Senin, 04 April 2011

Begitu Dekat


KEDEKATAN:
Kedekatan antara orangtua dan anak
merakit hubungan batin yang menandas. 

Saya tidak tahu persis apa yang terpendam di benak si sulung akan diri saya, sebagai ayahnya. Sebagai ayah, saya biasa-biasa saja. Pernah memarahinya ketika ia bersalah dalam berperilaku, berkata, atau berpikir. Kalau kurang tepat dikatakan memahari, bolehlah dibilang menasihati saja. Tetapi, saya juga pernah memujinya tatkala ia sukses dalam hal yang ia lakukan/perbuat. Tidak ada yang berbeda dengan ayah-ayah dari anak-anak lain, menurut pikiran saya. Apa sih yang ada pada diri saya di mata si sulung? Tidak ada yang istimewa. Benar. Begitu saja adanya.

Tetapi, entah mengapa siang ini, baru saja tadi, belum berganti baju rumah, ia masih mengenakan seragam sekolah, bertanya jam berapa ayah pergi. Yang ia maksudkan adalah keberangkatan saya mengantar anak-anak didik saya widya wisata ke Jakarta besok, Selasa (5/4). Saya menjawab, jam dua siang. Bukan perihal ia bertanya itu yang saya pikirkan, tetapi perihal responnya. Sebab, dari respon yang saya dengar dan lihat tingkahnya, sepertinya ada sesuatu yang menyedihkan di benaknya. “Ndak ada ayah,” begitu gumamnya. Saya katakan bahwa tidak ada ayah hanya beberapa hari saja.

Beberapa hari saja, katakan tiga-empat hari, bagi si sulung ternyata menjadi sesuatu yang sangat berarti. Setiap hari dapat berjumpa dengan ayah di rumah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyedihkan, sepertinya sungguh dimaknai sebagai sesuatu yang begitu indah. Menyenangkan bila sedang tidak terjadi masalah yang berarti tidak ada marah atau nasihat, menyedihkan jika ada masalah yang berarti harus dinasihati.

Berkumpul dengan ayah di rumah dengan segala aktivitas yang terjadi, tidak setiap anak mengalaminya. Bermain dengan ayah, mengobrol dengan ayah, bertanya pekerjaan rumah, bertanya tugas sekolah, makan bersama, melihat televisi bersama, bersih-bersih rumah, menguras bak mandi, dan sebagainya dan sebagainya, dapat membangun ikatan batin yang demikian menandas. Selalu diingat oleh anak. Itu yang mungkin dirasakan oleh si sulung. Tetapi tidak saya rasakan, sejak saya masih seusia si sulung sekarang ini.

Saya tidak dapat merasakan hubungan ayah-anak secara normal sebab sejak kecil ibu saya telah meninggal dan bapak berada di pulau Buru, menikmati perilaku politik, yang ketika itu saya tidak memahaminya. Tidak memahami kenapa bapak berada di pulau Buru, hidup di sana dan berpisah dengan kami, sampai-sampai (barangkali karena salah satu faktornya ditinggal bapak itu) ibu menghadap Sang Mahakasih. Sehingga, kami, terutama saya dan adik yang ketika itu masih kecil-kecil harus dirawat oleh orang lain. Tidak mungkin kakak merawat kami karena mereka ikut suaminya dalam hidup yang pas-pasan. Saya akhirnya ikut keluarga paklik, adik bapak, yang bekerja sebagai guru seperti pekerjaan bulik, istri paklik. Kedua-duanya guru SD, pegawai negeri.

Saya merasa perawatan paklik dan bulik terhadap saya baik. Disekolahkan bersama kedua putrinya, yang akhirnya keduanya saya anggap sebagai kakak karena memang usianya lebih tua ketimbang saya. Saya dianggapnya sebagai adiknya. Bahkan, untuk membangun masa depan saya, paklik dan bulik mengaktakan diri saya sebagai anaknya sendiri. Sebagai anak kandung, seperti kedua putrinya. Jadi, di akta kelahiran saya tercantum nama ayah dan ibu kandung saya adalah nama paklik dan bulik.

