Jumat, 11 Maret 2011

Menghargai Perjumpaan


PERJUMPAAN: Membangun
kesegaran kekerabatan
Kedatangan salah satu kakak saya di rumah saya beberapa waktu yang lalu, memang bukan tujuan utama. Tetapi, saya harus menghargainya. Menghargai karena ia ternyata masih tetap memelihara ikatan darah, yang telah terteguhkan lewat dua jiwa yang telah menyatu, yakni bapak dan mendiang emak. Beliau berdua, yang telah menyediakan ruang bagi kami, saudara sedarah, untuk bertumbuh tentu berharap sampai kapan pun hubungan tetap terpelihara. Tidak memandang keberadaan kami masing-masing seperti apa. Sekalipun kami memiliki perbedaan agama, profesi, asal-usul pasangan (kami memang telah menikah), pendidikan,  sosial ekonomi, dan lain sebagainya (yang berbeda), tidak menjadi perenggang ikatan darah.

Betapapun bukan tujuan utama, saya mengira kakak saya menghargai pentingnya sebuah perjumpaan. Di sela-sela waktunya menghadiri acara anaknya (si bungsu) yang kuliah di salah satu akademi kebidanan (akbid) di kota kecil saya, ia menyempatkan mampir untuk dapat berjumpa dengan saya dan keluarga. Keputusan untuk mampir tentu telah dipikirkan masak-masak, terkait dengan berbagai konsekuensinya. Barangkali bukan terkait persoalan anggaran, tetapi waktu karena ia seorang pedagang. Dan, itu terbukti benar. Karena, ketika saya bertanya apakah nanti akan tidur di rumah anaknya yang pertama, ia menjawab tidak. Alasannya, olehnya dijelaskan (kemudian) bahwa barang dagangan yang ada di rumah harus segera dibawa ke pasar. Kalau tidak, tentu akan rusak dan itu merugikan karena mengurangi pendapatan. 
Meski begitu, saya yakin, seperti telah saya sebut di atas, anggaran bukan persoalan utama sebagai pertimbangan ia mampir ke rumah saya atau tidak. Karena,  menurut perhitungan saya, tidaklah menghabiskan banyak anggaran. Jarak akbid dari rumah saya tidaklah jauh. Jadi, tidak perlu mengeluarkan banyak anggaran. Kalau toh (pada akhirnya) memberi uang saku kepada keponakannya, yaitu anak kami, itu sudah hal yang biasa.
Bahkan untuk yang satu ini, bagi sebagian orang, sepertinya telah menjadi tradisi. Ketika bertemu dengan saudara, katakanlah, keponakan atau saudara yang lain yang masih sekolah/kuliah, hal yang satu itu (memberi uang saku) hampir tidak ketinggalan. Untuk anak yang masih kecil, umumnya jumlahnya relatif sedikit; sementara yang sudah besar (kuliah misalnya), jumlahnya relatif lebih banyak. Boleh jadi, tradisi demikian sebagai bentuk pemeliharaan pertalian keluarga. Melestarikan pertalian ikatan darah. Namun, tradisi demikian bukan berarti menjadi sesuatu yang dimutlakkan bahwa pemeliharaan pertalian kekeluargaan dinilai dari sisi uang (saku) itu.

Hanya, jika kebetulan ada uang yang tidak terikat oleh pos kebutuhan, tentu memberi uang saku kepada saudara merupakan tindakan yang baik. Tetapi, jika memang tidak ada uang yang relatif longgar, tidak memberi uang saku kepada saudara pun tidak apa-apa. Baik juga. Dan, bukan berarti hanya karena perihal tersebut, pertalian kekeluargaan menjadi ”renggang”. Jika dipaksakan (memberi dengan cara mengada-adakan terlebih dahulu) tentu akan menjadi masalah tersendiri, ada ketidaknyamanan. Barangkali keeratan hubungan malah menjadi renggang karena kalau ingin berjumpa dengan keponakan, misalnya, harus memiliki uang dahulu. Ini tentu sikap yang tidak baik.

