Selasa, 07 Desember 2010

Dulu Ronda, Kini (Hanya) Ambil Jimpitan


Dulu Ronda, Kini (Hanya) Ambil Jimpitan

Demi menjaga keamanan kampung, terutama di malam hari, lazimnya diadakan ronda malam. Peronda yang berjumlah beberapa warga kampung sebagai petugas itu, biasanya berkeliling kampung. Melihat-lihat keadaan kampung, tetap dalam kondisi aman atau tidak. Jika kampung dalam kondisi aman, peronda kembali ke pos ronda. Berbincang-bincang dan bersendau gurau sembari menikmati makanan yang tersedia. Beberapa waktu kemudian, berkeliling lagi, memastikan bahwa kampung tetap aman. Namun, jika dicurigai kampung sedang disatroni pencuri, peronda segera memberi isyarat (khusus) kepada warga, lantas mengejar pencuri bersama-sama.

Untuk menjamin agar peronda merasa betah terjaga sepanjang malam, ibu-ibu secara bergilir (serupa petugas ronda) biasanya menyiapkan berbagai makanan kecil dan minuman. Agar tidak memberatkan beban warga, dalam satu malam ditanggung oleh beberapa keluarga. Jadi, satu keluarga bisa saja hanya membawa satu ceret berisi kopi/teh, sementara yang lain makanan kecil, misalnya, pisang goreng, jagung rebus, atau singkong rebus. Atas tersedianya logistik perut itu, dipastikan peronda akan betah terjaga dalam menjaga kampung semalam suntuk.

Kampung aman, terbebas dari pencuri. Warga yang tidak tugas ronda beserta keluarganya bisa tidur dengan nyaman setelah seharian membanting tulang memeras keringat demi memenuhi kebutuhan hidup. Pagi harinya mereka bangun dalam kondisi badan yang segar kembali dan siap bekerja seharian. Anak-anak bersekolah dengan gembira. Sehabis sekolah, membantu orang tua, mungkin mengambil kayu bakar, menggembalakan kambing atau sapi atau kerbau, merumput, dan lain-lain kegiatan. Kehidupan berputar indah dan tentram.

Itu realitas sosial tempo dulu. Kini, hampir dapat dipastikan budaya ronda di kampung-kampung mulai menipis, jika tak boleh dibilang terkikis habis. Seperti di kampung, tempat saya berdomisili, ronda identik dengan (hanya) mengambil jimpitan. Munculnya gagasan jimpitan di kampung saya ini karena kas rukun tetangga (RT) mengalami defisit. Gagasan itu pun disambut baik oleh warga. Sehingga, jimpitan yang berupa uang sejumlah Rp200,00 setiap malam per keluarga itu, kini, mampu menggelembungkan kas RT hingga jutaan.

Awalnya pengambilan jimpitan memang dilakukan peronda bersamaan dengan berkeliling kampung sesuai dengan kesepakatan awal ketika pertemuan RT. Yakni, menjaga keamanan kampung sembari mengambili jimpitan dari rumah ke rumah. Kesepakatan tersebut memperoleh dua keuntungan. Pertama, kampung lebih aman karena penjagaan terus berlangsung bahkan dari rumah ke rumah; kedua, kas RT terus bertambah setiap malam.

Tetapi sayang, lambat laun kesepakatan itu mulai diabaikan. Karena kenyataannya, kini, sebagian besar warga (yang bertugas ronda) tidak lagi mengambil jimpitan bersamaan meronda. Peronda cenderung beralih tugas hanya mengambil jimpitan. Terbukti, waktu belum malam jimpitan telah diambil, selanjutkan ronda malam tidak dilakukan. Karena, sehabis ambil jimpitan, sebagian besar petugas ronda, pulang dan tidak kembali meronda.

Bukankah ini menunjukkan bahwa kesadaran bersosial orang mulai berkurang? Mulai meninggalkan kebersamaan dalam mengemban tugas bersama meronda untuk menjaga keamanan kampung. Seakan-akan keamanan mulai beralih menjadi tanggung jawab domestik, beban keluarga masing-masing. Orang tak perlu (lagi) susah-susah intervensi mengamankan orang lain. Yang berarti, sikap saling mengamankan telah mulai menghilang. Yang ada hanyalah menjaga/mengamankan diri-sendiri. Atau mencari aman bagi diri sendiri.

Orang pun tampaknya cenderung memilih lebih praktis dan (hanya) menunjukkan bukti. Hal itu, terlihat pada sebagian banyak peronda hanya mengambil jimpitan, lantas menyerahkankannya kepada bendahara RT. Penyerahan jimpitan seolah-olah dipandang sebagai bukti bahwa seseorang telah melakukan tugas secara sempurna, yakni meronda sekaligus mengambil jimpitan. Hal tersebut (juga) seakan semakin tersahkan karena setiap ada pertemuan RT, yang lebih banyak disinggung adalah perihal terkumpulnya jimpitan, bukan meronda.

7 komentar:

  1. iya, pak, di kampung saya juga sebagian seperti itu. tapi tidak semuanya. masih ada beberapa kelompk peronda setelah ambil jimpitan terus lek-lekan sampai sekitar jam 2-an. sepertinya ronda siskamling perlu kembali dihidupkan, tak hanya sekadar ambil jimpitan terus tidur, hehe ....

    BalasHapus
  2. masih mending pak, di tempat kami gak ada ronda apalagi jimpitan

    BalasHapus
  3. Malah dulu di kampung saya, mereka dengan alasan "besoknya kerja" memilih untuk mbayar orang untuk gantiin tugas kamlingnya, Pakde...

    Memprihatinkan ya...

    BalasHapus
  4. sama kagak ada di blue

    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  5. Sama seperti tempat p Bud, di tempat saya dah gak ada lagi kegiatan macam begitu. Lha wong diundang rapt RT saja sekarang yang hadir gak pernah lebih dari 60 %, tapi kalau diundang kondangan 100 % datang.

    BalasHapus
  6. sobat tulisannya koq ga jelas maksud menone warna tulisan dengan background........ato emg comp q ya yg error??????..... salam persahabatan

    BalasHapus
  7. Sepertinya sekarang nilai-nilai kearifan lokal banyak yang luntur ya. Yang baik harus tetap dipertahankan. Jika berkenan berkunjung juga pak di blog saya, ada gagasan saya mengenai hal ini.

    BalasHapus

""