Jumat, 28 Januari 2011

Pencarianku, 1

Pencarianku, 1


Menyerah Diri

Hanya pada kedalaman subuh-Mu
Kubasuh altar buat bersujud
Melafalkan hari-hari yang jatuh
berguguran
Dari kengiluan reranting
nurani
Agar lonceng di dada ini
Selalu mengetuk tabir pintu-Mu
Meraut diri di riak muara
ampunan-Mu
1997


Becermin

Sebab air itu jernih,
Kubasuh hatiku
Pada pusat riak-Mu
Biar wajah ini terbaca
Terlukis dalam darah-Mu
Retak cintaku
1998



Sujud Berpeluh

Pada detak jam itu
Terbaca jiwa mengeluh
Terentang berlaksa dosa
Kuucap doa sujud berpeluh
Di hamparan altar-Mu
1998



Tak Terbatas

Tak terbatas cinta-Mu
Tak terbatas kasih setia-Mu
Tak terbatas kata maaf
dan pengampunan-Mu
Hingga dosa-dosaku
Yang tak terbilang itu
Hangus oleh darah-Mu
1998



Meraut Diri

Bebunga rumput itu semakin
tumbuh saja
Di setiap jengkal tanah yang kucangkul

Biarlah masih tetap ada embun melekat
Buat membasuh muka pucat ini
Sebab telah terlalu lelah memungut nurani
Yang tercecer berabad-abad di rantau kota

Biarlah kutemukan lagi ketelanjangan
Kanak-kanakku di sisa-sisa waktu
1999



Doa-doa Batu

Terus saja bersujud bebatu itu
Melafalkan doa-doa panjang
Bergetaran membangun mezbah
Dalam dada

Mencucikan batin pada ketabahan dan
riak air sungai-Mu
Yang mengairi sawah-sawah
Celupkan darah nafsu
Biar terbentang sajadah iman
seteguh bebatu-Mu
2000

3 komentar:

  1. sayang kalau tak mampir kesini kerana snagatlah banyak tulisan ygbmenarik
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  2. Siap dibukukan, Pak! :)

    BalasHapus
  3. lirik2 yang pendek, tapi suasana religiusnya sangat kuat, pak. mantab puisinya. salam kreatif.

    BalasHapus

""