Kamis, 24 Februari 2011

Serupa Oase


Saya masih menjumpai ketekunan, yang dipancarkan oleh sekelompok anak, yang di dalamnya si sulung ambil bagian. Siang itu, mereka, berada di salah satu ruang kelas, sibuk mengerjakan majalah dinding (mading). Padahal, hari itu hari libur. Hari, yang sebetulnya mereka bisa menikmati ”kebebasan”. Tetapi, barangkali oleh karena tugas, mereka memanfaatkan hari libur itu untuk mengerjakan tanggung jawab mereka. Sementara, anak-anak lain menikmati ”kebebasan” sesuai dengan selera masing-masing, mereka terikat dalam satu semangat mewujudkan impian, yaitu memajang mading bagi pembaca.

Keuntungan saya siang itu adalah, akhirnya saya melihat langsung kegiatan sekelompok anak yang ”menyukai” dunia jurnalisitik, sekalipun hanya berupa mading. Kalau saja saya tidak ”gelisah” oleh karena si sulung belum ada di rumah siang itu, tulisan ini tidak akan Anda baca. Tanggung jawab, kreativitas, kerjasama, dan kesederhanaan sekelompok anak itu akan lenyap begitu saja. Untung siang itu saya menyusul si sulung ke sekolah, sehabis menyelesaikan kegiatan di gereja. Menyusul, karena menurut perkiraan saya, siang itu si sulung (harus) sudah berada di rumah karena untuk melakukan kegiatan di sekolah itu ia meminta izin sejak pagi, tapi kenyataannya belum pulang.

Jadi, ”kegelisahan” itu (sejatinya) disebabkan oleh berbenturannya kebelumpulangan si sulung dengan perkiraan saya atas pekerjaan mading yang sudah selesai. Kegiatan di sekolah sudah selesai kok belum pulang? Ke mana si sulung? Kalau ke rumah teman, kok tidak memberi tahu terlebih dahulu? Sudah waktunya makan, belum makan. Jangan-jangan di jalan ada apa-apa? Atau, jangan-jangan memang membuat madingnya belum selesai? Pertanyaan-pertanyaan serupa itu yang menggoda pikiran saya untuk kemudian menyusul ke sekolah.

Tiba di sekolah, meski siang begitu garang, tatkala saya menjumpai mereka (masih) sibuk membuat mading, benak saya menjadi lega. Kegelisahan lenyap begitu rupa. Karena, bagi saya, mereka serupa oase, yang muncul di padang gurun, menyejukkan. Mengapa? Karena hanya (sebentar) mengamati mereka beraktivitas, saya menemukan banyak hal positif, di antaranya seperti yang telah saya sebut di atas. Tanggung jawab, kreativitas, kerjasama, dan kesederhanaan terpancar dari mereka.

Di samping itu, semangat kerja keras dan kesederajatan dapat juga dijumpai di tengah-tengah mereka, sekalipun mereka berasal dari kelas dan tingkat kelas yang berbeda. Tidak tampak perbedaan mana senior, mana yunior. Mereka lebur dalam satu ikatan kepentingan. Bahkan saya ”membaca”, dalam kebersamaan mereka itu mampu memunculkan energi kreatif yang menarik. Untuk memercantik mading, misalnya, mereka memanfaatkan bunga kamboja dan rerumputan, yang saya kira mereka ambil dari lingkungan sekolah. Menggunakan materi alam (yang tersedia) untuk sebuah produk seni, atau produk apa pun, memerlukan tingkat kecerdasan yang tinggi, bukan?

Saya pastikan roti yang saya berikan tidak cukup membuat mereka kenyang siang itu. Tetapi, keriangan masih terlihat pada wajah mereka. Atau, jangan-jangan keriangan mereka itu karena memang mereka telah merasa ”kenyang” oleh aktivitas yang mereka lakukan dengan ikhlas. Ini yang sering dialami banyak orang, termasuk saya sampai-sampai istri (sering) marah-marah. Kalau sudah merasa dapat ”menikmati” pekerjaan, misalnya, sering lupa makan. Yang, menjadi orientasi ketika itu hanyalah pekerjaan (segera) tuntas. Setelah itu, baru makan dengan lahap sekalipun tak jarang perut terasa kembung.

Begitulah sekelompok anak itu bekerja dengan sungguh-sungguh, meski tanpa ada ”pengawasan” dari pembina/guru. Bekerja yang menghayati tanggung jawab. Dan, barangkali bekerja yang demikian itu yang dapat disebut (sebagai) menjunjung profesionalisme kerja. Sayang, kesungguhan itu (ternyata) tak hanya berdampak pada melupakan makan, tetapi juga melupakan waktu. Terbukti, si sulung hari itu baru pulang (sampai rumah) pukul 15.00 WIB. Namun, ia katakan madingnya telah dipasang. Saya kira, itu semua mereka lakukan tentu demi keberhasilan kerja, untuk berbagi pada sesama agar banyak pihak merasa bahagia, sekalipun mereka rela berkorban.

Fakta itulah yang saat ini (begitu) sulit dijumpai di negeri ini. Pasalnya, hingga kini masih banyak persoalan/pekerjaan bangsa yang belum tuntas (hanya) oleh karena muatan kepentingan yang berbeda pada stakeholder. Bahkan, seolah yang satu belum selesai, telah disusul yang lain dan lainnya lagi, hingga menumpuk-tumpuk. Maka, tidaklah mengada-ada, kalau akhirnya saya berharap ada saatnya kita (baca: stakeholder) mau becermin pada anak-anak, yang pada mereka masih bisa dijumpai ”kesejukan”. Bagaimana?

8 komentar:

  1. sungguh Oase yg menyegarkan.. :)

    BalasHapus
  2. hehehe....bikin mading bareng mmg menyenangkan kok...bisa main lempar2 gunting dan lem :D

    lalu tertawa :D

    BalasHapus
  3. sekolah yang menarik sampai2 siswanya begitu bersemangat membuat mading dan sepertinya mereka berkompetisi.

    terlalu fokus pada perlombaan tanpa memperhatikan apakah ada sesuatu yang baru yang bisa dipelajari juga tidak baik.

    Jika kita semua datang ke sekolah hanya untuk berlomba (mengejar ranking), pengetahuan tidak akan meningkat dan yang ada hanyalah tekanan, sedangkan sekolah bukan bejana bertekanan.

    Sama halnya dengan negeri ini bukan bejana bertekanan untuk menumpuk kekayaan dan tentu tidak ketinggalan "masalah yang belum tuntas karena muatan kepentingan yang berbeda pada stakeholder". Kita sepenuhnya sadar bahwa sebenarnya pemerintah yang memerintah sekarang lebih paham tentang bagaimana menyelesaikan persoalan negeri ini dibandingkan kita yang berada di bawah sebagai rakyat jelata, tetapi terkadang kita mengajari pemerintah tentang bagaimana cara menuntaskan persoalan itu. Kadang-kadang...

    BalasHapus
  4. Betul, Pak!
    Pemerintah harus berkaca pada anak2 yang polos seperti para pembuat mading yang Pak Sungkowo ceritakan...
    Belajar menuntaskan pekerjaan, lebih tepatnya :)

    BalasHapus
  5. benar sangat mas
    hmm, semakin pandailah blue jika sellau baca postmu
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  6. Masa Sekolah memang indah!
    keren
    mantaf abiss

    BalasHapus
  7. betul pak, super sekali..
    #salam super!!!

    BalasHapus

""