Sabtu, 05 Februari 2011

Workshop Bedah SKL: Optimalisasi Profesi Guru dalam Pembelajaran


Beberapa bulan sebelum pelaksanaan ujian nasional (UN), seperti telah biasa terjadi dari waktu ke waktu, selalu diadakan kegiatan workshop bedah standar kompetensi lulusan (SKL). Kegiatan tersebut berangkat dari harapan untuk mengawal peserta didik yang mengikuti UN dapat lulus. Itulah sebabnya, guru yang mengajar di kelas sulung, terutama guru mata pelajaran (mapel) yang di-UN-kan, mengikuti workshop bedah SKL.

Di minggu terakhir Januari 2011 ini Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP, mengagendakan kegiatan kependidikan Workshop Bedah SKL 2011. MGMP Mapel Bahasa Indonesia, misalnya, melaksanakan kegiatan workshop bedah SKL itu selama dua hari, yakni Minggu (23/1) dan Senin (24/1). Yang, diikuti sekitar 50 guru, baik guru SMP negeri maupun swasta, bahkan ada yang dari MTs. Untuk ”menghidupi” kegiatan itu setiap peserta dikenakan biaya Rp 125.000,00. Bisa jadi karena pembiayaan sejumlah itu, tidak semua guru di kelas sulung yang mengampu mapel yang di-UN-kan dikirim oleh sekolah.

Akan tetapi, jika setiap guru yang dikirim berkehendak ”menularkan” pengetahuan yang diperolehnya kepada guru sejenis di sekolahnya, maka dapat dipastikan pengetahuan dan ”oleh-oleh” dari kegiatan workshop bedah SKL itu dapat dinikmati oleh semua guru yang berkepentingan. Untuk kemudian dikenakan kepada peserta didik yang menghadapi UN.

Maka, wajar jika dalam workshop bedah SKL, yang dimulai pukul 08.30 WIB hingga 14.30 WIB itu memuat lima tujuan. Tujuan itu adalah, 1) meningkatkan kompetensi guru mapel Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus dalam menganalisis hasil UN 2010; 2) meningkatkan kompetensi guru mapel Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus dalam menganalisis soal UN 2010; 3) meningkatkan kompetensi guru mapel Bahasa Indonesia SMP kabupaten Kudus dalam menganalisis SKL UN 2011; 4) meningkatkan kompetensi guru mapel Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus dalam memahami kaidah penulisan soal; dan 5) meningkatkan kompetensi guru mapel Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus dalam mengembangkan soal prediksi berdasarkan kisi-kisi/SKL 2011.

Kalau keempat tujuan yang pertama lebih mengarah pada tataran pengetahuan, tujuan yang kelima mengarah pada praktik guru dalam membuat soal-soal, terutama soal-soal yang ”mampu” memrediksi soal UN 2011. Oleh karena itu, agar lebih ”menyentuh” secara esensi, SKL mapel Bahasa Indonesia SMP 2011, yang memuat 25 indikator untuk aspek membaca dan 23 indikator aspek menulis, dibedah secara berkelompok untuk dituangkan dalam bentuk soal. Karenanya, sekitar 50 guru dibentuk menjadi lima kelompok. Berdasarkan jumlah indikator yang tersedia (48 indikator), tiap-tiap kelompok mendapat jatah beberapa indikator, yang pembagian jumlahnya relatif sama.

Selanjutnya, tiap anggota kelompok rata-rata memperoleh satu indikator untuk dikembangkan menjadi dua soal. Satu soal untuk paket A dan satunya paket B. Tentu saja harapannya, soal yang tersusun itu paling tidak mendekati kualitas soal UN. Soal harus orisinil, artinya tidak copy paste. Bahan bacaan untuk soal harus aktual, kecuali teks sastra. Dengan demikian, di samping harus bersikap selektif terhadap teks bacaan, tiap anggota kelompok (seorang guru) dituntut untuk memiliki pemahaman secara benar akan kaidah penulisan soal, dalam hal ini penulisan soal pilihan ganda. Ini (hanya) salah satu fase, yaitu fase persiapan evaluasi, yang harus dikuasai guru secara benar.

Soal-soal yang telah disusun oleh anggota kelompok dikompilasi dalam kelompoknya, lantas dipresentasikan di hadapan kelompok lain. Ditanggapi oleh kelompok lain, untuk mendapatkan bentuk soal yang berkualitas, baik dari sisi bentuk maupun isi. Kemudian soal yang telah mengalami proses ”pengukuhan” lewat presentasi itu disatukan dengan hasil kerja kelompok lain. Dipilah menjadi dua, soal paket A dan B. Digandakan untuk didistribusikan kepada sekolah. Kemudian diberikan kepada peserta didik sebagai bahan uji coba UN.

Meskipun melalui workshop bedah SKL seolah hanya berorientasi pada UN, diakui atau tidak, guru-guru yang mengikuti mendapatkan (banyak) pencerahan terkait dengan profesi mereka sebagai pengajar dan pendidik. Sebab, perjumpaan dengan sesama guru dalam kegiatan semacam itu, tidak hanya memperoleh masukan-masukan positif, tetapi sekaligus sebagai media untuk ”becermin” akan kompetensi diri demi optimalisasi profesi.

1 komentar:

""