Selasa, 08 Februari 2011

Tak Satu pun Orang Memiliki Hak

Tulisan ini sejatinya berangkat dari pernyataan seorang teman, yang menurut saya kaya pengalaman dalam bekerja. Karena, dia telah lama menjabat kepala personalia di salah satu perusahaan besar nasional yang bergerak di bidang elektronika. Dengan posisi kerja yang demikian itu, tentu banyak problem kerja yang dihadapi. Mencari solusi untuk menyelesaikan problem yang ada pasti menjadi makanan sehari-hari. Berhadapan dengan banyak karakter karena membawahi ratusan karyawan, menuntutnya untuk lebih banyak belajar dari setiap peristiwa yang dijumpainya agar dapat membangun komunikasi bermakna dengan siapa saja, terlebih-lebih dengan partner kerja.

Sekali pun tidak sama persis dengan apa yang diucapkan, pernyataan itu setidak-tidaknya dapat saya utarakan seperti ini, orang yang bekerja sebenarnya tidak memiliki hak, di antaranya hak menerima gaji. Saya mengernyitkan dahi ketika mendengar pernyataan itu karena sungguh bertolak belakang dengan apa yang selama ini saya pahami. Yang saya yakini pula banyak orang yang pemahamannya tak jauh berbeda dengan pengetahuan saya. Bahwa, hak (kita) senantiasa melekat pada tugas/kewajiban (kita). Jadi, bagi saya selama ini, hal yang tidak masuk akal jika ada kewajiban, tetapi tidak ada hak.

Itulah sebabnya, saya meminta kepada teman saya untuk menjelaskan apa sebenarnya maksud pernyataannya itu. Apa benar, orang tidak memiliki hak? Bagaimana mungkin bisa begitu? Kalau memang begitu, upah/gaji/honor yang diterima oleh setiap orang yang bekerja itu namanya apa? Pertanyaan-pertanyaan itu dan beberapa sejenisnya lagi berkecamuk di pikiran saya. Meski, pada akhirnya pikiran saya lega selega orang yang mengalami orgasme karena teman saya itu menjelaskan secara gamblang.

Andai pada suatu ketika tulisan ini dibaca oleh teman saya itu, semogalah diterimanya dengan lapang dada. Karena, menurut saya, tulisan ini sekalipun tak sama persis, tetapi saya yakini intinya serupa dengan penjelasan yang disampaikan kepada saya beberapa waktu lalu. Begini kira-kira: setiap orang seharusnya memahami bahwa ketika mereka memiliki kewajiban untuk bekerja, ya bekerjalah dengan sebaik mungkin selama badan dalam kondisi yang prima. Bekerja sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama antara penerima dan pemberi kerja. Bahkan, amat dianjurkan bekerja dengan segala keikhlasan dan penuh rasa syukur. Sebab, faktanya ada banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan sekalipun telah merindukan pekerjaan itu bertahun-tahun. Atau kalau toh ada yang bekerja, tetapi tubuh kurang prima, tentu sangatlah menyedihkan bukan?

Maka, senyampang kondisi tubuh, jiwa, dan pikiran berada dalam kondisi yang ”menguntungkan”, bekerjalah dengan hati. Artinya, bekerja sebaik-baiknya tanpa harus memikirkan, misalnya, berapa nanti bayarannya. Berapa nanti keuntungannya? Berapa persen kerugiannya? Dan sebagainya dan sebagainya. Kalau orang bekerja terus-terusan memikirkan berapa kelak gaji/upah/honornya, atau ruginya, untungnya, atau bahkan (sampai) berpikir buat apa bekerja keras-keras kalau toh bayarannya tak naik-naik, maka, demikian teman saya menegaskan, orang itu tidak akan mengalami masa panen sepanjang hidupnya. Sebaliknya, ia akan mengalami masa paceklik secara berkelanjutan. Mengapa? Karena ketika orang itu bekerja tidak memfokuskan pada pekerjaan, tetapi malah berorientasi pada materi. Sikap begitu jelas berdampak pada buruknya kualitas kinerja dan produk yang dihasilkan pun niscaya tak memenuhi target.

Sampai pada titik ini, saya masih bingung terhadap apa yang dimaksudkan teman saya itu. Sebab, jelas kok benar-benar bahwa semua itu terkait dengan hak kita, tetapi teman saya mengatakannya tak ada hubungannya dengan hak seseorang sebagai pekerja. Hidup, kesehatan, kekuatan, dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk bekerja, lanjut teman saya, sejatinya adalah milik Tuhan. Jadi, yang berhak menerima gaji dan fasilitas lainnya dari pemberi kerja adalah Tuhan, bukan kita. Lantas, semuanya itu oleh Tuhan diberikan kepada kita sebagai berkat secara cuma-cuma. Ooo begitu!

6 komentar:

  1. sebuah pendapat yang benar2 dalam makna falsafinya, pak. butuh basis religius yang kuat untuk bisa mengaplikasikan pandangan hidup seperti itu. layak jadi bahan renungan dan refleksi.

    BalasHapus
  2. kita harus menjadi berkat bagi sesama karena Hidup, kesehatan, kekuatan, gaji fasilitas, dll diberikan Tuhan kepada kita secara cuma-cuma.

    BalasHapus
  3. Wah, dalam sekali permenungannya, Pak Guru.
    Benar, semua ini hanya pemberian sekaligus titipan

    BalasHapus
  4. banyak yang bilang kita di dunia ini hanya numpang sementara n dikasih amanah sama orang lain, tapi pada akhirnya semuanya akan dipertanggung jawabkan

    BalasHapus
  5. blogwalking pagi-pagi yu sob...

    BalasHapus
  6. yang saya tangkep sih, kite berjuang dulu, yg penting proses, hasil belakangan. kalo usaha kita maksimal, hasil akhir akan mengikuti.. :)

    BalasHapus

""