Barangkali karena kenyataan itulah hubungan ayah-anak tidak saya rasakan seperti yang dirasakan si sulung sekarang ini. Tetapi, saya yakin bahwa itu bukan kesalahan paklik atau bulik. Mereka baik-baik merawat saya, memerhatikan saya. Perawatan dan perhatian terhadap kedua putrinya tak jauh berbeda dengan terhadap saya. Yang saya rasakan memang ketika itu paklik dan bulik bekerja keras. Habis mengajar, sore harinya mereka bertani. Kami pun diajak bertani membantu mereka. Kesibukan itulah dan juga kurangnya pengetahuan, yang barangkali menyebabkan hubungan kami kurang normal.

Kami memang tidak pernah merasakan bagaimana bermain bersama orang tua, bercengkerama di rumah bersama, makan bersama, ada kesulitan belajar tersedia tempat untuk bertanya, dan sebagainya dan sebagainya seperti yang dialami si sulung sekarang ini. Tidak ada. Ya begitulah kenyataannya. Kami menikmati dunia kami sendiri, paklik dan bulik juga menikmati dunia mereka sendiri.

Kedekatan hubungan ayah-anak, saya-si sulung, menjadikan si sulung membayangkan akan “kehilangan” ketika saya berangkat mengantar anak-anak didik berwidya wisata sekalipun hanya sementara waktu. Dalam (hanya) sementara waktu itu si sulung memang tidak akan dapat guyonan dengan saya, tidak melihat tatapan mata saya, langkah saya, bahkan sampai-sampai tak bisa membau keringat saya.  Inilah di antaranya hal-hal khusus yang mungkin dapat dinikmatinya ketika bersama-sama saya. Karenanya, beberapa waktu tidak berjumpa dapat menjadi kegelisahannya.        

15 komentar:

  1. Kasih sayang sungguh indah dan mengagumkan:)

    ayah saya pun begitu....
    kedekatan memberikan kedamaian, tanpa ayah saya, saya bukan siapa2.
    tiada yang tahu betapa besar cinta seorang ayah kepada putrinya... yang saya tahu... jika jauh saya amat merindukannya...

    BalasHapus
  2. Wah baru tau soal riwayat Pak Sungkowo..
    Saya selalu respek dengan korban tapol terutama di Pulau Buru karena saya penggemar buku2nya Pak Pram dan banyak kisah pilu dilukiskan di sana...

    BalasHapus
  3. begitu dekat begitu nyata! salam kenal

    BalasHapus
  4. sungguh berbahagia bisa berkumpul bersama dalam satu jalinan keluarga batih yang utuh dan lengkap. hanya saja, karena situasi, seringkali anak harus terpisah dari ortunya. semoga dg jalinan kedekatan seperti itu, hubungan ortu dan anak bisa makin harmonis, pak.

    BalasHapus
  5. Wah berarti saat ini masih dalam perjalanan wisata, ni? Berarti juga lewat Pekalongan ya, Pak?

    BalasHapus
  6. saya juga begitu...bapak saya selalu sibuk bekerja n akhirnya saya dikirim ke pesantren agar tidak merepotkan...
    tapi saya pikir2 lagi, beliau bekerja juga semuanya untuk kebaikan saya jadi ...saya hanya bisa mendoakan beliau....

    BalasHapus
  7. Serasa ada yang hilang jika kita jauh dari buah hati, serasa dahaga kita tak terobati tak melihat senyum tipis dibibir si manis.... jadi keingatan si kecil saya pak...

    BalasHapus
  8. waaaah jadi kangen ayah saya >,< udah lama banget ga ketemu.

    BalasHapus
  9. @M Mursyid PW

    Ya, Pak, kami melewati Pekalongan. Tetapi, maaf, kami hanya dapat menyapa dalam batin akan keadaan Pekalongan. Hari ini sudah sampai rumah lagi, Pak.

    BalasHapus
  10. Bagus pak artikelnya..
    Fotonya yeye juga bagus pak..
    Hehehe.
    Yeye.yeye..
    Yeye sih emg aslinya udh cantik..
    Hehe

    BalasHapus
  11. Bagus pak artikelnya..
    Fotonya yeye juga bagus pak..
    Hehehe.
    Yeye.yeye..
    Yeye sih emg aslinya udh cantik..
    Hehe
    Alifia.

    BalasHapus
  12. @Alifia

    Terima kasih, Alifia, telah berkunjung ke blog Bapak. Salam manis selalu dan penuh kekerabatan.

    BalasHapus

""