Rabu, 02 Februari 2011

Sinetron, Menjual Kebodohan


Sudah jamak bahwa oleh sebagian masyarakat, sinetron yang telah menjadi suguhan rutin di layar kaca Indonesia, dinilai kurang memberikan pembelajaran kesejatian hidup. Karena, cerita-cerita yang diangkat cenderung mengekspos hal-hal yang berbau hedonisme, sadisme, konsumerisme, sinisme, materialisme, konyolisme, hardikisme, klenikisme, dan isme-isme lainnya yang berkonotasi kurang ”sedap” dilihat. Cerita-cerita semacam itu, disadari atau tidak, amat dahsyat mencekoki masyarakat penggila sinetron untuk hidup pragmatis, individualis, dan sekuleris. Bahkan, pengaruhnya tidak hanya terbatas pada mereka yang demam sinetron, tetapi juga merambah pada mereka yang tergolong pasif melihat sinetron.

Maka, semenjak menjamurnya sinetron di masyarakat, tak jarang dijumpai gaya hidup yang hanya copy paste dari sinetron. Dari hal-hal yang boleh dibilang sepele, seperti gaya berpakaian, berbicara, menata rambut, hingga berperilaku (mudah) misuh-misuh, berbohong, dan hidup ekonomi sukses secara bimsalabim. Apalagi sinetron yang diusung lebih banyak menampilkan cerita kehidupan keluarga kaya, yang kontradiktif dengan kehidupan nyata masyarakat pemirsa. Sinetron akhirnya hanya lebih menjadi provokator psikologis. Yang, ”menghasut” orang untuk melakukan segala cara demi memenuhi keinginan hidup yang didambakan serupa yang mereka lihat di sinetron.

Dengan demikian, dapat dikatakan sinetron hanya menjual kebodohan bagi masyarakat pemirsa. Masyarakat pemirsa tidak (lagi) realistis. Masyarakat, lebih-lebih kaum ibu -yang sebagian besar memang penghobi sinetron- hanya menjadi plagiat-plagiat sikap. Tidak memiliki keontentikan sikap. Ikut sana, ikut sini. Tidak memiliki daya kritis sama sekali. Bahkan karena ”kelembekannya” itu, kemudian muncullah ”bintang-bintang” baru sinetron di tengah-tengah masyarakat nyata, yang berakting dalam keluarga, di tempat kerja, kantor, pasar, mal-mal, dan di hampir semua tempat.

Di sisi lain, kebodohan pekerja kreatif semakin terlihat jelas lewat sinetron. Buktinya, tidak hanya karena sinetron itu kebanyakan adopsi dan adaptasi dari mancanegara, tetapi pekerja kreatif (sendiri) pun sering melanggar logika-logika dalam berkarya. Hanya karena mengejar ”keuntungan”, misalnya, alur cerita diolor-olor hingga demikian panjang. Dan bukan tidak mungkin hal itu berdampak pula pada substansi cerita yang akhirnya tidak masuk akal oleh karena dipaksa-paksakan itu. Bahkan dalan bagian cerita sering teralami pengulangan-pengulangan yang tidak berarti. Coba Anda lihat saja sinetron! Anda pasti akan menjumpai banyak kekacauan logika dalam cerita. Yang, menimbulkan rasa bosan dan benci. Bukankah itu langkah ”kreatif” yang mengandung kebodohan belaka?

10 komentar:

  1. itulah pak, makanya saya sering ngomel kalau isteri sayanonton sinetron, apalagi infotainment

    BalasHapus
  2. ya begitulah , sinetron kita mendigin nonton islam ktp aja atau acara kuliner banyak manfaatnya. oke dah kalo mau brownies pesen aja ke http://kawanlama95.wordpress.com/2011/02/01/cara-membuat-brownies-coklat/

    BalasHapus
  3. Makin kemari, produsen sinetron makin kelihatan bahwa mereka memang lebih mementingkan uang ketimbang seni, Pak :)

    Menyedihkan... ganti channel aja meski saya tahu hampir semua channel pada jam2 tertentu isinya ya sinetron semua :)

    BalasHapus
  4. Jaman kebodohan, bahkan konon kebodohan sekarang lebih dari kebodohan orang Arab sebelum jaman Islam.

    BalasHapus
  5. saya tidak suka nonton sinetron bukan karena soal kebodohan tapi karena sinetron2 yg ditayangkan di sejumlah TV membosankan semua.

    BalasHapus
  6. kalo anak nonton tipi, harus didampingi selalu. selain dari apa yang dia tonton, kesehatan juga bisa terganggu kan.. (:

    BalasHapus
  7. Saya juga jadi ngelus dada melihat sinetron Indonesia. Mending nonton 'mancing mania' atw 'si bolang', Pak.

    BalasHapus
  8. begitulah nasib sinetron yang sudah dikendalikan oleh kaum pemilik modal, pak. kisah2 yang diangkat lebih mempertimbangkan nilai jualnya ketimbang nilai2 edukatif yang mencerahkan buat pemirsanya.

    BalasHapus
  9. tapi tidak dengan sinetron satu ini , aq wajib nonton sampe episod trakhir . . .

    '' PUTRI YANG TERTUKAR ''

    yg tayang di stasiun swasta stiap hari mulai pukul 19.30

    BalasHapus
  10. sekali lagi putri yang tertukar . . . sampai episode terakhir wajib di tonton

    BalasHapus

""