Selasa, 01 Maret 2011

Merindukan Ruang Proses Belajar


Sangat disayangkan jika ternyata setibanya di sekolah, anak, lebih tepatnya peserta didik, kurang  -untuk menghindari pemakaian kata tidak-  dapat menikmati proses pembelajaran. Seberapa pun tingkat ”kesadaran pendidikan” peserta didik, mereka tetap berharap bahwa kedatangannya ke sekolah bermanfaat. Setidak-tidaknya untuk dapat berjumpa dengan teman-temannya. Lantas, membangun komunikasi satu dengan yang lain. Sehingga beban, yang barangkali telah dirasakan di rumah, dapat mencair ketika dikomunikasikan dengan teman atau guru di sekolah.

Di sinilah sebenarnya, menurut saya (setelah saya menyadari), proses pembelajaran itu telah terjadi pada diri anak. Kerinduan untuk mau datang ke sekolah saja sebenarnya harus sudah dimaknai sebagai proses pembelajaran. Betapa tidak, anak yang di rumah sendirian, tidak ada teman sebaya, lalu merindukan bisa bertemu dengan temannya di sekolah, bukankah itu sebuah kemajuan berpikir yang perlu dikembangkan? Apalagi jika anak telah berpikir (yang lebih jauh lagi), misalnya, ke sekolah itu untuk belajar. Ini tentu satu sikap yang harus dihargai? Karena, berarti anak itu di samping (sudah) merasa kurang nyaman ”beraktivitas” sendirian, juga memerlukan memeroleh pengetahuan.

Membangun komunikasi dengan orang lain tidak bisa secara spontan. Tidak terbentuk secara tiba-tiba. Tentu ada proses yang harus dilewati, yang melibatkan ranah emosi dan logika. Demikianlah anak-anak, seperti kita juga, ketika membangun komunikasi dengan teman/orang baru. Awalnya, ada perasaan malu atau takut. Lalu, sedikit demi sedikit, muncul keberanian untuk  saling menatap, menyapa, bertanya, menjawab, dan seterusnya dan seterusnya, yang akhirnya terbangun hubungan akrab. Disadari atau tidak, melalui itu, pengalaman masing-masing bertambah.

Anak-anak mulai mengenal lingkungannya. Bagaimana ia harus membangun hubungan dengan orang lain. Berperilaku secara baik, berbicara dengan sopan, mengendalikan diri, dan mengenal sikap teman baru. Yang, tentu saja semua itu melewati beragam keadaan. Mungkin suatu saat berlangsung secara baik-baik saja, tetapi pada saat yang lain berlangsung dalam keadaan kurang nyaman. Ini sebuah proses pembelajaran membangun interaksi sosial.

Karenanya, saya akhirnya menyadari bahwa ketika di dalam kelas masih dijumpai peserta didik tidak terlihat tersenyum suka cita, berarti mereka telah tercerabut dari proses pembelajarannya. Mereka kehilangan alamnya. Alam belajar yang seharusnya dapat menjadi media mengembangkan senyum suka cita berbiak lebih bermakna. Berangkat dari rasa bahagia/senang itu peserta didik bisa mengekspresikan segala kompetensi yang dimiliki. Membangun interaksi belajar, baik dengan teman maupun guru, akhirnya lebih terbuka karena tidak ada beban psikologis. Kompetensi apa pun yang dimiliki peserta didik dengan demikian memiliki peluang untuk berkembang.

Tidak ada perasaan takut untuk berbicara meski tidak lancar. Tidak ada perasaan minder untuk maju mengerjakan tugas di di papan tulis sekalipun belum tahu kebenaran jawabannya. Berani bertanya kepada guru atau teman. Menduga-duga jawaban pertanyaan yang diajukan olah teman atau guru. Tidak takut berbeda pendapat dengan teman atau guru. Itu semua mengisyaratkan bahwa peserta didik (telah) belajar.

Itulah sebabnya saya harus lebih (banyak) berjuang lagi untuk dapat menciptakan suasana belajar yang memberi ruang perasaan peserta didik semakin merdeka. Menciptakan sebuah ruang belajar yang dapat menjadi area menyenangkan. Mampu merangsang semua peserta didik agar begitu leluasa dan bebas beraktivitas. Sekalipun dalam satu kelas ada beragam ”keberadaan” peserta didik, semua kompetensi yang dimiliki dapat bertumbuh secara bersama-sama. Inilah sebuah kerinduan profesi yang terus memburu. Entah sampai kapan? 

10 komentar:

  1. media dan interaksi antara murid sama guru emang penting. tapi kadang guru itu ga ngerti psikis murid. padahal jadi guru juga harus bisa memahami satu persatu muridnya secara personal. apalagi murid-murid yang memiliki kesulitan belajar dan minder. yaaa berharap aja makin ke sini ada guru yang makin concern akan hal tersebut. kalo rindu kenapa ga nyoba jadi guru lagi pak?

    BalasHapus
  2. Buka PAUD di rumah, bisa berbagi ilmu dan mengisi waktu luang yang bermakna.

    BalasHapus
  3. semangat terus ya pak! saya sering liat tuh, kelasnya udah mewah dan oke tuh tapi sayangnya guru yg ngajar ga komunikatif, jadinya kelas itu dingin

    BalasHapus
  4. Mengajar paling enak itu kalau dengan hati, sebab akan terjadi interaksi batin antara guru dan siswa. Kalau ini sudah terjalin, tidak ada siswa yang merasa dendam saat kita marah karena sesuatu yang keliru dilakukan siswa.

    BalasHapus
  5. bener sekali, pak. proses belajar ternyata sebuah ruang yang dinamis, tak hanya sebatas dibatas empat dinding ruang kelas. peserta didik konon akan selalu merindukan suasana pembelajaran yang mampu menyuguhkan situasi menyenangkan, variatif, dan tidak tersandra dalam ruangan yang pengap, hehe ...

    BalasHapus
  6. @teguhsasmitosdp1

    Benar sekali, Pak. Kecerdasan mengajar dengan hati itulah yang hingga kini masih terus saya kejar.

    BalasHapus
  7. @Puspita

    Saat ini, nasihat Ibu itu barangkali belum dapat diwujudkan. Terima kasih, Bu.

    BalasHapus
  8. Bener, dan jangan sampe bikin murid-murid malah jadi ngantuk dan nggak semangat >.<

    BalasHapus

""