Selasa, 22 Maret 2011

Cerdas, Refreshing Menjelang Lomba


PENYEGARAN: Kegiatan yang bersifat
rekreatif sangat efektif untuk persiapan
menghadapi "kegiatan puncak".
(gambar dari amillavtr.wordpress.com)

Saya menghampiri anak-anak yang berlatih baris-berbaris dengan segala variasinya pada suatu siang. Ketertarikan saya untuk menghampiri mereka adalah, betapa teriknya mentari siang itu tak menjadi penghambat semangat berlatih. Wajah mereka terlihat merah padam. Terbakar panas matahari. Akan tetapi, masih saja mereka ceria. Bahkan, ketika saya mengingatkan mereka kok tetap berlatih dalam suasana panas, yang menurut saya, demikian garang panasnya, mereka malah mengatakan sudah biasa. Maksudnya, tentu saja, dalam kondisi panas mereka  sering berlatih.

Boleh jadi memang benar. Sebab, mereka termasuk anak-anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler (ekskul) pembinaan baris-berbaris (PBB), yang diadakan di sekolah seminggu sekali. Pelatih mereka seorang tentara. Pembinaannya sangat disiplin dan cenderung “keras”. Suatu kali saya pernah melihat di saat beberapa di antara mereka melakukan kesalahan ketika berlatih. Pelatih itu memberikan hukuman. Saat itu, mereka disuruh pusap. Hukuman fisik. Akan tetapi, saya berpikir, sanksi itu masih berkorelasi dengan jenis ekskulnya.  Baris-berbaris bukankah berhubungan dengan fisik?  

Sekalipun begitu, berlatih di halaman beton (berpelester), ketika siang hari saat panas, dapat kita bayangkan. Pantulan panas yang berasal dari bawah, lantai pelester, itu tentu menambah suhu panas yang menimpa tubuh. Sangat panas, karena tubuh teradiasi panas dari atas dan bawah. Sekalipun bersepatu dan bertopi tetap saja panas itu terasa tinggi. Bahkan malah karena dalam keadaan terbungkus, badan terasa gerah, sumuk. Akan tetapi, itu lebih baik ketimbang membiarkan badan tersengat ultraviolet secara langsug.

Saya membayangkan jika kegiatan itu diteruskan, akan berdampak pada terjadinya dehidrasi dalam tubuh. Cairan dalam tubuh bisa habis karena banyak keringat keluar dari tubuh. Tentu saja keluarnya keringat dari tubuh dalam kondisi begitu relatif lebih cepat. Menguras cairan dalam tubuh, yang berarti mengikis oksigen yang dibutuhkan tubuh, dan akhirnya menjadikan tubuh lemas, tak berdaya.

Keteguhan mereka berlatih hingga siang ternyata karena didasari sebuah sikap yang boleh dibilang masuk akal. Mereka memasuki fase latihan yang terakhir, meski lombanya akan diadakan (besok) lusanya. Sehari sebelum lomba, mereka akan total beristirahat. Tidak melakukan aktivitas fisik berat. Mengistirahatkan tubuh agar segala kelelahan menghilang dan memasuki waktu hari lomba, kondisi badan kembali segar. Saya yakin, mereka “berani” mengambil langkah begitu karena persiapan lomba, terutama terkait dengan materi lomba, sudah sangat mereka kuasai. Jadi, kalaupun sehari sebelum mereka lomba, beristirahat, mereka akan tetap siap bertanding.

Cara yang demikian sering diabaikan banyak orang ketika hendak menghadapi “puncak kegiatan". Umumnya, jika besok ada ulangan/ujian, misalnya, malamnya orang masih belajar sdampai larut malam. Bahkan, subuh hari, lazimnya bangun dan belajar lagi untuk lebih menguasai materi. Barangkali Anda setuju seperti pikiran saya, bahwa cara begitu tidak efektif. Karena, bukan tidak mungkin karena semalaman belajar, hanya tidur sebentar, paginya justru lelah dan ketika menghadapi ulangan/ujian tidak dapat konsentrasi secara maksimal karena kantuk.

Karenanya, menurut saya, mereka cerdas.  Karena menjadikan satu hari sebelum lomba sebagai hari untuk beristirahat. Bahkan, jika memungkinkan perlu mengadakan kegiatan yang bersifat rekreatif. Mencari hiburan yang menyegarkan sehingga (sungguh) dapat membangun suasana benak dan pikiran menjadi segar dan bugar. Dengan demikian, ketika menghadapi aktivitas “puncak”, misalnya mengikuti lomba, telah siap segalanya, baik moral maupun material. Bukankah begitu?  

3 komentar:

  1. sepakat, pak. persiapan memang harus dilakukan dengan matang. tetapi menjelang 'pertempuran' tubuh dan otak perlu diistirahatkan. istirahat itu adalah bagian dari persiapan juga...

    BalasHapus
  2. betul, saya setuju, termasuk cara berlatih dan cara memberi sanksi pada jenis ekskul seperti itu. dan itu hanya cocok untuk ekskul itu tidak cocok untuk ekskul lainnya

    BalasHapus

""