Senin, 07 Februari 2011

Akhirnya Mengerti




Seperti malam ini, ketika istri bekerja, saya harus menerima keadaan hanya bertiga, kedua anak kami dan saya. Tidur dalam satu kamar. Padahal, biasanya, jika ibunya tidak masuk malam, si sulung pasti tidur di kamar sendiri. Sementara itu, saya, istri, dan si bungsu di kamar lain. Akan tetapi, bertiga seperti malam ini, malah memerkaya diri saya. Pasalnya, saya tak bisa pasif, alias cuek, terhadap keadaan anak-anak secuek saat istri berada di rumah.

Cuek, tak berbeban, karena segala urusan yang terkait dengan kebutuhan si bungsu terutama, selalu istri yang mengurus. Memasang pempes jika pempes yang pertama telah bocor, membuat susu jika susu dalam dot telah habis, menyelimuti si bungsu jika selimutnya tak lagi melekat di tubuh, dan masih banyak lagi aktivitas malam sebelum mimpi merengkuh.

Di samping hal-hal semacam itu yang saya lakukan saat istri masuk malam, saya bisa lebih banyak memiliki waktu untuk merenung. Merenungkan apa saja, terutama tentang anak-anak kami. Melihat mereka berdua tidur, misalnya, tiba-tiba pikiran saya tersambung dengan kuasa karya Sang Khalik atas anak-anak kami. Anak-anak bertumbuh dengan sempurna: dulu masih kecil-kecil, kini telah terlihat besar berisi. Pertumbuhan mereka saya rasa bukan semata-mata karena mereka makan dan minum, tetapi karya Sang Khalik nyata atas hidup mereka.

Bahkan, jika mulai muncul pikiran membandingkan anak-anak kami dengan anak-anak lain, berbiak rasa syukur kepada Sang Khalik yang luar biasa. Anak-anak kami dalam kondisi pertumbuhan tubuh yang sehat. Tidak ada cacat, tidak ada kekurangan apa-apa. Wajah-wajah mereka, menurut saya, terlihat menyenangkan. Saya pun akhirnya mengerti bahwa semua itu hanya karena karya cipta Sang Khalik. Apalagi jika pikiran saya mulai “nakal”. Nakal, karena saya membandingkan kerupawanan anak-anak kami dengan anak-anak lain yang realitasnya kedua orang tua mereka rupawan, tetapi kerupawanan anak-anak itu tidak “mewarisi”. Sementara, kami yang kurang rupawan, malah memiliki anak-anak yang jelita. Tidak mungkin hal kejelitaan itu bisa terjadi, tanpa campur tangan Sang Khalik.

Dengan begitu, kekayaan diri yang saya maksudkan, tidak hanya sebatas dapat mengerjakan aktivitas, yang umumnya dikerjakan oleh ibu-ibu untuk anak-anaknya yang masih kecil. Misalnya, memasang pempes, mengganti pempes yang bocor, mengganti celana anak yang basah kena ompol, membuat susu. Yang, semuanya itu membutuhkan “kemauan” untuk berani mengambil keputusan. Artinya, sekalipun malam waktunya orang tidur, berani berbuat, beraktivitas, melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Ini sebuah pembelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah, di bangku kuliah, di kursus-kursus. Pembelajaran yang mahal harganya karena harus berani melawan kepasifan.

Kekayaan yang lain, yang menurut saya sangat berarti, adalah kekayaan rohani. Karena, saya menyadari bahwa yang terjadi atas diri anak-anak kami, tak semata-mata oleh karena kami, tetapi karena kebesaran Sang Khalik. Kesadaran pribadi ini yang akhirnya membangun keyakinan diri, untuk senantiasa bersyukur dan bersyukur!

3 komentar:

  1. kekayaan rohani lebih berarti dari tidak kaya dlm bidang apapun :D

    BalasHapus
  2. betul pak, bersyukur dan bersyukur, karena dengan mensyukuri segala apa yang ada dan diberikan kepada kita, hidup ini terasa nikmat

    BalasHapus
  3. saya belum punya anak, maaf kalo tak bisa merasakan apa yang anda rasa. semoga suatu saat saya mengalaminya.

    BalasHapus

""