Rabu, 22 Desember 2010

Hari Ibu dan Natal


Hari Ibu dan Natal

Setiap Desember, kita selalu menjumpai dua hari khusus, yakni Hari Ibu (22/12) dan Natal (25/12), yang sesungguhnya memiliki pertalian erat. Karena, kedua hari itu tidak dapat dipisahkan dari peran wanita, terutama sebagai ibu. Ibu dari anak-anak, yang berarti berperan membimbing, membina, mendidik, menyayangi, dan melindungi anak-anak. Mengawal anak-anak ke arah masa depan yang baik. Masa depan yang didambakan setiap orang tua bagi anaknya. Keberadaan anak, baik atau buruk, sering ditumpukan pada peran ibu.

Di samping itu, ibu juga sebagai pengelola gerak kehidupan keluarga. Artinya, pengelolaan perekonomian demi mencukupi kebutuhan keluarga ibulah yang sering berperan. Mulai dari kebutuhan dapur, makan, mandi, cuci, jamuan jika ada tamu, hingga uang saku dan sekolah anak-anak, ibulah yang lebih banyak mengatur. Ada kelebihan atau kekurangan anggaran dalam keluarga, ibulah yang lebih dahulu mengetahui.

Ibu juga lebih lekat dengan pekerjaan-pekerjaan di rumah. Mengepel, manyapu, mencuci, menyeterika, dan tentu memasak, menyiapkan makan menjadi kegiatan rutin sehari-hari. Pekerjaan-pekerjaan itu membutuhkan waktu yang relatif panjang, umumnya dari pagi hingga sore. Pekerjaan yang satu selesai yang lain telah menanti untuk ditangani. Begitu seterusnya, bersiklus dari hari ke hari berikutnya.

Tidak berhenti di situ. Ibu juga melayani ayah ketika ayah pulang kerja. Menyiapkan makanan, minuman, bahkan barangkali ada (juga) yang harus menyiapkan pakaian rumah sehabis ayah mandi. Menemani ayah ketika sedang istirahat melepas lelah sekaligus menemani berbincang-bincang mengenai pekerjaan, sekolah anak, atau hal lain. Belum lagi ibu harus menata diri demi menjaga keharmonisan relasi suami-isteri.

Ada lagi, yang tidak dapat diabaikan. Ibu sebagai bagian dari komunitas para ibu di masyarakat atau terkait dengan pekerjaan suami, peran sosialnya tidak dapat dihindari. Ibu umumnya lebih familiar menjalani peran sosial itu. Hadir di pertemuan ibu-ibu perberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK), di organisasi wanita tempat suami bekerja, dan sebagainya dan sebagainya.

Aktivitas yang seabrek itu (ternyata) tidak hanya dilakukan oleh ibu-ibu yang bertugas tunggal sebagai ibu rumah tangga, tetapi banyak juga dilakukan oleh ibu-ibu karier. Itu berarti, tugas ganda dikerjakan oleh sebagian ibu-ibu, yakni bekerja di ranah domestik dan publik.

Diakui atau tidak, kegiatan sebanyak itu tentu membutuhkan tidak hanya kekuatan fisik, tetapi juga keteguhan psikis. Kekuatan fisik, lebih-lebih keteguhan psikis menjadi modal penting dalam menangani semua aktivitas itu. Kesabaran, ketekunan, pengendalian diri, dan keikhlasan (sebagai bentuk keteguhan psikis) dalam menjalani tugas panggilan sebagai ibu yang sungguh berat itulah yang menjadi energi dalam menyongsong harapan terbaik kelak.

Seperti Maria ketika mendapat panggilan ilahi untuk mengandung bayi Yesus. Dia menerima tugas iman itu secara ikhlas. Tidak memberontak, sekalipun lingkungan sosial mencemooh/menolak. Bahkan, Yusuf, tunangannya itu, meski (akhirnya) tidak terwujud, secara diam-diam hendak menceraikannya. Tetapi, Maria menghadapi kenyataan itu dengan sabar. Beban moral yang menghimpit tidak menyurutkan ketahanan mentalnya dalam ”mengandung” selama berbulan-bulan. Maria menjalani proses itu secara alamiah, namun berserah kepada Sang Kudus sampai tibanya Natal, kelahiran Yesus Kristus.

Maria, juga ibu-ibu (konteks zaman sekarang), menurut saya, memiliki daya juang yang luar biasa dalam memerangi keegoisan diri. Bisa saja ibu mengabaikan sebagian aktivitas dari yang seabrek itu. Memilih yang ringan-ringan saja. Atau hanya memilih tugas kodratinya, misalnya, hamil, melayani suami, dan memasak. Tugas-tugas yang dalam perhitungan berat, disisihkan, lantas diberikan kepada ayah. Ternyata tidak. Meskipun masyarakat telah (telanjur) melekatkan label pada wanita (baca: ibu) sebagai makhluk yang lemah, lembut, dan lambat dalam bertindak ketimbang laki-laki (baca: ayah), tetapi faktanya ibu memiliki akses yang relatif luas dan berat dalam beraktivitas. Selamat Hari Ibu!

1 komentar:

  1. Selamat merayakan Hari Ibu dan mempersiapkan hati untuk Natal, Pak...

    BalasHapus

""