Senin, 13 Desember 2010

Hilang, Pos Ronda sebagai Simbol Keakraban

Hilang, Pos Ronda sebagai Simbol Keakraban

Akhir-akhir ini, sekalipun pos ronda di desa dibangun untuk ruang publik, segi kemanfaatannya dalam membangun kebersamaan, keakraban, dan silahturahmi mulai berkurang. Sebab, jarang ada peronda yang memanfaatkan pos ronda itu sebagai tempat istirahat bersama sembari santai berbincang-bincang sebelum atau sesudah meronda. Di kampung saya, pos ronda bahkan sekadar dilewati saja oleh sebagian besar kelompok peronda setelah berkeliling mengambil jimpitan.

Uniknya, kini, banyak pos ronda yang dipasang pesawat televisi. Tentu harapannya para peronda betah berada di pos ronda. Tidak segera pulang sebelum malam. Tetapi, toh meski begitu kurang efektif. Karena, kini, hampir setiap keluarga memiliki pesawat televisi. Orang tentu lebih nyaman melihat tayangan televisi di rumah masing-masing. Akibatnya, tetap saja pos ronda sepi. Tetapi, pos-pos ronda yang dipasang televisi masih lebih untung karena meski tidak sering, tapi masih pernah dikunjungi warga dibanding dengan pos-pos ronda, yang menurut pengamatan saya, di beberapa tempat, malah tidak terurus sama sekali. Akhirnya, terlihat rusak parah.

Pos ronda, yang sebenarnya sebagai simbol kebersamaan, keakraban, dan kekeluargaan warga kampung, kini, telah jauh dari simbol-simbol yang adi luhung (mulia) itu. Sulit ditemukan lagi warga kampung yang berkumpul di pos ronda. Yang artinya tak ada lagi aktivitas sosial nonformal dalam membangun komunikasi antarwarga dilihat di sana. Seperti misalnya, antarwarga sembari meronda berbicara (curhat) mengenai tanaman, hasil panen, pupuk, obat hama, dan sebagainya. Atau mungkin berbicara hal lain terkait dengan problem-problem keluarga, persoalan pendidikan anak, mencari pekerjaan, memperluas usaha, dan sebagainya dan sebagainya. Jadi, pos ronda benar-benar telah kehilangan rohnya sebagai wahana diskusi sosial antarwarga.

Apalagi pos ronda yang berada di kota, yang dibangun lebih bersifat tertutup karena lazimnya diperuntukkan satpam yang berjaga. Sulit rasanya menjumpai pos ronda di kota yang berfungsi sebagai ruang publik karena memang orang kota lebih nyaman memanfaatkan jasa satpam demi keamanan. Mereka tidak perlu susah-susah ronda malam. Hanya dengan cukup mengganti jaga malam itu dengan lembaran uang. Semua sudah beres. Mereka dapat beristirahat malam dengan nyenyak. Esoknya segar, lantas kembali sibuk bekerja. Tanpa ada kekhawatiran kalau-kalau rumahnya disatroni pencuri. Bahkan, karena satpam di pos ronda selalu siap menjaga keamanan lingkungan, warga kota jarang atau bahkan tak pernah kumpul bareng di pos ronda, misalnya. Pos ronda di kota dengan demikian jauh dari nilai-nilai kebersamaan, kekerabatan, kekeluargaan, dan silahturahmi.
Padahal, dulu, pos ronda (kami sekampung menyebutnya ”rondan”) terutama yang berada di desa dapat dipakai sebagai pusat kegiatan warga. Di samping untuk pos ronda malam, juga dimanfaatkan sebagai, misalnya, pos pelayanan terpadu (posyandu), tempat mengumpulkan warga untuk bekerja bakti, kegiatan tujubelasan, kegiatan rukun tetangga (RT), arena anak bermain, bahkan karena sebagai pusat kegiatan warga, (akhirnya) ada juga yang memanfaatkannya sebagai sumber mengais rezeki lewat berjualan. Oleh karena itu, barangkali kini tidak hanya saya yang merindukan roh keakraban sosial lewat pos ronda itu hidup kembali.

4 komentar:

  1. Di tempat saya sama, Pak (kamling gak jalan).
    Kemarin malam habis rapat RT membahas itu.

    BalasHapus
  2. jadi ingat waktu kecil, pos ronda memang seperti itu, jadi tempat banyak kegiatan, pos ronda selalu bersih dan nyaman di tempati

    BalasHapus
  3. saat ini hilangnya post ronda ngak salah juga sebagai tanda nya hilang simbol kedekatan, namun yang juga pasangannya hilangnya gotong royong kerja bakti tiap pekan. bukan kah dulu sering diadakan?

    BalasHapus
  4. Tapi kupikir kita memang harus realistis juga bahwa tuntutan jaman yang semakin mencekik leher membuat kita harus bekerja sejak pagi hari di sektor formal sehingga hal ini tentu tidak memungkinkan bagi mereka untuk ber-ronda hingga subuh misalnya.

    Beda dengan dulu, orang banyak bekerja di sektor agraris yang bisa dikerjakan ketika hari menjelang siang atau setidaknya karena wiraswasta, orang bisa memilih jadwal libur disesuaikan dengan jadwal rondanya, Pak...

    BalasHapus

""