Selasa, 15 Maret 2011

Menyoal Buah Lokal

GAIRAH: Buah produk impor mencuri
benak masyarakat nusantara, sehingga
mengabaikan buah produk lokal
(gambar dari http://m.poskota.co.id/)
Hanya sekadar ingin menuangkan ”oleh-oleh” dari atas tanggul sungai yang tak jauh dari rumah saya. Oleh-oleh yang bersumber dari rerasan, yang tanpa terencana karena pertemuan kami yang memang tidak disengaja. Saya joging dan teman saya bersepada, bertemu di atas tanggul, dalam suasana yang kebetulan saja. Lantas, sembari berdiri, kami berbincang-bincang (diskusi alam, begitu saya mengistilahkan) mengenai petani dan aktivitasnya. Bahan diskusi alam itu amat kontekstual karena memang kami ketika itu berada tak jauh dari lahan persawahan dan perkebunan rakyat, juga aktivitas para petaninya.

Sebelum matahari larut di ufuk barat saat itu, masih terlihat banyak petani bersibuk diri di areal pertanian mereka. Kami dapat melihatnya secara bebas dari atas tanggul. Ada yang mencangkuli areal tanah pertaniannya, ada yang mengikat batang melon yang masih kecil dengan kayu penyangga agar batangnya tak merambat ke tanah, ada yang menggembalakan kerbau, ada juga yang merumput sebagai pakan ternak. Kami berjumpa pula dengan beberapa petani yang baru pulang dari areal pertanian, di puncak tanggul sungai Kali Gelis itu. Bahkan, di antara mereka ada yang akhirnya nimbrung dalam diskusi alam itu, sekalipun hanya sesaat.

Yang mengherankan, sebetulnya tidak mengherankan lagi, karena faktanya sejak dulu hingga kini terus saja terjadi. Dan, kini malah semakin menjadi-jadi. Yaitu, banyak produk pertanian yang dijual di hampir semua super market bukan produk lokal, tetapi nonlokal. Bahkan, kini, tampaknya telah melebar ke berbagai area publik. Di terminal-terminal, stasiun-stasiun, hingga di trotoar-trotoar jalan. Coba Anda lihat di sepanjang jalan yang kebetulan Anda lewati. Begitu mudahnya ditemukan banyak buah nonlokal yang dijajakan, bukan? Sebut saja, misalnya, apel, jeruk, dan durian, yang setali tiga uang dengan jenis-jenis makanan favorit anak-anak muda-remaja sekarang, semisal jenis chicken. Yang, diakui atau tidak, mereka, muda-remaja, itu telah mengabaikan jenis-jenis makanan khas daerah karena teramat gandrung makanan gaya asing. Bandingkan jumlah mereka yang jajan pecel dan chicken di KFC, misalnya. Tentu lebih banyak muda-remaja yang makan chicken, bukan?

Jadi wajarlah, kini, jika tempat-tempat semacam itu semakin menjamur di mana-mana seperti menjamurnya orang yang berjualan buah produk impor. Dan, kenyataannya memang produk impor itu yang paling banyak diserbu konsumen. Makanan dan buah tipe impor telah mendapat tempat secara istimewa di benak masyarakat nusantara.
Yang sering saya jumpai, ketika ada orang bezuk pasien di rumah sakit, yang letaknya tak jauh dari rumah saya, hampir dapat dipastikan membawa buah-buah impor. Karena memang di sepanjang jalan menuju rumah sakit itu dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) buah. Namun nyaris, kita tak bakal mendapat buah produk lokal ketika mencarinya di sana. Saya berpikir, di tempat yang serupa itu di mana-mana wilayah di seantero nusantara ini, niscaya hal sama akan dijumpai. Produk buah lokal tidak populer di kalangan masyarakat.  
Inilah di antaranya yang menyebabkan derajat petani di negeri ini tak pernah meningkat. Karena masyarakat negeri ini tak pernah mau mengonsumsi hasil keringat petani sendiri. Memang jika dibandingkan dengan produk impor, buah produk lokal, berbeda. Tidak hanya sebatas warna dan ukuran buah, tetapi aroma dan rasa, buah lokal relatif kalah. Barangkali karena itulah, buah-buah lokal jarang disukai orang.
Fakta ini semestinya menjadi perhatian (serius) pemerintah, bukan? Apalagi nusantara ini masih dikenal sebagai negera agraris. Negera yang masih mengandalkan gerak hidup dari sektor pertanian. Produk buah lokal kualitas rendah, tidak menutup kemungkinan disebabkan oleh rendahnya perhatian pemerintah terhadap petani nusantara ini. Di tiap-tiap kabupaten/kota di nusantara ini, ada yang namanya dinas pertanian (dan peternakan). Tentu saja dinas itu salah satunya bertugas membantu petani dalam mengelola pertaniannya. Sudahkah selama ini dinas itu bertugas secara maksimal mendampingi petani?

Sepertinya belum maksimal. Sebab, di daerah saya tidak pernah dijumpai secara rutin berkala orang dinas pertanian turun ke lapangan. Membangun komunikasi pertanian dengan para petani. Kalau pun ada, tindakan itu hanya dilakukan ketika ada ”temu tani”, misalnya, seperti beberapa waktu lalu di desa saya. Memberi penyuluhan yang lebih bersifat teoritis ketimbang praktis. Samakah di daerah Anda?

Jika hal ini terus ”dilestarikan”, saya yakin, sampai kapan pun petani negeri ini tidak akan pernah bangkit. Di sisi lain, masyarakat akan semakin bergairah menikmati buah-buah impor. Yang, gelagatnya semakin mudah masuk pasar nusantara karena ”pintu” kebijakan semakin mudah dikuak lebar. Inilah catatan hasil diskusi alam, yang sampai di hadapan Anda. Bagaimana?

10 komentar:

  1. banyaknya buah produk impor tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang terlalu "memanjakan" kaum importir dan pemilik modal, pak. kenapa mereka tidak tersentuh hatinya utk melirik dan berpihak kepada para petani kita yang sejak dulu memang hidup di negeri berpredikat agraris?

    BalasHapus
  2. Betul, Om...
    Sebenarnya buah-buah lokal tak kalah kok..
    Di sini mana ada duwet, mereka cuma punya anggur :)

    BalasHapus
  3. Betul betul.. Sekarang lokalan udah memble sama Non lokal.
    Makanan tradisonalpun begitu sekarang udah ketendang sama makanan makanan bawaan orang sonoh..
    Misalnya bajigur kalah sama Pepsi
    pesel udah memble sama ntutuh chiken .. wah..
    Bangkar dehh

    BalasHapus
  4. buah lokal Bali juga udah kritis keberadaannya

    BalasHapus
  5. @sawali tuhusetya

    Ironis sekali, ya Pak. Negara agraris, tapi tidak mendalam dalam mengolah pertanian.

    BalasHapus
  6. wah saya malah lebih suka buah lokal kaya apel malang sama jeruk bali ;p

    BalasHapus
  7. @Watch Caprica Online

    Ayo, kita kampanyekan mengonsumsi buah produk lokal!

    BalasHapus
  8. Biar gimanapun buah local rasanya jauh lebih alami pak itu menurut saya sih... oh iya kunjungan perdana n salam kenal pak.

    BalasHapus
  9. @Guru TIK Smansatgt

    Setuju sekali, buah lokal begitu alami. Salam kenal juga. Terima kasih telah berkunjung.

    BalasHapus

""