Rabu, 15 Desember 2010

SMP 1 Jati Kudus Kumpulkan Beras Kemanusiaan


SMP 1 Jati Kudus Kumpulkan Beras Kemanusiaan

Korban hidup letusan Merapi hingga kini belum pulih seperti sedia kala. Meskipun telah ada yang kembali ke tempat asal, tetapi kebanyakan di antara mereka belum dapat melakukan aktivitas rutin sehari-hari secara wajar. Wajar jika kemudian beberapa publikasi media akhir-akhir ini memuat berita tentang keprihatinan hidup mereka. Karena belum dapat bekerja maksimal itu, kebutuhan sehari-hari belum dapat tercukupi. Intinya, mereka kekurangan bahan logistik. Kebutuhan pokok sehari-hari, seperti beras, gula, dan minyak (saja), masih jauh dari cukup.

Bahkan, menurut beberapa sumber media, keberadaan hidup mereka yang hingga kini (masih) berada di pengungsian jauh lebih baik daripada yang telah berada di kampung asal. Karena, hidup di penampungan/pengungsian, kebutuhan logistiknya lebih terjamin. Keadaan mereka mudah dikontrol sehingga ketika dijumpai kekurangan-kekurangan cepat dapat ditangani.

Mudah ditangani karena jika di pengungsian, korban hidup letusan Merapi terkonsentrasi, berada pada tempat tertentu, tidak berpencar. Sementara mereka yang telah kembali ke rumah agak sulit terkontrol karena berpencar sehingga adanya kekurangan-kekurangan kurang mudah ditangani.

Itulah sebabnya, siswa dan guru SMP 1 Jati Kudus, Jawa Tengah (Jateng) mengumpulkan beras untuk disalurkan ke masyarakat korban Merapi, dari rumah ke rumah. Hingga berita ini ditulis, beras telah terkumpul mendekati satu ton. Beras sejumlah itu sebagai bentuk kepedulian siswa, yang rata-rata per siswa menyumbangkan satu kilogram (kg) dan gurunya masing-masing lima kg. Oleh organisasi siswa intra sekolah (OSIS), beras dimasukkan ke kantong-kantong plastik setiap plastiknya berisi lima kg. Rencana beras itu akan disalurkan sendiri kepada yang berhak di seputar Merapi oleh sekolah.

Yang pasti gerakan kemanusiaan itu akan melibatkan banyak guru dan siswa. Meski begitu, tidak mungkin semua siswa ikut terjun ke lokasi. Tapi, ditunjuk beberapa siswa yang dipandang mampu baik secara fisik maupun mental. Karena tentu terjun ke lokasi korban Merapi tidak boleh dibayangkan seperti ketika hendak berekreasi. Sangat dibutuhkan kekuatan fisik dan mental dalam memberi pertolongan kepada korban. Mereka akan menghadapi lokasi yang tentu tidak mudah dijangkau. Mereka harus memiliki kesabaran dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Di sinilah sebetulnya nilai kehidupan yang dapat dipetik oleh siswa, terutama yang mewakili terjun ke lokasi.

Namun, bukan berarti siswa yang tidak ikut terjun ke lokasi tidak dapat memetik nilai-nilai kehidupan. Mereka dapat memetik nilai-nilai kehidupan itu lewat kepeduliannya membagikan sebagian miliknya kepada korban. Seakan beras sejumlah satu kg itu kurang memiliki arti, tetapi sejatinya sungguh berarti bagi yang membutuhkan. Turut merasakan beban penderitaan orang lain merupakan pembelajaran yang penting bagi pertumbuhan karakter siswa.

3 komentar:

  1. Kegiatan bagus untuk mendidik anak suka berempati, Pak. Di sekolah saya juga belum lama menggalang dana peduli bencana merapi.

    BalasHapus
  2. mensuportnya
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  3. salut dengan acaranya, pak. relevan dengan pendidikan karakter yang tengah digalakkan. semoga anak2 bisa belajar bagaimana berempati terhadap sesamanya.

    BalasHapus

""