Jumat, 18 Februari 2011

Memerluas Ruang Baca Publik


Arus informasi yang demikian cepat, agar tak terlewati begitu saja, perlu disediakan tempat. Tempat, yang tentu memungkinkan banyak orang memeroleh akses. Sebab, faktanya tidak semua orang memiliki ”kemampuan” sama dalam mengakses informasi. Ada sebagian orang yang dapat mengakses banyak informasi cukup dari kamar karena memiliki koneksi internet. Ada yang bisa memeroleh informasi karena berlangganan media cetak. Ada juga yang mendapat informasi karena membaca koran di tempat kerja, mengakses lewat internet di kantor. Fakta itu menunjukkan bahwa arus informasi yang demikian cepat mengalir hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.

Berarti, masih ada, bahkan barangkali jumlahnya lebih banyak, yang kurang memeroleh ruang untuk mengakses informasi. Bukan tidak mungkin karena alasan tersebut, pemerintah akhirnya membuat, misalnya, papan-papan pajangan sebagai tempat memajang koran. Hal itu, saya rasa dapat dijumpai di berbagai daerah, yang masih termasuk wilayah perkotaan. Di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), misalnya, dapat ditemukan papan-papan pajangan semacam itu di beberapa tempat yang tergolong ramai dikunjungi masyarakat. Di antaranya, di depan Mal Kudus, Matahari Swalayan, depan Kantor Catatan Sipil (Capil) seberang Alun-alun Simpang Tujuh, depan Pasar Kliwon, dan (jika masih ada) teras depan gedung olahraga (GOR) Wergu .

Beberapa kali saya pernah memanfaatkan papan pajangan itu untuk memeroleh informasi dan sekaligus berhasrat membuktikan apakah masyarakat memanfaatkan sarana itu atau tidak. Dua tempat yang agak sering saya kunjungi, yakni papan pajangan koran yang ada di depan Mal Kudus, Matahari Swalayan dan depan Kantor Capil. Alasannya, kedua tempat itu lebih dekat dijangkau dari rumah jika dibandingkan dengan papan pajangan yang lain. Menurut pengamatan saya, papan pajangan koran, yang boleh disebut sebagai ruang baca publik, itu ternyata banyak dikunjungi masyarakat. Masyarakat dari berbagai kalangan, tak hanya kaum terpelajar, tetapi juga pedagang kaki lima (PKL), tukang becak, tukang parkir, orang-orang kantoran. Yang, boleh jadi mereka berasal dari latar belakang keyakinan, keagamaan, kesukuan, keturunan, dan tradisi yang berbeda.

Sekalipun demikian, disadari atau tidak, ruang baca publik itu akhirnya menjelma jadi wahana untuk saling bertegur sapa antarpembaca. Membaca sembari berdiri dan bersebelahan dengan yang lain dapat mengungkapkan nilai-nilai kesederajatan. Kaum terpelajar, tukang ojek, tukang becak, PKL, tukang parkir, dan pegawai menyatu dalam ”kesibukan” yang sama. Melalui perjumpaan itu, mereka juga dapat membangun sikap saling menghormati, menghargai, dan mengendalikan diri. Terbentuknya masyarakat pembaca (pun) bisa saja terjadi karena kebiasaan itu. Karenanya, saya berharap (barangkali ini sebuah impian belaka) mampu menggerakkan orang-orang yang dulunya tidak suka membaca menjadi gemar membaca.

Selalu saja ada orang yang membaca saat sesekali saya melewati di antara papan pajangan itu merupakan pemandangan yang menarik. Pagi, siang, atau sore hampir dapat dipastikan aktivitas itu terlihat. Bahkan, sesekali di waktu malam, di bawah pukul 21.00 WIB pun, masih ada (juga) yang membaca. Barangkali karena memang kedua papan pajangan, yaitu depan Mal Kudus dan depan Kantor Capil, itu lokasinya dekat dengan pusat keramaian hingga malam, sehingga memungkinkan orang dapat membacanya lebih leluasa. Bukankah kenyataan itu menunjukkan bahwa papan pajangan koran memang harus ada? Karena pada kenyataannya bisa menampung keinginan sebagian masyarakat mendapatkan informasi.

Sayang, beberapa kali, saya melihat papan pajangan itu tidak selalu update. Koran yang seharusnya telah diganti dengan koran terbitan baru, masih terlihat edisi lawas. Kondisi itu bukan tidak mungkin akhirnya menimbulkan rasa kecewa masyarakat pelanggan. Sebab, berharap menemukan informasi terbaru, tetapi yang dijumpai malah informasi yang telah dibaca. Kadaluwarsa, bukan? Maka, penting kiranya pihak-pihak yang bertanggung jawab bersikap lebih memerhatikan layanan informasi semacam itu terhadap masyarakat setiap hari.

Melihat pentingnya papan pajangan koran sebagai ruang baca publik, Pemerintah Daerah (Pemda) Kudus, tentu juga daerah-daerah lain, dan lembaga terkait perlu memerluas keberadaan papan pajangan itu hingga tempat-tempat lain yang dipandang cukup strategis oleh karena banyak dikunjungi orang. Beberapa tempat yang dimaksud, misalnya, halte bus, terminal, rumah sakit, pasar (karena di Kudus, misalnya, tidak semua pasar didirikan papan pajangan), pertokoan-pertokoan, kantor-kantor layanan publik. Dengan begitu, masyarakat pelanggan dapat memenuhi kebutuhan informasi lewat media baca secara mudah, murah, meriah, dan merakyat. Bagaimana?

10 komentar:

  1. membaca koran ataupun majalah dinding saat suntuk merupakan hiburan yg menyenangkan lho...

    BalasHapus
  2. Aku belum pernah ketemu tempat yang seperti itu.

    supaya beritanya tetap update, mungkin harus diajak siapun untuk menjadi kontributor.

    BalasHapus
  3. aku juga belum pernah ngeliat tempat kaya gini. kecuali mading sekolah ;D tapi ide bagus kalo bisa naroh update berita model seperti ini di kantor.

    BalasHapus
  4. Hal yang kelihatannya sepele, padahal banyak mengandung manfaat :)

    BalasHapus
  5. dan jangan lupa meningkatkan minat baca publik juga.. :D

    BalasHapus
  6. ruang baca publik seperti itu sangat dibutuhkan masyarakat yang secara naluriah sangat haus informasi. disayangkan juga kalau ruang publik tidak dipajangi info2 yang uptodate.

    BalasHapus
  7. Kalo ngga salah di Jogja malah digalakkan nyaris di setiap pendopo kelurahan atau ruang2 publik perkampungan diadakan papan baca beginian, Pak:)

    BalasHapus
  8. kebiasaan membaca perlu dibudidayakan karena tanpa bacaan sedikit pengetahuan,,mantap,,langsung blogwalking bro,,

    BalasHapus
  9. klo ga update kasian yg baca jd balik lg kan..............

    salam persahabatan dr MENONE

    BalasHapus
  10. Jadi ingat Mading sekolah saya yang dah lama gak keurus, Pak.

    BalasHapus

""