Kamis, 17 Februari 2011

Semangat Mencari yang Menginspirasi


Perubahan ”wajah” di sepanjang Jalan Museum Kretek, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), barangkali harus dipahami sebagai gejala sosial yang alamiah. Dua-tiga tahun yang lalu, kondisi pinggir jalan tersebut masih sangat alami. Semak belukar menutup tepi jalan. Jika yang memiliki sawah di sepanjang jalan itu tidak mau bersih-bersih, terlihat ”keliaran” alam itu. Meski begitu, tetumbuhan yang tidak berfungsi secara ekonomis karena tumbuh dengan sendirinya, dan justru lebih banyak muncul sebagai tumbuhan pengganggu, tetap menjadi pemandangan yang segar dipandang mata. Akan tetapi, belakangan ini, sekalipun musim hujan (sewaktu-waktu) masih menyisakan butir-butir air yang dibutuhkan setiap tetumbuhan, tidak tampak lagi ”keliaran” alam di sepanjang jalan itu. Sebab, kini, di sepanjang jalan, yang kurang lebih 500 meter membujur dari barat ke timur, itu telah banyak bermunculan kios-kios. Inilah yang saya maksud sebuah perubahan ”wajah”, yang harus dipahami sebagai gejala sosial yang alamiah itu.

Hal, yang saya rasa terjadi juga di daerah-daerah lain, terutama daerah-daerah yang mengalami perkembangan. Pinggir-pinggir jalan yang masih tersisa lahan, oleh sebagian masyarakat ternyata dimanfaatkan sebagai ”lahan ekonomi”. Mereka, yang mendirikan kios-kios di sepanjang Jalan Museum Kretek, itu termasuk orang-orang yang, di mata saya, memiliki semangat mencari. Semangat mencari demi memertahankan hidup. Barangkali, dengan adanya banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sulitnya mencari pekerjaan (baru), semangat mencari sumber penghidupan itu bertumbuhan.

Mula-mula dalam hitungan hanya jari satu tangan tak menghabiskan jika dipakai untuk menghitung jumlah kios yang berdiri di lahan pinggir jalan itu. Tetapi, lambat laun jumlah kios yang berdiri jika dihitung menghabiskan jumlah jari kedua tangan. Prosesnya memang sedikit demi sedikit, yang lama-lama menjadi bukit. Dalam waktu tertentu berdiri satu kios, dalam waktu berikutnya berdiri lagi satu kios, dan bahkan akhir-akhir ini, dalam satu waktu bisa dua-tiga kios berdiri bersamaan. Seingat saya, mula-mula yang berdiri di pinggir jalan itu adalah kios tambal ban. Kemudian, disusul kios untuk warung makan. Sekarang ini telah banyak bermunculan kios dengan berbagai-bagai usaha, mulai dari kios es, warung nasi, kios jok kendaraan, hingga kios untuk menjahit (servis) celana sejenis jin dan tas.

Semua itu dilakukan, tentu saja bukan tanpa pemikiran terlebih dahulu. Sekalipun saya tidak pernah berwawancara dengan salah satu pemilik kios itu, saya berkeyakinan bahwa dalam memilih tempat melalui proses berpikir, yang melibatkan berbagai pertimbangan. Di antaranya, perihal biaya, kestrategisan lokasi, dan jasa/barang yang akan dijual. Yang, terabaikan barangkali pertimbangan ”ketertiban” lingkungan (kota). Padahal, inilah yang sering-sering menjadi problema sosial, yang bukan tidak mungkin menimbulkan perkara dengan aparat, dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Terjadinya kucing-kucingan antara Satpol PP dengan pedagang kaki lima (PKL) dan pemilik kios-kios itu lebih disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap ketertiban lingkungan.

Saya sih berharap semangat mencari yang telah tumbuh itu tidak sampai menimbulkan persoalan baru di Kudus. Kalau toh pada akhirnya usaha itu, juga usaha-usaha yang ada di tempat lain, dipandang oleh pemerintah daerah (Pemda) Kudus kurang mengasrikan lingkungan, perlulah dicarikan solusi yang lebih mengutamakan rasa keadilan dan kemartabatan. Tidak dilakukan secara sewenang-wenang. Perlu didialogkan secara manis di antara pihak terkait. Mengedepankan upaya-upaya persuasif. Mengapa? Karena saya berpikir, usaha positif yang telah diperjuangkan oleh orang-orang yang memiliki semangat mencari itu oleh karena satu dan lain hal bisa jadi menimbulkan persoalan tersendiri di kelak kemudian hari. Apalagi wilayah itu berada di jalur akses menuju ke Museum Kretek, salah satu objek wisata lokal yang bernilai nasional. Bukan tidak mungkin karena objek wisata khas satu-satunya di Indonesia, atau mungkin bahkan di Asia, Museum Kretek kelak menjadi tujuan wisatawan dari berbagai tempat. Yang, tentu saja membutuhkan akses yang lebih longgar.

Sekalipun demikian, memberi ruang kepada mereka yang memiliki semangat mencari itu tetap harus diutamakan. Karena, mereka, diakui atau tidak, dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang, yang boleh jadi menghadapi persoalan sosial-ekonomi yang semakin pelik.

5 komentar:

  1. di bali juga sama pak. ironisnya, lahan2 subur yg harusnya ditanami tanaman, malah ditanami beton. sedangkan lahan mati tetap terbengkalai. ini karena investor melihat keuntungansesaat, melihat marakn ya turis kesini. padahal mereka kebali ingin melihat alam, bukan bangunan. coba kalo turis pergi kayak bom kemaren, semua sepi, bangunan ini hanya jadi sampah.
    beda lagi di laut, banyak vila berjejer, ama tempat makan juga. menyumbangkan sampah, bukannya malah membantu mengurangi abrasi

    BalasHapus
  2. Benar, Pak. Pemerintah memang musti sangat concern dengan perjuangan mempertahankan hidup para pedagang semacam itu. Tetapi para pedagang juga mustinya concern terhadap lingkungan (jangan asal/sembarang mendirikan kios) yang justru akan menimbulkan dampak pemandangan yang sangat jauh dari sedap dipandang mata.
    Di tempat saya memang terkesan semrawut banget dengan adanya kios2 tdk resmi, Pak. Apalagi kalau kios2 tersebut bukanya di malam hari (warung remang2), dan di situ ada juga cewek2 yang mbuh rar ruh perilakunya. Hemmmh!

    BalasHapus
  3. wah kalo kaya gitu sih banyak pak, dimana-mana ada. gimanalah ini juga karena persoalan kemiskinan selalu menjadi momok menakutkan untuk mereka ☺

    BalasHapus
  4. intinya mereka hanya memikirkan yg penting bisa makan........wooooyyy pemerintah mana janji2mu waktu kampanye.......msh banyak nich orang2 susah


    salam persahabatan sobat.........menone

    BalasHapus
  5. Dimana-mana kasusnya sama. Semoga pihak pimpinan daerah segera mengambil tindakan dan memberi solusi yang terbaik. Jangan sampai hanya menindak tegas tanpa memberi solusi yang terbaik.

    BalasHapus

""