Jumat, 24 Desember 2010

Kerendahan Hati







Kerendahan Hati

Sering orang yang berhasil menciptakan sesuatu, sesuatu itu diakuinya dengan berbagai upaya sehingga orang lain tidak dapat mengklaim. Mengapa demikian? Karena, umumnya orang ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Mendapatkan pujian dari pihak lain. Mendapatkan penghargaan dari luar. Tentu hal itu sangat membanggakan, bukan? Apalagi jika sesuatu yang dicipta itu akhirnya menghasilkan profit, yang membawa hidup semakin sejahtera. Tentu diupayakan dicarikan perlindungan, yang akhirnya diperoleh brand sendiri.

Dengan begitu orang/pihak lain tidak akan bisa mengaklaim. Orang/pihak lain hanya dapat mengakui bahwa sesuatu itu telah ada pemiliknya secara sah. Dengan demikian, orang/pihak lain tidak berani menggunakan secara sembarangan, lebih-lebih untuk mencari keuntungan sendiri/kelompok. Sebab, jika memaksakan diri, berarti tindakan itu ilegal. Konsekuensinya ada jalur hukum yang telah menanti di depan.

Di samping itu, ada konsekuensi sosial yang dapat semakin memperpuruk keberadaan diri. Orang barangkali akan mengecap bahwa orang/pihak yang berlaku ilegal sebagai sampah masyarakat. Sehingga bukan tidak mungkin akan dikucilkan masyarakat. Dan, ini umumnya akan dirasakan tidak hanya oleh orang/pihak yang bersangkutan, tetapi kerabatnya dan keturunannya. Ini tentu sebagai sanksi sosial yang sangat memilukan, sebagai sanksi warisan.

Ketika banyak orang/pihak memintakan perlindungan secara hukum terhadap sesuatu yang diciptakan agar tidak diklaim orang/pihak lain sebagai miliknya, saya justru menemukan sesuatu yang menarik dari puisi yang ditulis anak kami yang sulung. Puisi itu tampaknya sebagai hadiah di Hari Ibu bagi ibunya. Puisi yang saya maksud, sebagai berikut.
Happy Mother Day
Untuk Ibuku

Mom, saat ini tiba waktunya
Untuk meminta maaf padamu
Saat ini aku teringat saat engkau berjuang
Untuk melahirkan, hingga menjadi seorang bayi yang mulia

Kau telah besarkan aku
Sampai aku seperti ini
Dalam waktu-waktu yang telah berlalu
Aku pernah melakukan kesalahan padamu
Menyakiti hatimu, hingga membuat engkau menangis karena ulahku

Ibu... tersirat di benakku ’tuk memberimu
Hadiah yang sepadan dengan kasih sayangmu itu...
Namun aku tak dapat mewujudkannya
Aku yakin dan berjanji pada waktunya aku akan membahagiakanmu

Terima kasih Ibu
Doamu selalu menyinari langkahku selamanya
yeye dan sasa

Menarik, karena si sulung, yang telah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) kelas VII itu, tidak mau mengklaim secara pribadi karya ciptanya. Buktinya, di bagian bawah kiri dituliskan dua nama, yakni yeye dan sasa. Yeye panggilan si sulung, sedangkan sasa panggilan si bungsu yang masih berumur tiga tahun. Saya mengerti benar bahwa si sulung memang agak pintar menuliskan kata-kata indah, serupa puisi. Dan, saya juga mengerti benar bahwa si bungsu belum dapat menulis sekali pun satu kata bermakna secara sadar.

Barangkali dengan mencantumkan dua nama, yeye dan sasa, si sulung menginginkan ketika ibunya membaca puisi itu, dirinya dan adiknya agar dipahami telah memberikan perhatian yang sama. Kedua anak memiliki kualitas perhatian yang sama terhadap ibunya. Si sulung tidak menunjukkan keegoisannya. Dia begitu terbuka menerima adiknya untuk turut mengakui bahwa puisi yang ditulis itu tidak hanya miliknya, tetapi milik berdua.

Saya berpikir bahwa di situlah terkandung sikap rendah hati. Kerendahan hati, yang berarti sangat terbuka bagi orang/pihak lain dalam ”hal tertentu”, sekali lagi dalam ”hal tertentu”, ternyata, dapat membangun perasaan damai seperti yang dirasakan oleh isteri saya ketika membaca puisi itu.

3 komentar:

  1. Selamat Hari Ibu, Mas....
    "kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa..."

    BalasHapus
  2. wilujeng Natal Pak
    salam untuk seluruh keluarga, juga si kecil

    BalasHapus
  3. sikap rendah hati yang layak dicontoh, pak. sungguh kontras dengan fenomena belakangan ini yang gampang mengklaim karya orang lain sbg karya pribadinya.

    BalasHapus

""