Rabu, 19 Januari 2011

Mudahnya Kredit Motor, Sulitnya Maman Hidup Sejahtera


Mudahnya Kredit Motor, Sulitnya Maman Hidup Sejahtera

Beberapa tahun terakhir ini, kredit motor begitu mudah. Dengan (hanya) sejumlah ratusan ribu rupiah, tidak sampai jutaan rupiah, orang sudah dapat membawa motor dari dealer motor. Tidak melihat motor merek apa. Hampir semua merek motor menawarkan cara secara bersaing untuk dapat meraih konsumen sebanyak-banyaknya. Salah satu cara yang ditempuh dealer, yang kini sungguh mengena dalan benak calon konsumen, adalah memasang tarif uang muka yang relatif rendah. Sisanya dibayar secara mengangsur.

Apalagi cara ini (sepertinya) sangat sesuai dengan karakter masyarakat kita, yang memang lebih menyukai kredit. Bahkan dirasa kredit telah menjadi budaya hidup. Dari hal yang bernilai kecil hingga yang bernilai besar, umumnya diselesaikan dengan cara kredit. Di sisi lain masyarakat kita memang belum memiliki kemampuan membeli secara cash oleh karena pendapatan masih rendah. Pendapatan, rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Tetapi, kalau toh (ini yang sebagian kecil warga) ada yang mengingini membeli secara kontan, lebih sering kurang direspon secara baik oleh dealer. Dengan berbagai alasan, dealer (seolah) mengarahkan calon konsumen memperoleh secara kredit. Sebab, meski kredit rentang waktunya lama, tetapi nilai akhirnya lebih menguntungkan secara finansial.

Karena kredit (terlebih dengan uang muka rendah) terjangkau semua kalangan, fakta yang dijumpai dalam masyarakat adalah hampir setiap keluarga memiliki motor. Motor tidak lagi menjadi barang mewah. Setiap tangan warga (bangsa), baik yang berekonomi tinggi, sedang, maupun rendah mengendarai motor. Motor telah menjadi sahabat harian masyarakat. Ke mana-mana masyarakat senantiasa menaiki motor. Jarang menaiki kendaraan umum. Sehingga, sering terjadi kemacetan arus lalu lintas oleh karena membludaknya motor di jalanan.

Namun, dampak yang sungguh serius terkait dengan keberlangsungan hajat hidup dirasakan oleh tukang becak. Hal itu diakui oleh Maman (bukan nama sebenarnya), seorang tukang becak yang sering mangkal di depan rental handphone (HP) Wido, Jalan Tit Sudono, Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Maman mengatakan bahwa sejak orang (begitu) mudah memiliki motor, jasa becaknya jarang dimanfaatkan penumpang. Pendapatannya jadi menurun drastis. Sehari mendapat lima belas ribu rupiah saja sudah untung. Bahkan, tak jarang, kini, seharian tidak mendapat sepeser pun. Untung, Maman, yang aslinya Purwodadi, Jateng, itu tidak sewa kamar untuk tidur.

Maman tidur di lahan penjualan bunga sekitar gedung olahraga (GOR) Wergu, Kudus. Ada gubugnya yang bisa untuk tidur. Pemilik lahan penjualan bunga menerima Maman karena justru dapat diajak jaga tanaman (hias) bunga malam hari. Maman, yang meninggalkan isterinya di desa itu sangat bersyukur karena tidak membayar. Kadang Maman malah diberi uang rokok dan jajan. Tapi sayang, usaha bunga akhir-akhir ini semakin sepi. Sehingga Maman pun merasakan akibatnya. Menerima uang rokok dan jajan tidak seperti dulu, sepi sesepi penumpang becaknya.

Itulah sebabnya, Maman pulang ke desa, tidak rutin seminggu sekali seperti dulu. Kini, Maman pulang untuk berkumpul dengan keluarga bisa dua minggu sekali, bahkan bisa sampai sebulan sekali. Tergantung pendapatan. Maman masih beruntung karena kedua anaknya sudah menikah. Jadi, Maman hanya menanggung hidup isterinya. ”Yen nalika bocah-bocah isih sekolah kaya ngene kahanane, berat Mas,” celetuk Maman. (kalau ketika anak-anak masih sekolah seperti begini keadaannya, berat Mas).

Duka karena desakan modernitas itu ternyata dirasakan juga oleh sopir angkutan. Maman bersaksi bahwa nasibnya senasib sopir angkutan. Angkutan sering kosong, tak ada penumpangnya. Miris karena angkutan bisa berjalan jika ada bensinnya. Nah, kalau tidak ada penumpang dari mana mendapat uang untuk membeli bensin. Dengan demikian, jelas bahwa membludaknya motor karena begitu mudah (cara) memperolehnya dapat merampas kesejahteraan hidup sebagian warga bangsa ini. Fakta ini, saya yakini tidak hanya terjadi di Kudus, tetapi terjadi di seluruh pelosok tanah air tercinta ini. Jadi, ada banyak Maman dan sopir angkutan yang bernasib sama, yaitu terampas hidup sejahteranya.

6 komentar:

  1. iya ya pak, baru sadar kalau barang-barang di rumah hasil saya kredit, kecuaaali isteri.. tunai pak

    BalasHapus
  2. Wah di tempat saya makin gila lagi, Pak. Setiap ada model baru, pasti gak lama kemudian dah banyak yang pakai.

    BalasHapus
  3. Menyedihkan ya pak potret kehidupan yang hadir di tulisan ini.
    Pemerintah memang harusnya mengatur tata cara niaga sampe sedetail bagaimana orang harusnya mengkredit motor itu.

    Kalo tidak, sepertnya tak hanya Pak Maman, akan ada banyak sopir dan kernet angkot yang nganggur, jalanan smakin macet.. dan banyak lagi dampak tak baik lainnya.

    BalasHapus
  4. sama kayak nasib dokar di Bali..:(

    BalasHapus
  5. cocok pak, sakmenika pancen keadaane mekaten, diupayakan supaya kaum kapitalis dapat menguasai dunia

    BalasHapus
  6. itulah ironi yang terjadi di negeri ini, pak. kredit motor dan mobil begitu mudah, tapi ternyata masih banyak jutaan saudara kita yang hidup dalam himpitan dan deraan ekonomi yang tak kunjung usai.

    BalasHapus

""