Rabu, 16 Februari 2011

Kios Bacaan, Membangun Tradisi Membaca


Barangkali kita tidak pernah berpikir bahwa kios-kios koran, majalah, tabloid, dan bahan bacaan lain di area-area publik itu, memiliki peran yang tak jauh berbeda dengan perpustakaan. Kios-kios itu menyediakan berbagai-bagai ilmu pengetahuan, yang umumnya melayani keperluan semua kalangan. Dari kalangan anak-anak hingga dewasa, laki-laki maupun wanita. Bedanya, kalau di kios-kios bahan bacaan itu, kita harus membeli; sementara di perpustakaan, kita meminjam (aturannya relatif, ada perpustakaan yang pakai uang sewa, ada juga yang tidak, tetapi cukup melalui menjadi anggota terlebih dahulu).

Kios-kios bahan bacaan di Kudus, Jawa Tengah (Jateng) bisa kita jumpai di lingkungan Taman Bojana, dekat Alun-Alun Simpang Tujuh. Letaknya bersebelahan dinding/pagar tembok Kantor Bupati Kudus. Jadi, kios-kios itu berada di tengah-tengah kota. Letaknya ditata sedemikian rupa sehingga beberapa kios berada dalam satu deretan. Yang, masing-masing dimiliki oleh orang yang berbeda. Meskipun ada beberapa bahan bacaan tertentu yang sama tersedia, tetapi di antara kios-kios itu (ternyata) memiliki juga bahan bacaan yang berbeda (tersedia) untuk pembeli. Di kios A ada majalah ini, di kios B tidak ada majalah serupa, tetapi adanya majalah itu, misalnya.

Di kios-kios itu menyediakan berbagai majalah, baik yang bersifat umum maupun rohani. Koran nasional maupun lokal. Tabloid pertanian maupun perikanan, perumahan, pertamanan, bunga-bunga, fauna, dan sebagainya. Ada juga majalah-majalah berbahasa Jawa dan Inggris. Majalah-majalah anak, remaja, dan pemuda. Bahkan, kita pun sering bisa memperoleh majalah terbitan lawas jika memerlukannya.

Sayang, kios-kios yang dibuka sejak pukul 08.00 hingga 18.00 WIB setiap hari itu tampaknya tidak mengalami perluasan. Dari tahun ke tahun, jika boleh dibilang, tidak ada ”pertumbuhan” yang cukup berarti. Terbukti, mereka, kios-kios itu, tetap berada dalam keluasan lahan yang sama. Yang, terlihat mengalami ”pertumbuhan” adalah bahan-bahan bacaan yang disediakan, dari waktu ke waktu terus bertambah. Hal ini menandakan bahwa semakin banyak orang/kelompok yang bergerak di bidang penerbitan.

Akan tetapi, sesuatu yang menarik adalah bahwa kios-kios bacaan yang berada di Taman Bojana itu tetap eksis. Artinya, mereka tetap bertahan hidup hanya lewat menyediakan ”berbagai ilmu” itu. Tidak lantas mencampuradukkan berjualan bahan bacaan dengan keperluan-keperluan lain, misalnya, rokok, obat-obatan, makanan ringan, minuman, dan sebagainya. Memang, setiap hari selalu ada pembeli. Mereka, pembeli itu, rata-rata telah menjadi pelanggan tetap. Di samping pelanggan tetap, tak sedikit orang yang membeli secara insidentil. Barangkali itulah yang membuat kios-kios, bukan toko buku, itu tetap eksis hingga sekarang.

Di beberapa tempat yang pernah saya jumpai, bahan bacaan (koran, majalah, tabloid) lebih banyak menumpang pada usaha lain. Di toko-toko kelontong, misalnya, disertakan berjualan koran atau majalah. Bahkan di terminal di warung-warung makan, disediakan juga koran atau majalah yang bisa dibeli. Di salah satu tempat di Kudus, bukan di Taman Bojana, yang saya jumpai justru sebaliknya. Awalnya membuka kios koran dan majalah. Lama-kelamaan, di samping usaha pokoknya, yakni jualan koran dan majalah bahkan terakhir ini berkembang sampai berjualan buku, dilengkapi juga berjualan minuman, makanan ringan, rokok, dan sejenisnya. Lokasinya di pinggir jalan, yang tentu memudahkan orang (khususnya yang melewatinya) untuk menjangkaunya.

Di pinggir beberapa jalan lain di kota kretek, banyak juga ditemukan kios-kios yang menyediakan bahan bacaan sejenis. Hanya, lebih banyak bentuk usahanya tunggal, yakni menjual bahan bacaan saja. Menurut saya, usaha-usaha semacam inilah yang, disadari atau tidak, turut ”mendidik” masyarakat untuk terus membangun tradisi membaca. Pasalnya, yang membaca oleh karena adanya kios bacaan itu tidak hanya pembeli, tetapi juga yang menjual dan beberapa orang kenalannya, apakah itu tukang becak, tukang ojek, sopir angkutan, atau sesama pedagang yang kiosnya (kebetulan) berada di sekitar kios bacaan itu.

9 komentar:

  1. wow...kyknya kren juga tuh klo ada kios bacaan di sekitar rumah... :D tidak perlu ke mall lagi utk beli buku bagus :D

    BalasHapus
  2. Kalau buku yang mereka jual itu original, pastinya itu keren bangetz sekaligus menandakan orang2 di sana minat bacanya tinggi, buktinya kios2 itu tetap bertahan.

    Sayangnya di kota saya tidak ada tempat seperti itu, yang bertebaran di sana-sini penjual CD bajakan.

    Sejauh ini tempat yang paling sering saya kunjungi soal baca membaca adalah toko buku gramedia dan perpustakaan.

    BalasHapus
  3. di kudus, ys psk, saya ingat pasar kliwon, simpang tujuh, tosera, waktu itu belum ada matahari. saya sesekali ke kolam renang gerdu... jadi ingat masa sma dulu pak, tahun 84/87 bersepeda pecangaan - kudus

    BalasHapus
  4. berbagi ilmu gratis ,,kunjungi ya,,langsung blogwalking ke http://yoyon12.wordpress.com

    BalasHapus
  5. wah ide yang sangat bagus karena dikota-kota besar kayanya udah jarang banget deh ada yang kaya gitu. palingan juga saya pernah nemu sekali di daerah slipi :D

    BalasHapus
  6. Harusnya usaha semacam itu tak pernah mati ya Pak karena meski jaman internet toh orang tetep perlu membaca.. membaca buku cetak.

    BalasHapus
  7. @Pak Budie:
    Di Kudus sekarang sudah ada Matahari, Pak, bahkan di dekat Simpang Tujuh, kini telah dibangun megah Ramayana. Andai saja, sekarang Bapak main-main ke Pecangaan, dan bersepeda dari Pecangaan ke Kudus, sangat jauh berbeda dari dulu. Kini ramainya bukan main, jalan berdebu, dan hilir mudik kendaraan menghabiskan badan jalan. Maka, praktis naik sepeda agak kurang leluasa.

    BalasHapus
  8. Membaca itu selalu kita lakukan sehari-hari, apapun yang kita baca: papan nama jalan, papan reklame, majalah kesukaan, surat kabar, hingga buku-buku ilmu pengetahuan

    Silakan mampir ke Kios Bacaan:
    http://kiosbacaan.blogspot.com
    kios_bacaan.tokobagus.com
    www.facebook.com/kiosbacaan
    www.facebok.com/groups/jendelakiosbacaan
    www.facebook/komunitaskiosbacaan

    BalasHapus

""