Jumat, 25 Februari 2011

Keikhlasan Seorang Guru


Banyak guru yang sering berpikir, jika sebuah materi pembelajaran telah diajarkan kepada peserta didik, apalagi berkali-kali, pastilah telah dimengerti. Peserta didik tentu sudah menguasai. Memahami secara benar materi yang terajarkan itu. Seperti, ketika di kelas I seorang peserta didik telah menerima materi ”x”, dan di kelas berikutnya dijumpai materi yang tak jauh berbeda, misalnya ”x” plus, lazimnya guru langsung berkesimpulan bahwa si peserta didik itu pasti sudah mengetahui. Atau, paling tidak peserta didik itu akan lebih mudah mengikuti proses pembelajaran materi tersebut.

Barangkali sikap guru yang demikian itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Karena, faktanya ada sebagian peserta didik yang memang lebih mudah mengikuti proses pembelajaran materi itu, tetapi tidak sedikit peserta didik yang masih mengalami kesulitan memahaminya. Kebanyakan yang mengalami kesulitan memahami, meski mereka menyadari pernah memelajarinya, alasannya selalu klasik, yakni lupa. Jika kenyataannya begitu, mau tidak mau, guru harus memulai lagi menjelaskan dari awal, meski (barangkali) tidak seberat ketika mengenalkan materi itu kali pertama dalam proses pembelajaran.

Kalau oleh karena guru menyadari bahwa materi itu pernah dipelajari peserta didik (bahkan berkali-kali), guru lantas kurang merespon secara benar, misalnya dengan ucapan, ”sudah pernah dipelajari kok belum bisa”, rupanya menimbulkan beban psikologis (tersendiri) bagi peserta didik yang memang merasa belum mengerti materi itu. Beban psikologis yang demikian itu beberapa waktu lalu dilontarkan seorang peserta didik kepada saya. Ia mengakui, manakala seorang guru mengemukakan pernyataan seperti itu dan (mungkin) juga yang sejenisnya di hadapan peserta didik dalam proses pembelajaran, peserta didik akhirnya lebih banyak mengambil sikap diam. Peserta didik pasif, tidak akan merespon aksi guru. Karena, lanjutnya, anak-anak telah merasa takut terlebih dahulu sebelum, misalnya, bertanya kepada guru. Sekalipun guru telah menawarkan kepada peserta didik untuk mau mengajukan pertanyaan, peserta didik lebih banyak diam meski benar-benar mereka belum mengerti. Ada kesan begitu berat membuka mulutnya. Bahkan, jika kita termasuk guru yang pernah bersikap serupa itu, lalu mau mengingat-ingat kembali apa yang pernah terjadi di kelas, yang kita jumpai (barangkali) adalah peserta didik lebih banyak ”menyembunyikan wajah” dari kita.

Waktu pembelajaran menjadi beku. Tidak ada proses yang terjadi. Berarti kesempatan untuk mengajak peserta didik memahami sebuah materi pembelajaran, hilang. Keinginan guru untuk menumpahkan seluruh pengalamannya kepada peserta didik, gagal. Harapan indah peserta didik yang didam-idamkan, tidak tercapai. ”Darah” pendidikan yang seharusnya dapat mengalir secara lancar, tersumbat, bahkan mandeg. Ini sebuah potret, yang mengisyaratkan komunikasi pendidikan terputus.

Di sinilah barangkali perlunya keikhlasan seorang guru ditumbuhkan. Ikhlas menerima ketika ternyata masih banyak dijumpai peserta didik belum memahami materi pembelajaran, sekalipun materi itu telah diajarkan berkali-kali. Kemudian, tersemangati untuk mencari solusi yang lebih memudahkan peserta didik bisa memahami materi. Karena bisa jadi memang cara yang efektif untuk menyampaikan materi  kepada seluruh peserta didik yang berlatar belakang beragam itu, belum dijumpai. Juga, ikhlas menerima kritik dari peserta didik. Tidak justru menangkis (kritik itu) dengan pembelaan yang mengada-ada.

Dengan begitu, kita, guru, (tentu) tidak lantas senantiasa ”menyorotkan” dugaan kurang baik terhadap peserta didik. Juga, tidak memberi ”penghakiman”, seperti, ”sudah diajari berkali-kali, kok belum bisa”. Sikap inilah yang barangkali dapat menumbuhkan semangat peserta didik untuk mau bertanya, berani berpendapat, tidak takut mengalami kesalahan, dan tumbuh sikap percaya diri. Waktu pembelajaran menjadi cair. 

15 komentar:

  1. wah... di indonesia ini sulit sekali menemukan sekolah yg bener2 pas untuk murid (maaf lho). seakan2 kurikulum itu digunakan utk memuaskan orang tua, pdhl si anak tak suka.

    BalasHapus
  2. kata2 seperti ”sudah diajari berkali-kali, kok belum bisa” adalah nasehat gratis terburuk yang pernah aku dengar. tidak alasan, hanya tidak suka aja, mengingat saya orang yang memiliki IQ di bawah rata2. Kalau memang niat jadi GURU, ya jadi guru yang benar2 guru, tidak perlu jadi pak kelapa GENG.

    BalasHapus
  3. pak KEPALA GENG maksudku...

    BalasHapus
  4. posting yg menarik. kita guru idealnya memang digaji besar supaya tidak mudah stres dan itu akan berdampak pada cara dia mengajar. salam kenal

    BalasHapus
  5. bener sekali, pak. peserta didik agaknya memiliki tipe2 belajar yang beragam, sehingga tingkat penguasaan materi pembelajaran pun berbeda-beda. itulah sebabnya, rekan2 sejawat senantiasa ditekankan utk menggunakan berbagai model pembelajaran yang lebih variatif, sehingga bisa memberikan gambaran yang lebih mudah kepada peserta didik yang berbeda-beda tipe belajarnya itu. *doh, kok jadi sok tahu saya, haks*

    BalasHapus
  6. Duhh!! Mampir di sini jadi kepengen sekolah lagi ni..!:)
    keren bpk-nya deh!

    BalasHapus
  7. Iya ya, bener. Dalam satu kelas kan gak semua murid bisa menerima materi dgn sekali telan :D

    BalasHapus
  8. saya selalu pengen jadi guru karena saya suka interaksi dengan anak-anak ♥ apalagi guru kindergarten atau guru SD. waaaah hihihi.

    BalasHapus
  9. pak/bu guru semoga bisa lebih sabar dan ikhlas dlm mendidik putra-putrinya...

    BalasHapus
  10. @☺☺☺

    Modal utama sudah dimiliki, yakni suka berinteraksi dengan anak-anak. Jadi, lebih baik barangkali jika segera diwujudkan teman.

    BalasHapus
  11. Guru jasanya tiada tara...

    BalasHapus
  12. saya susah hapal nama guru, tapi saya selalu ingat wajah dan jasa mereka ke saya.. :)

    BalasHapus
  13. Anak-anak memang memiliki modalitas belajar yang berbeda-beda. Sehingga gaya belajar mereka juga berbeda-beda.

    BalasHapus

""