Selasa, 08 Maret 2011

Belajar karena Hobi


Begitu saya mendengar musik berderang dari ruang ekstrakurikuler (ekskul) band, saya melangkah menuju ruang itu. Letaknya agak jauh dari ruang guru. Tetapi, tidak menjadi persoalan karena saya memang hendak bertemu dengan guru ekskul band. Begitu saya memasuki ruang yang pintunya terbuka lebar itu, saya melihat ada beberapa anak yang masing-masing bersibuk diri dengan alat musik yang dihadapi, kecuali yang (barangkali) vokalisnya, yang masih diam berdiri melihat kesibukan teman-temannya memainkan musik.

Terlihat di antara mereka, dua orang dewasa yang berperan sebagai pelatih.  Saya sudah mengetahui sejak lama karena memang keduanya sering membantu sekolah kami bila sedang beracara. Tentu saja acara yang terkait dengan hiburan musik. Saat ada acara perpisahan, halalbihalal, rapat komite, atau acara lain yang ada hiburannya.

Saat itu anak yang memainkan drum tampaknya menjadi perhatian. Terbukti, salah satu pelatih memegang drum dan memainkannya, sementara anak yang sebagai pengedrum berada di sebelahnya mencermati dengan saksama dalam waktu yang relatif lama. Saya berkesimpulan, pelatih itu sedang memberi contoh kepada anak pengedrum. Contoh yang diberikan tidak utuh satu lagu, tetapi hanya bagian awal lagu. Diulang berkali-kali. Setelah itu, anak pengedrum diberi kesempatan untuk memukul drum seperti yang dicontohkan. Tetapi, ada kekeliruan. Sehingga, diberi contoh lagi dan diulang beberapa kali. Kemudian, anak pengedrum menirukan, pun masih ada yang salah. 
Pemegang (gitar) melodi juga diberi contoh oleh pelatih satunya. Tetapi, tidak berulang-ulang seperti pengedrum. Sekali mendengar dan melihat contoh, anak pemegang melodi itu sudah bisa menirukan. Sehingga, pelatih satunya itu akhirnya ikut membantu memahamkan beberapa pengetahuan terkait dengan memainkan drum kepada anak pengedrum. Jadinya, satu anak mendapat perhatian dari dua pelatih.
Ketika anak pengedrum memukul drum memainkan bagian sebuah lagu yang dicontohkan, pelatih satu memukul-mukulkan kedua jari telunjuknya seolah bermain drum persis di sebelahnya, sementara pelatih satunya menepuk-tepukkan telapak tangannya membangun sebuah irama, yang seirama dengan pukulan kedua jari telunjuk. Tentu, hal itu tak hanya menjadi contoh, tetapi juga penyemangat bagi anak pengedrum.

Sekali-kali ada nasihat yang disampaikan oleh kedua pelatih itu kepada pengedrum sehingga sesaat deram drum berhenti. Nasihat yang tampaknya serius, tetap tersampaikan dalam suasana yang akrab, tidak ada kesan menegangkan, bahkan saya melihat ada tawa di dalamnya. Anak pengedrum menerimanya dengan sukacita. Itu tecermin dari wajahnya yang tampak tetap ceria.

Meskipun anak yang lain, yakni pemain (gitar) bas, melodi, dan orjen tidak ”tersentuh” oleh pelatih, sekali-kali mereka memainkan alat musiknya (tanpa perintah) mengikuti hentakan drum. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebuah proses pembelajaran mandiri sedang terjadi. Pembelajaran yang demikian ini, menurut saya, sangat baik dan karenanya diidamkan oleh setiap guru dan orang tua. Baik, karena belajar mandiri yang lebih didorong oleh motivasi diri, tentu akan menghasilkan kualitas belajar lebih baik ketimbang belajar karena motivasi orang lain.