Perjumpaan yang tidak hanya sekadar berjumpa secara fisik, tetapi juga benak dan jiwa itu sungguh membawa ingatan dan perasaan pada aliran darah kekerabatan menjadi segar. Betapa tidak. Kami, misalnya, akhirnya dapat panjang lebar saling bercerita (dalam suasana yang akrab) tentang keadaan masing-masing. Tentang  apa saja. Misalnya, pekerjaan,  kenakalan anak-anak, sekolah anak-anak, prestasi anak-anak, kebiasaan makan, kesehatan, bahkan mungkin (sampai) problem yang sedang melanda keluarga. Siapa tahu saudara seibu-sebapak dapat membantu menemukan jalan keluar. 
Tidak hanya bercerita tentang keluarga masing-masing, tetapi juga (melebar ke) saudara kandung yang lain, orang tua (dalam hal ini bapak), dan tidak menutup kemungkinan tentang kerabat sekalipun ikatan kekeluargaan dibilang tidak sekandung. Yang dapat diceritakan sangat banyak, baik mengenai hal-hal yang menarik maupun kurang menarik. Dengan begitu masing-masing akhirnya mengetahui keadaan yang sedang dialami. Di sinilah bangunan kekerabatan menjadi disegarkan kembali.
Kakak saya akhirnya mengetahui keberadaan saya dan keluarga. Demikian juga saya, akhirnya mengetahui keberadaan keluarganya. Bahkan, sedikit banyak karena kami saling bertukar tanya dan jawab tentang keluarga yang lain (kakak-kakak saya yang lain berikut keluarganya), termasuk keadaan bapak, akhirnya terbukalah pengetahuan tentang keadaan mereka. Mengetahui keadaan kami dan kabar tentang mereka dalam keadaan sehat, rasanya sangat menggembirakan. Dan, tidaklah berlebihan jika hal tersebut dipahami sebagai penghargaan yang nilainya luar biasa. Di sinilah barangkali, di antaranya, nilai sebuah perjumpaan itu.  

21 komentar:

  1. Subhanallah, erat sekali ya Talisilaturahminya...
    KAgum saya...

    O ya, sekalian ijin follow, Mas..
    jika berkenan, silhakan untuk follow back.. ^_

    BalasHapus
  2. @Teras Info
    Ya, Mas, sebagai wujud hubungan kekerabatan kita.

    BalasHapus
  3. dimana ada perjumpaan pasti ada perpisahan :0

    BalasHapus
  4. waaah terharu banget ;( pernah juga saya ngalamin hal kaya gini soalnya.

    BalasHapus
  5. Kapan saya bisa seperti, Mas ini...
    berjumpa dengan saudara...hmmm..

    BalasHapus
  6. meski sebentar dan bukan tujuan utama, silaturahmi yang seperti ini sangatlah bermakna. doh! jadi pengen mengunjungi kerabat2 saya juga nih

    BalasHapus
  7. Mengingatkan saya telah cukup lama tidak bertemu adik dan kakak paska meninggalnya Bapak. Semoga liburan sekolah mendatang ada kesempatan kembali bersua dalam kehangatan tali persaudaraan.

    BalasHapus
  8. wew...it's really need extra effort....

    what'''' a bond

    BalasHapus
  9. @Jurnal92

    Suatu saat keinginan baik itu pasti akan dibukakan jalan oleh Tuhan. Semoga selekas mungkin dapat saling berjumpa, ya.

    BalasHapus
  10. @M Mursyid PW

    Saya doakan dari jauh, Bapak benar-benar diberi kesempatan oleh Tuhan bisa bertemu dengan saudara di hari libur nanti.

    BalasHapus
  11. dan akhirnya saya baru kemaren langsung silaturahmi pak ke rumah senior saya.. :)

    BalasHapus
  12. wah bapak belum update *,*

    BalasHapus
  13. @TUKANG CoLoNG
    Tentu sangat menyenangkan karena ikatan persaudaraan kembali disegarkan. Selamat, ya.

    BalasHapus
  14. @☺☺☺
    Oh, ya, maaf. Baru ada "yang lain", dan cukup menyita waktu. Terima kasih mengingatkan.

    BalasHapus
  15. Intinya silaturahmi ya, Pak...
    Perjumpaan fisik adalah yang terbaik tapi sejak jaman internet mewabah via social media, saya mensyukuri itu untuk mewujudkan 'perjumpaan' dengan sanak kadhang saya di Jawa sana :)

    BalasHapus
  16. kapan mau keemu blue........heheh salah ketemu aku..........

    BalasHapus
  17. alangkah senangnya bisa bertemu kembali dengan saudara2 kita yang selama ini (nyaris) terlupakan akibat jarak dan waktu, pak. semoga dengan pertemuan seperti itu, kualitas komunikasi bisa jadi lebih intens. salam kekerabatan.

    BalasHapus
  18. sillaturrahim emang wajib dijaga & ga boleh putus :D

    BalasHapus

""