Rabu, 05 Januari 2011

Peran Masyarakat dalam Membudayakan Membaca


Peran Masyarakat dalam Membudayakan Membaca

Upaya mencerdaskan masyarakat melalui membaca ternyata banyak juga diperankan oleh orang per orang atau lembaga yang tak bergerak di bidang pendidikan. Sekalipun itu bukan merupakan tujuan utama, tetapi peran mereka dalam mencerdaskan masyarakat lewat membaca, tidak boleh diabaikan. Sebab, ternyata, berdasarkan pengamatan saya di beberapa tempat di daerah saya berdomisili, melalui kantong-kantong bacaan itu orang melakukan aktivitas membaca oleh karena hasrat pribadi. Mereka membaca umumnya bukan karena desakan orang lain, bukan karena tugas, bukan juga karena perintah. Tetapi, lebih karena situasi dan kondisi yang menggerakkan sikap (diri) untuk membaca.

Hanya, memang harus diakui orang-orang yang memanfaatkan, yang saya sebut sebagai kantong-kantong bacaan itu, belumlah banyak. Akan tetapi, meskipun baru satu-dua-tiga pembaca (intens) yang ada, paling tidak teladan pembaca telah terdiaspora di berbagai tempat. Yang, boleh jadi (kemudian) menjadi model bagi yang lain.

Kenyataan itu tentu berbeda jauh dengan gambaran yang ada di taman bacaan, rumah baca, dan perpustakaan. Komunitas-komunitas itu memang dibentuk untuk memfasilitasi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan membaca. Maka, tak dapat dimungkiri pengunjung di taman bacaan, rumah baca, dan perpustakaan jumlah pembaca (intens)-nya jauh lebih banyak. Mereka datang di komunitas-komunitas itu memang memiliki satu tujuan, yakni membaca. Sayang, komunitas-komunitas itu jumlahnya boleh dibilang masih relatif sedikit.

Malah lebih banyak kantong-kantong bacaan yang saya maksudkan (tadi). Coba Anda hitung, ada berapa tempat tukang potong rambut di daerah Anda. Ada berapa tempat praktik dokter. Ada berapa tempat praktik bidan/mantri. Ada berapa bengkel. Ada berapa salon. Ada berapa lembaga (swasta) layanan publik. Umumnya tempat-tempat itu menyediakan bahan bacaan, bukan? Sekalipun tidak banyak pilihan, mungkin hanya ada koran atau majalah.

Beberapa tempat tukang potong rambut di daerah saya, misalnya, hampir dapat dipastikan menyediakan koran harian. Demikian juga bengkel, praktik dokter, bidan/mantri, dan salon, ada yang koran ada yang majalah/tabloid. Fakta itu menunjukkan bahwa meskipun bukan tujuan utama, kantong-kantong bacaan itu telah andil besar dalam menciptakan masyarakat pembaca. Maka, keberadaannya perlu diapresiasi secara positif. Bahkan, tidak berlebihan kalau misalnya pemerintah berkehendak memberikan dukungan.

9 komentar:

  1. tapi secara umum budaya membaca dikalangan guru masih rendah ya pak, Guru di kelas tak lebih hanya memutar kaset-kaset lama yang tersimpan di memorinya dari tahun ke tahun...seperti tidak ada hal baru pada mata pelajaran yang diampunya
    salam dari kalimantan tengah

    BalasHapus
  2. Yang saya herankan masih banyak yang suka baca komix dan koran daripada baca buku pengetahuan.

    BalasHapus
  3. @forumborneo:
    Benar itu, Pak, fakta yang tidak dapat dipungkiri. Masih begitu banyak guru yang malas membaca, barangkali termasuk saya,hahaha...
    Terima kasih telah berkunjung.

    @Salesman Jogja:
    Sebagai fase awal itu masih lebih baik, mas. Sebab, memulainya memang dari bacaan-bacaan yang boleh dianggap ringan seperti itu. Kemudian, mengarah ke bacaan-bacaan yang agak berat. terima kasih telah berkunjung.

    BalasHapus
  4. adanya koran di tempat2 umum cukup memancing kita untuk membaca..:)

    BalasHapus
  5. Tapi saya kenapa ya, sukanya baca2 buku yang memang saya suka saja...he..he.....
    kalau yang kurang suka, suka puyeng malah...he..he...

    Ayo membacaaa...

    BalasHapus
  6. Membaca membuka jendela dunia.
    Saya alhamdulillah mpe saat ini masih suka baca, Pak.

    BalasHapus
  7. @Serba Gratisan: benar, mas, maka mari kita kampanyekan banyak membaca! Salam.

    @Tukang colong: Ya, mas, saya setuju itu. Namun, yang perlu diperhatikan oleh pihak yang berwenang memberi layanan publik itu adalah masih seringnya dijumpai koran-koran di pajangan publik itu yang kadaluwarsa.

    @ Teras Info: Itu masih lebih baik, mas, ketimbang tidak ada yang disukai. Ya, to?

    @Pak Mursyid: Benar itu, Pak. Dengan membaca kita akhirnya mengetahui banyak hal yang ada di belahan lain dunia.

    BalasHapus
  8. daerah kendal punya pondok baca yang tersebar di berbagai tempat, pak, saya salut banget dengan semangat mereka utk memberdayakan masyarakat setempat melalui buku, dan kenyataannya memang mengagumkan.

    BalasHapus

""