Kamis, 03 Maret 2011

Masih Harus (Banyak) Belajar


Saya merasa, meski telah relatif lama mengajar, masih banyak kekurangan di sana sini sebagai seorang guru. Saya tidak tahu, apakah teman-teman seprofesi juga mengalami hal serupa. Ketika sedang berinteraksi dalam proses belajar yang melibatkan peserta didik di kelas, misalnya, kekurangan itu begitu kentara. Tidak hanya bagaimana sulitnya mencari strategi mengajak peserta didik agar dapat menguasai materi pembelajaran, tetapi juga betapa sulitnya menciptakan daya untuk merangsang perasaan belajar mereka itu tumbuh. Membangun perasaan belajar peserta didik, yang merupakan modal awal peserta didik untuk menguasai materi pembelajaran, ini yang paling mengganggu diri saya. Sebab, membangun perasan belajar ini sungguh vital bagi peserta didik, namun sering gagal.

Vital, karena, menurut saya, perasaan belajar sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan dalam mengenyam ilmu. Kalau perasaan belajar hanya tumbuh sedikit, sudah bisa diramalkan bahwa dalam proses belajar tidak banyak yang dapat dihasilkan. Sebaliknya, jika perasaan belajar itu tumbuh maksimal, maka hasil belajar yang dipetik cenderung banyak. Kalau perasaan belajar tidak ada, tentu tidak menuai hasil seperti yang diimpikam.

Yang dimaksud perasaan belajar (dalam tulisan ini) adalah sikap hati yang penuh kesukacitaan, kebabahagiaan, keceriaan, kenyamanan, bahkan kerinduan untuk mau terus belajar. Kondisi hati yang demikian itu umumnya ditandai dengan tidak memendam rasa takut, tidak kecewa, tidak benci,  tidak bersikap minder, tetapi aktif berinteraksi, baik dengan sesama teman, guru, maupun seluruh warga sekolah yang dijumpai.  

Akan tetapi, seperti telah disinggung di atas, membangun perasaan belajar acapkali gagal. Dalam satu kelas, yang jumlah peserta didiknya sekitar 32 anak, yang seminggu saya masuki dua kali, itu selalu ada satu dua bahkan lebih anak yang  belum dapat membangun perasaan belajar. Hal serupa terjadi juga di kelas-kelas lain yang saya masuki. Memang peserta didik yang mengalami kasus demikian tidak banyak. Jumlahnya relatif kecil jika dibandingkan dengan peserta didik yang telah bisa membangun perasaan belajar. Sekalipun jumlahnya tidak banyak, tetap saja itu dinamakan kegagalan. Kegagalan saya sebagai seorang guru. Yang, semestinya memiliki (banyak) cara bagaimana membawa setiap peserta didik yang (memang) beragam keberadaannya itu ke dalam satu suasana belajar yang menggairahkan.
Saya tidak dapat ”memaksa” peserta didik yang belum siap perasaan belajarnya  untuk siap. Taruhlah sekadar  secara verbal, misalnya, dengan menyuruh mereka untuk memerhatikan apa yang sedang saya sampaikan/ajarkan. Saya menyadari kalau tindakan itu saya lakukan, sekalipun secara verbal, belum tentu diterimanya secara sukacita. Tetapi, barangkali oleh karena hal itu ”suruhan”, mereka akhirnya mengubah (juga) sikap ”mula-mula” menjadi, ini yang sangat tidak mendidik, ”seolah-olah memerhatikan”. Seolah-olah memerhatikan bukankah dapat berarti juga tidak memerhatikan? Malah ada unsur kepura-puraan. Yang lebih parah (lagi) jika reaksi  yang dimunculkan adalah sikap benci terhadap saya. Benci terhadap saya berarti benci terhadap pelajaran yang saya bawakan. Saya menyadari, saya masih harus (banyak) belajar memahami benak mereka.

12 komentar:

  1. ga ada batasnya untuk belajar kan pak? sebagai guru pun kita harus selalu berkembang biar bisa mengimbangi jaman.. (:

    BalasHapus
  2. Kita semua memang masih terus harus belajar dan belajar, Pak. Jangan dumeh kita guru.

    BalasHapus
  3. Bagaimanapun juga susah untuk mengerti pikiran mereka semua, Pak.
    Jadi menurut saya justru bagaimana cara membuat mereka berpikir bagaimana mencintai pelajaran tanpa memandang gurunya..

    Bisa ngga ya?

    BalasHapus
  4. @DV

    Membangun sikap mencintai pelajaran tanpa melihat gurunya, barangkali agak sulit dikenakan pada anak-anak negeri ini, Om. Masalahnya, di mata mereka, guru dan mata pelajaran yang diampunya serupa keping mata uang yang bersisi dua nan menyatu. Bahkan, tak sedikit, anak yang kurang respek terhadap guru yang sama sekali tidak mengajar di kelasnya.

    BalasHapus
  5. kejujuran seperti ini menjadi amat penting dalam proses pembelajaran, sehingga terus memacu diri utk memperbaiki berbagai kelemahan dan kekurangan yang ada, pak. saya sendiri juga merasakan hal yang sama. betapa tidk mudahnya utk memilih metode pembelajaran yang tepat utk sekian anak yang memiliki tipe dan modalitas belajar yang berbeda-beda. semoga secara bertahap kita bisa menguranginya, sehingga proses pembelajaran yang kita desain selalu dirindukan oleh anak2.

    BalasHapus
  6. kita akan terus belajar untuk memahami orang lain apalagi anak didik kita pak. tapi sungguh menyenangkan bila kita bisa menemukan problem yang mereka hadapi dan membantu mereka bangkit. itu seni seorang pengajar dan saya pengen banget bisa ngajar yang tetap \☺/

    BalasHapus
  7. sungguh hal yang luar biasa seorang guru punya pemikiran seperti bapak. karena ada beberapa dari guru cuek, mau muridnya gimana2 yg penting dia udah ngisi absen..

    BalasHapus
  8. @sawali tuhusetya

    Kecerdasan untuk menemukan strategi itulah yang hingga kini masih menjadi kerinduan saya, Pak. Saya belum mampu menjumpainya Pak, padahal keinginan diri untuk mengajak anak-anak bertumbuh maksimal sesuai dengan modalitas mereka masing-masing terus memburu.

    BalasHapus
  9. @☺☺☺

    Saya berdoa agar Sobat memeroleh bagian yang diinginkan, yakni mengajar yang tetap.

    BalasHapus
  10. sama tu.
    ku juga harus banyak belajar.
    tuk bisa capai cita-2 setinggi langit.
    kunjungi jg bahan bacaan saya :
    jurnal ekonomi andalas

    BalasHapus
  11. dengan diawali dari guru seperti Bapak yang selalu berusaha untuk terus belajar, mudah-mudahan dapat memotivasi siswa untuk terus pula selalu belajar

    BalasHapus
  12. @bekti patria

    Ya, Bu, terima kasih. Amin, amin. amin.

    BalasHapus

""