Senin, 28 Maret 2011

Menciptakan Kebutuhan Siswa

KEBUTUHAN SISWA: Guru harus
kreatif menciptakan kebutuhan-kebutuhan
siswa demi penggalian kompetensi.
Kemarin sore, menjelang mandi, si bungsu mengundang saya agar saya mau memandikannya. Air hangat telah dipersiapkan di ember panjang oleh ibunya. Yang, sekaligus (sebetulnya) hendak memandikannya. Akan tetapi, masih saja si bungsu meminta saya yang memandikan dirinya. Dimandikan oleh ibunya tidak mau. Hanya, karena saya katakan bahwa saya sedang menyapu dan ia sendiri melihatnya, ia, si bungsu, itu akhirnya mau juga dimandikan oleh ibunya.

Saya tidak mengerti bagaimana perasaan si bungsu kala itu. Yang jelas, awalnya ia meminta saya, tetapi akhirnya ibunya yang memandikannya. Jelas tidak sesuai dengan permintaannya bukan? Si bungsu butuh saya, (sementara) belum butuh ibunya. Mungkinkah respon si bungsu oleh karena ”kebutuhannya” ketika itu kurang terjawab, ia kemudian kehilangan semangat? Bisa saja terjadi. Karena harapan yang diangankan berbeda dengan kenyataan.

Hal itu mengingatkan saya pada teori A.H. Maslow, yang mengenalkan lima macam kebutuhan pokok sebagai sumber motivasi. Yaitu, 1) kebutuhan fisiologikal, 2) kebutuhan akan keamanan, 3) kebutuhan akan afeksi, 4) kebutuhan akan penghargaan, dan 5) kebutuhan untuk mengaktualisasi diri.

Itu artinya, jika kebutuhan yang didambakan tidak ada, motivasi orang untuk memenuhi kebutuhannya melemah. Upaya untuk memenuhi kebutuhannya, barangkali, tidak ada lagi, alias pasif. Padahal, itu sangat memperburuk kinerja, aktivitas, dan tindakan.

Nah, kalau saja saya ketika itu (langsung) mengiyakan keinginan si bungsu, sudah dapat dipastikan semangat mandinya tinggi. Ia akan merasa gembira dan karenanya saya akan mudah untuk melakukan “bersih-bersih” secara maksimal terhadap dirinya. Tidak perlu menyuruh-suruh, misalnya, ayo dik gosok gigi, kakinya disabun dengan bersih, telinganya dibersihkan, dan sebagainya dan sebagainya. Ia pasti akan menerima sesungguh-sungghnya layanan saya. Mengikuti saja dan tentu setiap yang saya layankan kepadanya tidak ada yang ditolak. Sekalipun ketika dimandikan oleh ibunya saat itu, tidak tampak (jelas) reaksi “penolakan”, tetapi, saya yakin ia akan bertambah senang manakala saya yang memandikan karena sesuai dengan keinginannya.

Dalam situasi seperti itu, saya pikir, si bungsu lebih berani menggali potensinya. Misalnya, menggosok gigi sendiri, menyabun badan sendiri, menyiram badan sendiri, dan mengeramasi rambut sendiri. Yang, semuanya itu niscaya dilakukan dengan gembira. Potensi-potensi yang ada pada dirinya, dengan demikian, bertumbuh secara bebas dan alami.

Kenyataan serupa itu, diakui atau tidak, belum sepenuhnya dapat dijumpai di sekolah. Karena, “ruang” yang merangsang potensi siswa belum dikelola secara maksimal. Sehingga yang ada, siswa yang membutuhkan ilmu-ilmu karate, yang berarti memiliki modal kompetensi karate, hanya bersemangat memelajari teori karate, tidak teori yang lain. Demikian juga siswa yang membutuhkan hitung-hitungan, hanya termotivasi jika berhadapan dengan ilmu-ilmu berhitung dan tidak dengan ilmu yang lain.

Tentu saja hal itu tidak salah. Bahkan benar adanya. Akan tetapi, andai belajar ilmu lain yang disediakan di sekolah bukankah tidak lebih baik? Siswa akhirnya memiliki kompetensi juga di bidang lain bukan? Dan hal itu tentu sangat menguntungkan. Karena, pada kenyataannya, sekalipun seorang ahli di bidang matematika, misalnya, juga tidak dapat mengabaikan ilmu bahasa, karena bagaimana pun juga berkomunikasi secara baik diperlukan. Demikian juga sebaliknya, seorang ahli linguistik tidak mungkin meninggalkan ilmu berhitung sebab ilmu berhitung pun tentu dibutuhkan dalam kehidupannya.

Karenanya, sekalipun siswa berkecenderungan memiliki kompetensi tertentu, menggali kompetensi yang lain dalam dirinya baik untuk dilakukan. Akan tetapi, kesadaran untuk mau menggali potensi yang lain dalam dirinya itu yang belum tumbuh pada sebagian banyak siswa. Jadi, kesadaran itu yang perlu ditumbuhkan. Yang menumbuhkan tentu saja guru. Guru harus memiliki cara membantu siswa menggali potensi yang dimiliki, sekalipun itu bukan potensi yang dominan. Caranya, guru menciptakan kebutuhan-kebutuhan siswa.

Taruhlah, jika seorang siswa menonjol di bidang bahasa, ia tentu membutuhkan ilmu-ilmu tentang bahasa. Karenanya ia akan selalu bergairah mencari materi-materi itu. Tidak perlu disuruh untuk giat belajar, karena ia tentu belajar sendiri secara giat. Barangkali guru cukup memfasilitasi. Berbeda dengan seorang siswa yang, misalnya, tidak menonjol di bidang bahasa. Guru harus menciptakan kebutuhan siswa itu terkait dengan bahasa. Di sinilah agaknya guru mata pelajaran (mapel) perlu menggali kreativitasnya melalui mapel yang diampunya. Mengubah “keberadaan” mapel, yang semula diemohi siswa, menjadi mapel yang sungguh dibutuhkan siswa. Membawa siswa yang semula hanya merasa butuh mapel matematika, misalnya, ke sikap (yang paling tidak) merasa membutuhkan mapel yang lainnya. Ini pekerjaan yang tidak mudah, tetapi mau tidak mau, harus dilakukan guru secara profesional.

4 komentar:

  1. betul pak, kita bisa mengetahui kebutuhan siswa jika kita kaya menu pilihan, strategi dan variasi. itu semua bisa jika kita guru selalu mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya sesuai perkembangan jiwa dan zaman

    BalasHapus
  2. bisa memenuhi kebutuhan siswa secara sempurna memang bukan hal yang mudah, pak, apalagi kalau yang mesti dilayani banyak jumlahnya. maaf, pak, baru bisa jalan2 ke sini setelah sekian lama dibelit urusan2 offline yang ndak begitu penting, hiks.

    BalasHapus
  3. Sudah waktunya guru dan ortu bekerja sama untuk menggali potensi siswa. Tanpa adanya kerjasama akan terasa sangat berat. karena tanggung jawab guru tidaklah ringan.

    Salam hormat dari Jatim.

    BalasHapus
  4. Biasanya guru semacam itu jumlahnya tidak banyak. Sewaktu saya SMA dulu, guru favorit yang dicintai siswa cuma 2 orang.

    BalasHapus

""