Sabtu, 15 Januari 2011

Membangun Benak Anak


Membangun Benak Anak

Ada kalanya orang tua sedang terbelit persoalan. Yang, sering menuntut adanya konsentrasi utuh terhadap persoalan itu. Hal-hal lain di luar persoalan itu kemudian menjadi agak terabaikan. Bahkan, tak jarang dijumpai, komunikasi dalam keluarga (akhirnya) agak terganggu. Komunikasi dengan anak, misalnya, yang biasanya terlihat manis, tapi karena ada persoalan itu, kemesraannya mulai menghilang. Dampaknya barangkali perasaan anak agak kurang ”nyaman”.

Akan tetapi, tak jarang kondisi itu bisa jadi awalnya disebabkan oleh sikap anak sendiri. Karena mencari sesuatu tak kunjung ditemukan, misalnya, lantas bersikap kurang baik. Sikap kurang baik itu, bisa berupa berkata-kata keras, tidak seperti biasanya; atau karena saking bencinya membanting barang ini-itu, yang muaranya menimbulkan suara gaduh. Mendengar kegaduhan dan melihat sikap tak seperti biasanya, orang tua sering ”terpancing” emosinya apalagi jika orang tua sedang diburu waktu oleh karena kesibukan. Dan, bukan tidak mungkin kemudian orang tua marah. Meskipun marahnya sebatas verbal, psikologi anak tetap saja terganggu.

Inilah yang saya rekam tadi pagi ketika kami hendak meninggalkan rumah, anak kami (si sulung) ke sekolah, sedangkan kami bekerja. Awalnya, si sulung mencari kaus kaki bersih karena (barangkali) kaus kaki yang kemarin sudah kotor. Beberapa waktu ia mencari benda yang dimaksud di ember tempat pakaian kering habis dicuci sebelum diseterika. Tetapi, tampaknya tidak segera dapat ditemukan. Lantas mulai muncul suara-suara agak bernada ketus. Mendengar itu, ibunya lantas menanggapi dengan agak keras juga. Kenapa kaus kaki tidak dipersiapkan sejak sore atau malam? Mencarinya kok malah pagi hari menjelang berangkat sekolah? Dan sebagainya dan sebagainya.

Kami memang sering mengingatkan/menasihati si sulung untuk tertib diri. Saya katakan sering, karena dalam satu hal, misalnya, telah diberitahu yang seharusnya dan ia mengatakan siap/ya, tetapi fakta yang terjadi sering diabaikan. Kaus kaki harus disiapkan sejak sore/malam hari, sepatu ditaruh di tempat yang seharusnya, kunci rumah ditempatkan di tempat biasanya. Ternyata tidak selalu kesepakatan itu dapat dipenuhi. Saya yakin, sikap diri si sulung yang demikian ini yang tentu kurang disukai oleh ibunya.

Akan tetapi, saya pun juga kurang suka jika kemudian karena hal seperti itu, emosi orang tua kurang terkendali. Karenanya, ketika dalam perjalanan berangkat kerja berboncengan naik motor, saya mengingatkan kepada isteri saya bahwa peristiwa yang terjadi tadi kurang baik. Bukan perihal menanggapinya yang agak keras itu. Tetapi, saya melihat dari sisi waktu yang kurang baik. Kurang baik karena mestinya benak anak harus dijaga agar dalam keadaan ”nyaman” ketika hendak berangkat sekolah. Sebab, kenyamanan benak anak yang dibangun (sejak) dari rumah, saya yakini sangat berpengaruh besar terhadap kesiapan anak dalam menerima pelajaran di sekolah.


Itu artinya kalau benak anak kurang ”nyaman” sejak dari rumah, dapat dipastikan akan mengalami ”gangguan” dalam menerima pelajaran di sekolah. Anak tidak akan dapat konsentrasi secara penuh karena dalam pikiran dan perasaannya masih digelayuti persoalan yang (tadi) terjadi di rumah. Dan itu akan sangat mengganggu dalam belajar. Maka, penting kiranya senantiasa membangun benak anak, lebih-lebih saat hendak belajar, baik di rumah maupun sekolah. Ini tentu tidak hanya sebatas dibutuhkan peran orang tua, tetapi lingkungan pun (harus) turut berkontribusi. Bagaimana?

3 komentar:

  1. bener sekali, pak. utk meningkatkan rasa percaya diri anak, ketika berangkat sekolah, memang harus selalu berada dalam keadaan nyaman dan ceria.

    BalasHapus
  2. bangun sejak ini sama dengan mencegah kebiasaan buruk di masa mendatang. kalo udah gede susah ngaturnya. biar ga kayak saya misalnya, suka nyontek. :P

    BalasHapus
  3. Wah..ini bisa menjadi bekal saya jika sudah berkeluarga nanti, Mas...
    terimakasih banyak..

    BalasHapus

""