Minggu, 09 Januari 2011

Belajar Menerima


Belajar Menerima

Berbagai faktor dapat mempengaruhi seseorang tidak mau menerima keadaan yang (sebenarnya) ada. Bisa karena faktor intern, bisa ekstern. Rasa malu dan gengsi diri, misalnya, termasuk faktor intern. Sedangkan diejek dan diprovokasi termasuk faktor ekstern. Kedua faktor itu, disadari atau tidak, membelenggu kebebasan. Menyiksa batin, barangkali. Yang, pada akhirnya membunuh karakter.

Itu yang sepertinya pernah menimpa anak kami yang pertama beberapa waktu lalu. Fakta itu sangat kentara ketika awal memasuki bangku SMP. Ia terlihat amat alergi kalau saya ajak naik Vespa 1986 ketika berangkat sekolah. Meski pada suatu pagi ia terlihat sukacita ingin berangkat bersama saya, tetapi ketika saya (hanya) baru berkata bahwa saya akan mengendarai Vespa, wajahnya berubah menjadi buram seburam cermin yang lama tak pernah tersentuh oleh lap basah. Sangat jelak dan (saya katakan dengan jujur) memuakkan. Juga tampak lemah, tak bersemangat.

Tetapi sebaliknya, jika ia hendak berangkat sekolah bersama saya dan saya kebetulan naik Honda 125, wajahnya terlihat sumringah. Cahaya ceria di raut mukanya begitu benderang. Menggambarkan kegembiraan. Tampak tidak berbeban sama sekali.

Kepribadian yang mencuat dari diri si sulung itulah yang kala itu membuat gundah benak saya, meski sesaat. Sesaat, karena setelah saya renungkan, bisa saja kepribadian begitu terjadi pada siapa pun, lebih-lebih pada anak yang memasuki masa remaja. Saya menyadarinya kemudian. Apalagi jika saya mengingat-ingat pengalaman yang telah berlalu, ternyata tak sedikit orang dewasa yang (juga) mengalami kepribadian seperti yang dialami anak kami itu. Ini yang agak menguraikan kegundahan benak saya itu.

Saya lantas membiarkannya saja terus berjalan. Karena saya kemudian berkeyakinan bahwa proses keberlangsungan dalam masa-masa yang akan dilewatinya yang (akan) memberikan pembelajaran yang lebih menyentuh. Apa yang saya yakini ternyata benar. Pasalnya, hal menakjubkan terjadi memasuki minggu-minggu awal ia menjadi pelajar SMP. Sebab, boleh jadi karena ia melihat ada banyak teman sekolah yang (ternyata) menaiki sepeda angin yang keberadaannya jauh lebih buruk ketimbang sepeda angin yang dimiliki, batinnya tak lagi tampak terbeban. Ia mulai mau menerima jengki yang sejak SD kelas 4 dipakainya ke sekolah itu. Kecintaannya pada jengki biru itu dinikmatinya hingga kini.

Padahal, ketika ia kali pertama mau masuk SMP, sepeda angin yang menemaninya sejak kelas 4 SD itu tak diacuhkannya. Ia bermaksud menyuruh kami membelikan sepeda baru, seperti yang dialami teman-teman SD-nya. Karena, katanya, kebanyakan dari mereka dibelikan sepeda angin yang baru oleh orang tuanya.


Hal yang Sungguh menggembirakan saya adalah sejarah kesadarannya itu (ternyata) terlihat semakin bertambah. Buktinya, Vespa yang sering saya kendarai ketika berangkat dan pulang mengajar di SMP, tempat anak kami bersekolah itu, kini pun diterimanya (juga) dengan sukacita. Saya melihat ia mulai merasa nyaman berangkat/pulang sekolah bersama saya sekalipun naik Vespa, meski baru beberapa kali. Padahal, di awal tulisan ini telah saya singgung, ia amat alergi dengan Vespa. Wajah yang dulu cemberut karena menolak saya ajak naik Vespa, kini berbinar ramah menyapa setiap teman yang dijumpainya dari atas sadel vespa di sepanjang perjalanan pergi/pulang sekolah.

5 komentar:

  1. Kunjungan pertama.

    Salam kenal dari Solo

    BalasHapus
  2. Selamat Natal dan Tahun baru dulu Pak!

    BalasHapus
  3. emang terkadang sulit untuk menerima segala sesuatu yang memang tidak kita suka.....hmmm....
    tapi, setelah membaca artikel ini....rasanya saya jadi banyak belajar....

    terimakasih banyak..

    BalasHapus
  4. Sebuah cara mendidik anak yang patut diacungi jempol, Pak.

    BalasHapus

""