Hal lain yang dapat saya catat adalah tidak terlihat rasa bosan, terutama anak-anak yang memegang gitar, orjen, dan vokalisnya. Meskipun mereka terkesan ”dibiarkan” (sementara) oleh pelatih karena pelatih terkonsentrasi pada pengedrum, tidak ada satu pun (di antara mereka) yang terlihat bosan, lantas bersikap ”tidak nyaman”, misalnya. Mereka tetap menanti dengan tenang. Kalau yang memegang gitar dan orjen sekal-kali masih dapat mengikuti aktivitas bermusik, tidak demikian vokalisnya. Yang saya lihat adalah ia, vokalisnya, berdiri diam dalam waktu yang boleh dibilang lama. Ketika tampaknya pemain drum siap (pemain yang lain juga siap), vokalis baru beraktivitas. Melantunkan beberapa lagu, yang sepertinya lagu-lagu yang telah terkuasai oleh pemain musik, kecuali satu lagu yang oleh pengedrum baru saja dipelajari. Namun demikian, secara umum, menurut saya, sebuah proses pembelajaran di ruang ekskul band sore itu sangat berhasil. Apalagi akhirnya saya, meskipun menunggu dalam waktu yang relatif lama, bisa bertemu dengan guru ekskul band itu. 
Keberhasilan, barangkali tidak dapat dilepaskan dari sisi kesenangan/hobi seseorang. Oleh karena hobi, seseorang belajar hingga tidak mengenal lelah. Waktu yang telah tersedia bisa jadi akan senantiasa terasa kurang. Akan memandang bahwa waktu yang disediakan amat singkat. Dan karenanya mereka sering memanfaatkan waktu-waktu lain untuk terus belajar. Juga oleh karena hobi, seseorang akan terus bertanya kepada orang yang bisa dan kemudian melakukannya secara sungguh-sungguh, tanpa menunggu perintah. Oleh karena hobi, belajar mandiri terjadi.  

13 komentar:

  1. kalau udah hobi, biasanya jadi lebih mudah untuk belajar....
    karena yang disukai itu biasanya lebih mudah diterima...he..he..

    BalasHapus
  2. bener sekali, pak, malah ada yang bilang kalau hobi itu mahal harganya. kalau orang sudah hobi, apa pun bisa dikorbankan.

    BalasHapus
  3. Melakukan sesuatu berdasarkan kesenangan memang menyenangkan, Pak.

    Saya dulu juga ngeband waktu sekolah dan rasanya lebih menyenangkan ketimbang belajar Matematika/Fisika hahaha :)

    BalasHapus
  4. HObi... atau menyukai, salah satu faktor pedongkrak untuk bisa menguasai,,,(mungkin) hahahh

    BalasHapus
  5. bener banget paak. setuju deh. hobi itu bisa menjadi titik awal keberhasilan seseorang. kan ada juga tuh hobi yang diseriuskan lantas menguntungkan ;D kalo kita ngelakuin apa yang kita senangi pasti hasilnya maksimal ;D

    BalasHapus
  6. @DV

    Dan, fakta itu sepertinya tetap langgeng hingga sekarang, Om. Anak-anak, kini, berbondong-bondong mendekat jika ada band; sebaliknya, menjauh jika ada matematika.

    BalasHapus
  7. emang kalo sesuatu yang didasari oleh kesenangan, maka akan memotivasi diri untuk belajar. :)

    BalasHapus
  8. Saya juga punya hobby bermain di bidang musik tapi sayang sekali terpasung oleh waktu untuk kepentingan keluarga jadi sedikit menjadi dilema, namun masih bisa menikmatinya menjadi pengamat perkembangan musik tanah air dan simplenya berkaraoke sudah lumayan tersalurkan hobbyku.

    BalasHapus
  9. kalaupun bukan hobi tapi dilakukan secara rutin dan bersungguh2, pastinya juga akan berhasil yaa :D

    BalasHapus
  10. @cahayabali

    Benar sekali, kerutinan dan kesungguhan beraktivitas dalam bidang tertentu adalah modal utama dalam meraih keberhasilan. Dan, itu yang sering kurang disadari oleh sebagian orang, barangkali termasuk kita?

    BalasHapus

""