Jumat, 31 Desember 2010

Momen Tahun Baru, Membangun Keakraban


Momen Tahun Baru, Membangun Keakraban

Sudah sejak lama di lingkungan seputar tempat tinggal saya diadakan acara kumpul-kumpul di malam hari menyongsong tibanya tahun baru. Beberapa keluarga mengkoordinasi acara tersebut. Dari beberapa keluarga itu secara ikhlas beriur, yang uangnya kemudian dikelola oleh ibu-ibu. Ibu-ibu lantas membelanjakan uang itu untuk beberapa bahan pokok untuk hidangan. Ibu-ibu juga yang memasak hidangan tersebut. Umumnya ada hidangan makan besar dan makan ringan.

Sementara itu, bapak-bapak mempersiapkan tempat. Dua tahun terakhir, kami memanfaatkan garasi rumah salah satu tetangga untuk tempat acara kumpul-kumpul sekaligus menaruh hidangan. Hanya karena diperkirakan tempatnya kurang luas, tetangga kami yang ketempatan kala itu mendirikan tarub/tenda yang tersambung dengan garasi di halaman rumahnya. Kali ini tidak lagi memasang tarub karena halaman rumah tetangga yang ketempatan telah dipasang kanopi. Bapak-bapak (tentunya) tinggal menggelar tikar dan menata kursi-kursi.

Acara yang selalu dimulai pukul 19.30 WIB itu seperti direncanakan tahun ini, diupayakan dapat merengkuh beberapa keluarga yang dekat dengan tempat diadakannya acara. Beberapa keluarga itu berasal dari latar belakang berbeda, baik pekerjaan, pendidikan, sosial-ekonomi, maupun agama. Diadakannya acara itu memang salah satunya adalah untuk memperakrab hubungan di antara kami. Meskipun berbeda latar belakang, kami berhasrat untuk terus membangun keakraban. Momen tahun baru memang dimanfaatkan karena saat-saat itu diyakini lebih memantapkan hati menghayati keberlangsungan hidup yang telah terlewati. Sehingga, terbangun tingkat introspeksi diri dan kolektif yang lebih mendalam.

Itulah sebabnya, sebagai rasa syukur kepeda Tuhan atas penyertaan dalam keberlangsungan hidup yang telah terlewati, hidangan yang disajikan dipahami sebagai bentuk syukur itu, di samping doa yang dipanjatkan di awal acara. Hidangan yang tidak hanya dinikmati oleh keluarga yang mengkoordinasi, tetapi keluarga lain itu dipahami (juga) sebagai bentuk bagi-bagi berkat/syukur kepada sesama. Sementara itu, introspeksi diri dan kolektif menjadi modal memasuki tahun baru dengan mantap dan penuh harapan. Harapan untuk lebih baik dari tahun kemarin, baik secara lahir maupun batin.

Acara kumpul-kumpul itu menjadi ajang berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Anak-anak dapat bersenda-gurau. Ibu-ibu berbicara tentang anak-anaknya, peran ibu dalam keluarga, mendidik anak, cara memasak, dan tentu juga gojegan/guyonan sebagai hiburan murah meriah yang merakyat. Bapak-bapak menyoal tentang pekerjaan, isteri, anak, prospek di tahun depan, sharring tentang aktivitas kerja yang telah dilewati, keramaian malam tahun baru, dan sebagainya.


Hanya memang lek-lekannya tidak diikuti oleh ibu-ibu dan anak-anak. Ibu-ibu dan anak-anak umumnya lebih dulu meninggalkan lokasi acara. Yang meneruskan lek-lekan hingga tiba waktunya pergantian tahun baru umumnya hanya bapak-bapak. Saya yakin, malam tahun baru di seputar tempat tinggal kami ini nanti tentu diisi dengan hal-hal yang tak jauh berbeda dengan yang terbicarakan di malam tahun baru yang dulu. Yang berbeda barangkali adalah menu masakan ibu-ibu, yang kali ini ada ikan gurami masak acar. Ah, tentu saja sangat lezat!

2 komentar:

  1. wah ini perlu ditiru dilingkungan kami pak, saya semula juga punya rencana seperti ini, tapi karena di tunjuk menjadi panitia wayangan, ya harus tetap semangat...semoga sukses pak acaranya

    BalasHapus
  2. pergantian tahun di kampung saya sepi, pak, lebih banyak nonton TV di rumah masing2, hehe .... selamat tahun baru, semoga makin tambah sukses.

    BalasHapus

""