muslim dapat ambil bagian dalam acara Idul Adha, misalnya, turut mempersiapkan daging kurban; demikian juga yang non-Kristen dapat ambil peran dalam kegiatan aksi Paskah/Natal; yang non-Budha dapat berpartisipasi dalam persiapan Waisak; dan sebagainya dan sebagainya. Mungkin juga penting untuk dipertimbangkan membangun musholla, gereja, wihara, pura, dan tempat ibadah lain (dalam ukuran yang proporsional) di lahan sekolah secara berdampingan jika memang di sekolah itu ada siswa yang berkeyakinan beragam. Dengan begitu, anak tidak merasa asing, tapi malah akrab terhadap yang lain, karena telah diperkenalkan perbedaan sejak awal.

10 komentar:

  1. di sebuah negeri multikultur seperti negeri kita, pendidikan toleransi di tengah keserba-multi-an ini memang sangat perlu, pak, agar anak2 masa depan negeri juga mampu berpikir multidimensi.

    BalasHapus
  2. dari kecil diajarin biar gag suka kekerasan pas gedenya..:3

    BalasHapus
  3. Kalo saya lebih setuju penghilangan seragam sekolah sejak TK...
    Supaya mereka tahu bahwa perbedaan itu bisa dimulai dari baju yang dikenakan dan harus dihormati :)

    BalasHapus
  4. ijin copas buat tugas ya pak :)

    BalasHapus
  5. kok di layar notebuk saya, tiap postingannya pak guru selalu terlihat dua ya. di atas dan di bawah tulisannya sama, begitu pula dengan komentar2nya. toleransi di kota memang sudah mulai tergerus ya

    BalasHapus
  6. ya, mas, begitulah keadaannya. Sudah saya otak-atik kode html-nya, ternayata tak kunjung rapi. tetap tampil seperti semula, tampak dobel posting. tolong beri tipps jika mas ada ide. trims.

    BalasHapus
  7. tata letak Bloggnya bagus, pak.

    BalasHapus

""