Rabu, 03 November 2010

Rindu, Siswa yang Inisiatif Energik



Rindu, Siswa (yang) Inisiatif Energik

Siswa didik sering kurang berinisiatif dalam pembelajaran nonkinestetik. Misal dalam pelajaran bahasa Indonesia, sejarah, IPA, dan matematika. Artinya, ketika siswa didik menjumpai kesulitan dalam menghadapi soal, kurang memiliki kecekatan dalam mencari solusi. Siswa didik lebih banyak pasif. Kalau tidak diperintah oleh guru/pembimbing, mereka tidak beranjak dari keterdiaman. Bahkan, meskipun telah disuruh, kegesitannya dalam merespon boleh dibilang lamban. Sehingga bisa saja guru/pembimbing tak sekali menyuruh. Bisa berkali-kali.

Berbeda dengan pembelajaran yang kinestetik, seperti olahraga. Dalam pembelajaran olahraga, yang suatu saat saya lihat, sungguh “menggairahkan”. Saat itu, siswa didik putra bermain futsal di lapangan sekolah, tanpa ditunggu oleh guru olahraga karena guru olahraga sedang berkonsentrasi pada siswa didik putri di bagian lain. Permainan futsal terlihat sangat bersemangat. Para pemain sungguh dapat menghargai aturan permaianan. Terbukti ketika berkali-kali ada pelanggaran yang dialami oleh pemain yang berbeda, mereka dapat menaati “hukuman” yang harus ditanggung. Terlihat tak ada yang protes. Mereka sungguh menaati aturan yang ada.

Namun, yang membuat saya, sebagai guru nonkinestetik, agak iri adalah ketika bola futsal yang mereka pakai bermain tersangkut di atas atap sekolah, mereka segera memiliki inisiatif. Padahal, seperti tadi yang telah saya sebut di atas, guru olahraga tak berada di antara mereka. Inisiatif itu tumbuh dengan sendirinya di antara mereka. Tanpa disuruh oleh guru, tentu. Tapi, mereka sangat gesit mencari solusi. Terbukti, dalam hitungan detik atau menit (begitu), mereka sudah membawa tangga secara gotong royong. Lantas, saling membantu dalam memegang posisi tangga karena ada yang naik, dan tampaknya, yang naik itu pun tak diperintah oleh siapa-siapa. Bahkan, yang menarik adalah ada kelompok anak lain yang memembawa tangga lagi, sekalipun akhirnya dikembalikan karena dilihatnya telah ada tangga yang dipakai kelompok anak yang lebih dulu. Dalam konteks ini, betapa “mengalirnya” inisiatif siswa didik.

Mereka sangat mudah menemukan solusi ketika menghadapi permasalahan. Daya kreativitasnya tumbuh begitu rupa secara bebas. Tanpa tanggung-tanggung. Upaya mereka sangat maksimal. Dan, sikap seperti inilah yang sejatinya dirindukan oleh banyak guru, guru mata pelajaran (mapel) apa saja. Akan tetapi, begitulah fakta yang ada. Siswa didik di mapel nonkinestetik kurang seenergik siswa didik di mapel kinestetik dalam berinisiatif menemukan solusi.

Kalau pun ada yang energik jumlahnya tidaklah banyak. Dalam satu kelas, misalnya, barangkali lebih sedikit jika dibandingkan dengan siswa didik yang kurang energik. Padahal, kemandirian siswa didik yang serupa dalam mapel olahraga (sekalipun tak hadir gurunya di tengah-tengah mereka) itu yang sangat dimungkinkan mampu berkompetisi di era yang semakin kompetitif ini. Inilah yang menjadi tantangan guru-guru nonkinestetik. Mungkin Anda (pembaca) salah satu pencetus solusi atas “kebuntuan” ini?

3 komentar:

  1. Berarti hal itulah yang masih harus dipelajari oleh para Guru. Guru jangan hanya puas dengan tugasnya masuk kelas dan menyampaikan materi teori pelajaran. Tidak pula hanya semangat untuk menambah gelar akademiknya saja.

    Harus lebih dari itu.

    Guru harus lebih banyak belajar menumbuhkan semangat peserta didiknya mendalami mata ajar yang diemban olehnya.

    BalasHapus
  2. kehadiran guru dalam pembelajran tidak bisa tergantikkan oleh teknologi. saya ingat kata pak yohanes surya" sebenarnya tidak ada siswa itu bodoh, hanya kesempatan memperoleh guru yang tepat tidak ia dapatkan"

    BalasHapus
  3. punya info link dimana dapat permendiknas 28 th 2010 pak, tadi malam nyari kok gak dapat

    BalasHapus

""