Jumat, 11 Februari 2011

Gagal, Negara Menghadapi UN






Ujian nasional (UN) sebentar lagi akan digelar. Sejak jauh-jauh hari, dan kini semakin terasa peserta didik mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Di sekolah masing-masing, mereka menghadapi pelatihan-pelatihan. Tidak hanya try out sekolah, tetapi juga try out kabupaten/kota. Bahkan, mereka juga mengikuti pelajaran tambahan yang diadakan sekolah, juga mengikuti les di bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah. Hal itu dilakukan karena tidak ada satu pun peserta didik yang ingin tertinggal, alias tidak lulus. Semua dipastikan ingin melampaui UN itu dengan mulus, dan membawa keberuntungan bagi mereka. Lulus dengan nilai yang memuaskan. Karena fakta itulah yang akan mengantarkan kemudahan bagi mereka untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kegagalan dalam UN, sejatinya tidak hanya merugikan peserta didik, tetapi juga orang tua. Karena tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan kurang, untuk menghindari pemakaian kata tidak, memberi kontribusi yang berarti. Secara psikologis, peserta didik dan orang tua tentu juga mengalami “ketidaknyamanan” dalam pergaulan. Barangkali kondisi ini tidak jauh berbeda dengan keadaan negara kita dewasa ini. Sebab, ternyata ketika negara ini menghadapi berbagai UN, lebih banyak tak terlampaui dengan mulus. Artinya, banyak persoalan bangsa ini yang tidak tertangani dengan baik.

Persolan korupsi, kolusi, dan manipulasi, misalnya, yang telah merambah ke hampir semua lini kehidupan masyarakat, baik di instansi maupun swasta, seakan-akan menjadi lingkaran setan yang tak mungkin dapat diselesaikan dengan menempatkan prinsip keadilan. Kalau pun tampaknya terselesaikan, sering masih menyisakan banyak persoalan. Sehingga, banyak melukai benak rakyat.

Terkait dengan persoalan bencana alam, negara pun cenderung terlambat dalam mengambil sikap. Bahkan, jauh sebelum negara turun tangan, masyarakat dari berbagai golongan yang terlebur dalam satu ikatan moral secara bersama-sama telah mengulurkan bantuan untuk memberi atensi kepada para korban. Yang menakjubkan, masyarakat dalam mengelola aksi kemanusian itu sama sekali tidak melibatkan unsur pemerintah. Mereka digerakkan rasa kemanusiaannya secara sungguh-sungguh bagi sesamanya yang menderita.

Yang akhir-akhir ini masih menjadi pembicaraan banyak orang, terobeknya ke-Bineka Tunggal Ika-an, yang menjadi jiwa Indonesia. Terobek, karena “keberagaman” yang sejak dahulu tumbuh subur di bumi pertiwi ini tak bisa lagi terjaga dengan baik. Bentrok antarkelompok, misalnya, yang dibarengi tindakan-tindakan anarkis seolah telah menghiasi wajah ibu pertiwi sehari-hari. Yang terhangat, kasus Temanggung dan Pandeglang, yang tak sedikit memakan korban, baik fisik maupun psikologis. Sehingga, tak kurang dari seorang Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, ketika diwawancari Metro TV terkait dengan kedua kasus itu menuturkan bahwa terkesan diadakan pembiaran (kerusuhan). Sambungnya lagi, negara sepertinya sudah tidak ada.

Persoalan-persoalan itu, termasuk juga, misalnya, persoalan pengangguran, kemiskinan, jalan rusak, tingginya harga kebutuhan pokok, kekerasan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri, dan kemacetan bukankah merupakan UN bagi negara? Dan, kalau faktanya hingga kini persoalan-persoalan itu masih ada dan malah semakin menjadi-jadi bahkan terkesan (juga) negara kurang bisa menangani, bukankah itu mengisyaratkan bahwa negara gagal menghadapi UN? Sekalipun saya awam terhadap persoalan-persoalan itu, kaca mata pikiran (bodoh) saya tetap melihat bahwa negara memang telah gagal dalam menghadapi UN. Akan tetapi, semogalah kegagalan itu tidak berimbas pada peserta didik dalam menghadapi UN, yang sebentar lagi digelar!

8 komentar:

  1. masalah negwra ini mmg sdh multidimensional...bingung harus mulai dari man utkj menyelsaikannya....pendidikan amburadul....toleransi berantakan....


    kpn ya INA bisa maju....semoga secepatnya

    BalasHapus
  2. apapun gonjang ganjing yg terjadi di negeri ini, yg penting Ujian Nasional tetep bisa dilalui dg maksimal :)

    BalasHapus
  3. untuk yang satu ini, hal terbaik yang bisa aku lakukan hanyalah menyimak, menyimak, dan menyimak, entah sampai kapan...

    BalasHapus
  4. eh...bang..bisa tukaran link ndak?

    blognya udah kupsang linknya diblog aku :D

    BalasHapus
  5. P Sungkowo bisa aja menghubung-hubungkan dengan UN-UN yang lain yang sesungguhnya tengah melanda NKRI ini. Tapi memang benar dan sayapun sependapat. Semoga pemerintahpun akan lulus dalam menangani UN-UN tersebut.

    BalasHapus
  6. kemarin saya sudah ke sini, tapi karena belum membuat tulisan baru, saya gak jadi komentar..tapi saya pikir kembali ternyata tidak harus membuat postingan dulu, yang penting kekerabatan yang dicanangkan pak Sung tetap berjalan. setuju pak...semoga UN sukses

    BalasHapus
  7. @skydrugz:
    Sudah saya pasang linknya, Mas.

    BalasHapus
  8. ketika negara melakukan pembiaran, maka kegagalan itu sudah tampak jelas di depan mata, pak. kita hanya bisa berharap, semoga kegagalan demi kegagalan yang sudah terjadi selama ini bisa dievaluasi lebih lanjut hingga akhirnya bisa menemukan solusi yang tepat utk menyelesaikan masalah yang sama pada waktu2 mendatang.

    BalasHapus

""