Jumat, 04 Maret 2011

Melawan Kecerdasan Gila


Rasanya, pengalaman menarik yang saya dapatkan dari persekutuan gereja beberapa waktu lalu, layak untuk dibagikan bagi sesama. Barangkali pengalaman bersahaja tersebut sungguh memiliki manfaat. Apalagi, terkait dengan konteks zaman sekarang, yang hampir dapat dipastikan banyak orang mengalami beban psikologis. Beban psikologis yang disebabkan oleh berbagai persoalan hidup.  Apakah persoalan keuangan, pendidikan anak, ekonomi keluarga, kebutuhan makan, pekerjaan, dan sebagainya dan sebagainya.

Problema-problema yang demikian itu, diakui atau tidak, kini, sungguh membelenggu banyak orang. Yang, faktanya memang harga kebutuhan hidup dari hari ke sehari semakin meninggi, sementara pendapatan cenderung tetap, ditambah lagi sulitnya lapangan pekerjaan dan membludaknya tenaga kerja berpendidikan yang masih banyak menganggur. Kondisi yang membawa gerak hidup manusia, mau tidak mau, harus bersaing ketat. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, saking ketatnya, sebagian orang mengambil cara-cara yang mengabaikan moral.

Dalam situasi yang semacam itu hampir dapat dipastikan banyak orang mengalami kekhawatiran. Kekhawatiran tidak dapat makan, uang sekolah anak tidak terbayar, kendaraan kredit diambil paksa oleh depkolektor karena nunggak beberapa bulan, anak tidak mendapat sekolah karena nilai ujian akhir nasional (UAN) kurang, dan masih banyak lagi kekhawatiran yang ”menjajah” keberlangsungan hidup.

Jika kekhawatiran itu berlebihan, bukan tidak mungkin akhirnya mengarahkan orang untuk mereka-reka ”cara” yang dipandang dapat merampungkan masalah yang melanda. Pikirannya diperas begitu rupa untuk menduga-duga kemungkinan yang terjadi kelak. Sehingga sering ranah yang seharusnya tidak menjadi bagiannya untuk dipikirkan, dengan segala rekayasa imajinasi dipikirkan/dibayangkan.

Saya pun pernah suatu kali melakukan hal serupa. Ketika saya sakit tipes yang durasi waktunya sangat lama menurut ukuran saya, tebersit sebuah pemikiran konyol karena pikiran yang terlampau jauh mereka-reka. Bagaimana nanti istri saya jika saya mati? Bagaimana masa depan anak-anak kami? Apalagi mereka masih kecil-kecil? Bagaimana nanti, ah, (malu saya tulis di sini). Kasihan istri saya. Dan sebagainya dan sebagainya. Dalam bahasa saya, reka-mereka itu sebuah bentuk ”kecerdasan gila” karena ranah yang seharusnya tidak patut saya pikirkan, malah saya jadikan bahan pikiran.

Ranah itu bukankah milik Tuhan? Tuhan yang menentukan orang hidup atau mati, Tuhan juga yang memastikan masa depan anak-anak, dan Tuhan pula yang menentukan kelanjutan hidup istri saya dengan segala tanggung jawab yang diembannya. Buat apa saya berpikir sekonyol itu? Memikirkan hak-hak otoritas Tuhan. Itu bukan bagian saya, itu bagian Tuhan. Dan, saya pun tentu tidak akan mampu memecahkan rahasia yang sedang terjadi dalam hidup saya dan keluarga ketika itu. Ah, itu perbuatan yang sia-sia, bukan?

Yang terjadi, andai rekayasa berpikir (kecerdasan gila) itu terus saya gemuruhkan,  penderitaan menimpa bertubi-tubi. Ini logika ilmu kesehatan, begitu kata teman saya, yang dulu pernah mengalaminya sendiri. Kekhawatiran yang berlebihan  berdampak pada benak dan pikiran merapuh. Orang akhirnya dapat sakit karena aras-arasen makan, malas tidur, banyak melamun, menyembunyikan diri dalam kamar, dan menjauhi pergaulan-pergaulan sosial, yang semuanya itu dapat menimbulkan goncangan jiwa alias stres dan depresi.
 Itulah sebabnya, rekayasa berpikir (kecerdasan gila), yang barangkali boleh juga disebut sebagai ”permainan pikiran”, seperti salah satu teman persekutuan saya menyebut, harus dilawan dengan ”permaian pikiran” juga. Permainan pikiran yang merusak, tak hanya raga, tetapi juga jiwa, itu perlu dilibas habis-habis dari perikehidupan kita. Jangan diberi kesempatan sekecil pun meraja dalam diri. Yang, bukan tidak mungkin pada suatu saat, permainan pikiran, kecerdasan gila, itu malah membunuh kita sendiri.

Taruhlah misalnya, kita takut ikut rekreasi hanya karena trauma masa lalu karena melihat kecelakaan dahsyat, yang menelan banyak korban jiwa. Hanya karena kita berpikir yang tidak-tidak. Misalnya, bagaimana nanti jika terjadi kecelakaan? Apalagi jauh dari tempat tinggal? Siapa yang menolong? Bagaimana kalau sampai jiwa terenggut maut? Tentu tidak jadi menikah? Calon istri/suami, lalu, bagaimana? Pikiran-pikiran yang terlampau ”cerdas” inilah yang sangat mengganggu. Bukankah itu sebuah permainan pikiran saja?

Maka, permaian pikiran yang demikian itu segera dilawan dengan permainan pikiran yang berbeda, kata teman saya menyitir nasihat dokter yang pernah memeriksanya. Ketika hendak rekreasi yang kita pikirkan hendaknya hal-hal yang positif. Misalnya, nanti akan guyonan dengan sahabat-sahabat di dalam bus, tentu akan mengasyikkan jika melihat pemandangan di sepanjang jalan yang dilewati, nanti akan mengabadikan keindahan objek-objek rekreasi, makan bakso yang terkenal di objek tujuan, dan seterusnya, pokoknya yang positif-positif. Dipastikan ketenangan, kenyamanan, kesejahteraan, dan kedamaian batin itu meraja dalam diri, yang membuat hidup jauh dari ancaman stres dan depresi. Inilah pengalaman bersahaja yang saya peroleh dari teman sepersekutuan, yang saya bagikan untuk Anda.

6 komentar:

  1. kadang terlalu banyak berpikir juga bisa ,erusak kesehatan lho/// "D

    BalasHapus
  2. Whehe bener juga sih ya :D Makasih atas pengalamannya :)

    BalasHapus
  3. kebanyakan permasalahan kembalinya ke uang ya sob hehehehehehehehe.....


    salam persahabatan selalu dr MENONE

    BalasHapus
  4. Kita memang harus mampu mengendalikan diri untuk tidak terbenam dalam permainan pikiran yang sering tidak realistis itu, Pak. Salah satu cara yang saya lakukan untuk itu ya melalui aktifitas ngeblog ini.

    BalasHapus
  5. @menone
    Salam persahabatan juga, sobat.

    BalasHapus
  6. @M Mursyid PW

    Benar, Pak. Malah melalui menulis dapat menyehatkan pikiran dan emosi.

    BalasHapus

""