Sabtu, 19 Maret 2011

Pendidikan Karakter dari yang Sederhana


PENDIDIKAN KARAKTER:
Pendidikan karakter bagi anak-anak
lebih efektif lewat keteladanan.

Persisnya ketika kami, saya dan istri, duduk-duduk di ruang keluarga, meski sebenarnya kurang pantas disebut sebagai ruang keluarga karena ruang itu sekalian untuk ruang makan. Si sulung berujar ketika melihat ada pakaian adiknya, si bungsu, jatuh di lantai. Namun, ia tidak segera mengambilnya. Malah masuk ke kamar begitu saja. Meninggalkan pakaian adiknya itu tergeletak, seolah tak berguna.

Saya yakin, si sulung melihat bahwa keadaan itu tidak benar karena pakaian tidak berada pada tempatnya. Maka, ia berujar. Yang benar, tempatnya di ember, yang tidak jauh dari tempat pakaian itu tergeletak. Mestinya pakaian itu berada di ember bersama dengan pakaian-pakaian lain yang menunggu untuk diseterika. Keadaan salah yang telah nyata dilihatnya itu ternyata dibiarkan saja. Tidak ada upaya untuk memindah pakaian itu ke dalam ember, misalnya.

Mungkinkah karena ia tahu bahwa itu tidak miliknya, lantas membiarkannya begitu saja. Barangkali ya. Buat apa mengambilnya, buang-buang tenaga saja, di samping juga buang-buang waktu. Tidak ada untungnya. Nanti paling-paling diambil ayah atau ibu. Atau Mbak Lusi, saudara sepupu, yang tinggal serumah karena kebetulan kuliah di kota kecil kami. Ini hanya dugaan saya. Dan semoga dugaan itu tidak benar. Tidak melekat pada si sulung.

Kalau benar? Kalau benar begitu, saya sedih. Karena berarti si sulung kurang memiliki kepedulian, yang merupakan bagian dari pendidikan karakter. Meskipun kepedulian untuk mau mengambil pakaian adiknya yang jatuh itu. Sekecil apapun kalau mangetahui sesuatu itu kurang beres, bukankah lebih baik kalau kita mau bertindak untuk segera membereskannya? Sekalipun itu bukan bagian dari kita sendiri, yang berarti bagian/milik orang lain.
Atau barangkali malah tak peduli juga terhadap hak/milik sendiri sekalipun tahu kalau itu kurang beres. Membiarkan, dan berharap ada orang (lain) yang mau membereskannya. Mengetahui masih ada piring kotor, termasuk piringnya, di tempat cuci piring, misalnya, dibiarkan begitu saja. Padahal jika mau mencucinya tidak memakan banyak waktu, paling-paling jika hanya lima piring, tidak sampai sepuluh menit sudah bersih.

Sadarkah bahwa kita sering juga seperti yang dialami si sulung, misalnya ketika melihat sampah tidak pada tempatnya di tempat kerja kita? Membiarkan begitu saja. Bahkan, barangkali di hati telah bergumam. Ah, sampah kok berserakan begitu! Namun, kita tak mengambilnya. Masa bodoh. Bukankah sudah ada petugasnya sendiri, pikir kita.

Nah, begitulah yang sering terjadi. Bahkan, telah menjadi tradisi, di mana-mana, di tempat kerja, di rumah, di jalan-jalan. Kekurangpedulian itu telah meraja dalam kehidupan banyak orang. Tak peduli itu pejabat, manajer, bos, juragan, sampai orang-orang yang bekerja di sektor bawah. Ini yang ada di negeri ini. Tempat saya dibesarkan dan kini telah beranak, dan tempat anak kami bertumbuh kembang.
Itulah sebabnya, setelah kami ”berdiskusi kecil” ketika itu, saya segera memanggil si sulung untuk melihat bersama bahwa barang yang tergeletak itu penting juga untuk diperhatikan. Penting juga untuk diambil dan dipindahkan ke ember, sebagai tempatnya sementara sebelum diseterika. Si sulung tersenyum, lantas mengambil barang itu dan menaruhnya di dalam ember. Kami pun tersenyum atas kebodohan kami karena kurang meneladani. Bagaimana diri Anda?

6 komentar:

  1. betul sekali, kadang kita terlalu memanjakan anak dengan hal yang tidak bermanfaat sehingga mereka angkuh.

    BalasHapus
  2. karena dimulai dari yang kecil dulu malah bisa nancep dihati anak-anak.. :)

    BalasHapus
  3. mantappp sobat...... emang mbener kita mulai dr hal2 yg kecil ya ga?


    salam persahbatan dr MENONE

    BalasHapus
  4. Sepertinya rumah adalah tempat pendidikan terbaik bagi anak-anak ya, Pak?

    BalasHapus
  5. wah bapak bagus loh ngajarinnya dari saat mereka masih anak-anak, nanti kalo udah besar bakal sulit soalnya :D tetep dong keluarga adalah pendidikan paling dibutuhkan dalam pembentukan karakter si anak.

    BalasHapus
  6. saya setuj, pak. anak-anak belajar sesuatu bukan hanya dari perkataan orang tuanya, melainkan juga tindakan. kalau anak-anak kita melakukan sesuatu yang keliru, hal pertama yang patut kita tanyakan, "apakah saya tanpa sengaja telah memeberi teladan buruk padanya?"

    dalam hal ini, ada usaha mengkoreksi diri. salut!

    oia, saya ijin share. mohon jangan dianggap sebagai spam. namun jika tidak berkenan, dihapus saja tidak apa-apa.

    seorang adik dari anak didik teman saya saat ini sedang membutuhkan bantuan seikhlasnya, baik berupa doa untuk kesembuhannya maupun dalam bentuk finansial. Saat ini dana yang terkumpul baru sekitar 3,5 juta, sementara yang dibutuhkan sekitar 50juta.

    info lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

    Nurul Safika

    silahkan di share ke rekan-rekan yang lain.
    insya Allah, kebaikan anda semua mendapatkan balasan Tuhan yang Maha Esa.
    terima kasih.

    BalasHapus

""