Jumat, 05 November 2010

Warnet yang Mendidik


Warnet yang Mendidik

Sepertinya tak akan kunjung padam fenomena ”bercinta” dalam bilik warung internet (warnet). Karena, hingga kini, (barangkali) semua warnet berbentuk bilik-bilik yang tertutup. Menjadikan pemakai jasa warnet merasa ”nyaman” saja memanfaatkan bilik itu untuk mengakses semua situs yang diingini. Tidak ada perasaan sungkan dengan siapa pun karena tidak kelihatan meskipun membuka situs-situs yang mengarah ke pornografi.

Bahkan jika belakangan ini ditemukan anak-anak, di antaranya ada berstatus pelajar, bercinta di bilik warnet, sangatlah masuk akal. Karena, bisa jadi awalnya mereka mencari tugas-tugas sekolah, tetapi sangat mungkin kemudian (karena bilik tertutup) mereka menjelajah situs seronok, yang akhirnya menghipnotis mereka berbuat mesum. Fakta demikian tentu amat memrihatinkan.

Salah satu alternatif untuk meminimalisasi perbuatan kurang baik itu, mungkin bilik dalam warnet dibuat transparan. Bahan bilik dibuat dari kaca, misalnya. Atau tanpa berbilik-bilik. Sehingga kesan yang muncul semua terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Dengan demikian, pemakai jasa warnet akan merasa tidak jenak hati jika hendak berbuat yang tidak-tidak, termasuk mungkin jika hendak membuka-buka situs porno.

Pemikiran ini terinspirasi oleh teman saya yang menempatkan komputer rumah yang terjaring internet di tengah-tengah ruang keluarga. Tempat di tengah-tengah ruang keluarga berarti sebagai wilayah umum, siapa saja (anggota keluarga dan saudara) boleh tak hanya lewat, tetapi memanfaatkannya. Kesan yang terbangun sangat terbuka dan bebas. Dan kalau ada yang mencoba memanfaatkan internet itu untuk mengakses situs porno, misalnya, dimungkinkan akan tidak tega.

Saya memandang upaya itu termasuk mendidik seluruh anggota keluarga untuk saling menghormati/menghargai karena semua memiliki peluang yang sama memanfaatkan intenet dalam situasi dan kondisi yang sama. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Bahkan, saya berpikir, jaringan internet di rumah itu (akhirnya) akan lebih dimanfaatkan untuk menjelajah pengetahuan yang bermanfaat sesuai dengan tingkat usia, pendidikan, dan sebagainya anggota keluarga dan saudara.


Maka, andai saja, yang belakangan ini munculnya warnet seumpama cendawan di musim hujan itu ditata dengan konsep bilik transparan, terciptalah warnet yang mendidik. Warnet yang menjadi mitra keluarga dan sekolah untuk mendidik anak-anak, generasi penerus bangsa ini, berkarakter.

3 komentar:

  1. kita butuh banget warnet yang kayak gini lebih banyak. :)

    BalasHapus
  2. seandainya semua warnet sadar, bahwa suatu saat juga memiliki keluarga yang "sehat", pasti akan kepikir bagaimana mengelola warnet yang sehat pula

    BalasHapus
  3. smua smua warnet transparan tdk ada biliknya, klo bs warnet lahannya di lapangan hehehe...

    BalasHapus

""