Jumat, 03 Desember 2010

Syukur, Beberapa Lembaga Usaha Mulai Melek Bahasa Indonesia yang Benar


Syukur, Beberapa Lembaga Usaha Mulai Melek Bahasa Indonesia yang Benar

Beberapa tahun terakhir ini pemakaian bahasa Indonesia yang benar oleh lembaga usaha mulai diperhatikan. Perhatian itu diwujudkan dalam bentuk peduli, misalnya, mengganti ejaan yang salah dengan yang benar. Terutama terlihat pada penulisan bentuk kata pada papan yang dipasang di pinggir-pinggir jalan, di depan rumah, atau di dekat tempat usaha sebagai tanda penunjuk/pemberitahuan bagi publik.

Misalnya, kini, telah banyak kita jumpai plang-plang yang bertulisan praktik, apotek; bukan praktek, apotik. Di beberapa tempat dokter memberi pelayanan terhadap pasien di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), misalnya, terpampang papan bertulisan praktik dokter. Demikian juga di beberapa tempat pelayanan pembelian obat, misalnya, dapat dijumpai papan bertulisan Apotek Sehat Prima, Apotek Kusuma Bangsa, dan Apotek Kroden. Semoga hal serupa terjadi juga di tempat/daerah lain.

Sebab, bentuk penulisan yang benar (seperti) itu, disadari atau tidak, telah turut mendidik masyarakat menggunakan bahasa Indonesia secara benar. Jelas hal itu sangat membantu (juga) pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Para siswa tidak dihadapkan pada dua fakta bahasa yang berbeda, yang sangat mungkin membuat mereka tidak memiliki pendirian dalam menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena ada kesamaan, para siswa menjadi lebih terarah dalam belajar bahasa Indonesia, dalam hal penulisan sebuah kata, misalnya.

Sayang pembelajaran bahasa Indonesia sejenis itu di tengah-tengah masyarakat, belum banyak tersentuh. Artinya, masih banyak bagian yang terabaikan, termasuk terabaikannya seruan pemerintah untuk mengganti nama-nama lembaga usaha yang menggunakan bahasa asing dengan bahasa Indonesia. Terbukti hingga kini masih banyak ditemukan lembaga-lembaga usaha dengan plang nama berbahasa asing.

Di samping itu, fakta menunjukkan bahwa orang masih lebih banyak yang melafalkan/mengucapkan kata-kata, misalnya, apotek dan praktik dengan lafal apotik dan parktek. Jika dari sisi ejaan telah benar, tetapi dari sisi lafal kurang benar, pada ujung-ujungnya juga salah alias tidak benar. Mengubah kebiasaan lama ternyata begitu sulit, meskipun tahu (kalau tidak diubah) hal itu salah. Bahkan, karena telah terbiasa, barangkali orang merasa malu ketika hendak mengucapkan sedikit berbeda dari yang biasanya. Jangan-jangan malah dianggap aneh.


Meskipun begitu, lembaga-lembaga usaha yang telah mulai menghargai penggunaan bahasa Indonesia secara benar di tengah-tengah masyarakat itu perlu diapresiasi. Bahkan, penting kiranya pemerintah (baca: lembaga yang berwenang) memberi motivasi dan penyuluhan tentang pemakaian bahasa Indonesia yang benar kepada lembaga-lembaga usaha lainnya. Dengan begitu lambat laun semakin banyak lembaga usaha yang melek bahasa Indonesia yang benar. Semoga.

6 komentar:

  1. yg lain semoga nyusul menggunakan bahasa ibu yang baik dan benar

    BalasHapus
  2. aku suka malu jika main kesini terlalu menarik setiap apa yg abang postingkan
    salam persahabatan

    BalasHapus
  3. betul banget, pak, langkah2 positif seperti ini memang layak diapresiasi. semoga makin banyak lembaga lain yang mengikuti jejaknya.

    BalasHapus
  4. salam hangat dari blue
    selalu menarok

    BalasHapus
  5. a great opportunity to visit your site, because I know many much about this site

    BalasHapus
  6. saat pelajaran Bahasa Indonesia, saya menerapkan kepada siswa saya yang menulis surat izin, jika ditemukan lebih dari 5 kesalahan, saya mencatat sebagai "alfa". saya menganjurkan kepada siswa saya agar menjadi corong kebenaran dikeluarganya

    BalasHapus

""