Senin, 18 April 2011

Emakku


Aku akui, tidak banyak yang dapat kuingat tentang masa kecil di desaku. Yang kutulis di sini hanya serpihan-serpihan ingatan, yang kuusahakan kurangkai-rangkai. Tentu, sekalipun hanya berupa serpihan-serpihan ingatan, aku berharap tetap memiliki jalinan cerita yang dapat diikuti secara baik, sekalipun barangkali kurang menarik.

Kurang menarik, karena lemah dari segi bahasa yang terangkai atau kisah yang tersajikan. Tetapi, itulah kenyataannya. Karena aku memang kurang mampu menyajikan kisah dengan bahasa yang bergaya. Aku juga tidak ingin membuat-buat agar  bahasanya indah atau kisahnya memikat. Tidak. Aku hanya menuliskan kisah biasa dengan bahasa sederhana. Apa adanya. Serupa aku yang terlahir dari rahim seorang emak desa yang bersahaja.

Emakku, yang kutahu, bernama Siyah. Nama yang begitu sederhana. Tidak hanya dari jumlah hurufnya yang sedikit, hanya lima, tetapi lima huruf itu terucap penuh dengan nuansa kesederhanaan, ndesa. Apalagi, jika kuingat, ada beberapa teman, ketika itu, mengolok-olok aku dengan menyebut nama Emak dengan sebutan terasi dan uyah. Sebutan ”terasi” diambil dari ”si” dan ”uyah” dari ”yah”. Barangkali tidak salah mereka menyebut begitu karena Emakku memang berjualan belanjaan dari pasar, seperti ikan, terasi, lombok, uyah, brambang, dan sebagainya.

Aku tahu nama Emakku dari orang-orang yang sering memanggil nama Emak. Aku mendengar ketika mereka memanggil nama Emak. Dan, melalui apa yang aku dengar itu, aku mengenal nama Emak. Mengenal secara alamiah, lewat mendengar lalu mengingat-ingat nama itu, Siyah, dalam pikiranku. Tidak pernah aku mengenal nama Emak secara resmi lewat surat resmi pemerintah desa, seperti akta kelahiran, yang di zaman sekarang ini dimiliki anak-anak, seperti kedua anakku, cucu-cucu Emak.

Emak tak memiliki surat lahir seperti yang kuduga juga akan diriku dan saudara-saudaraku. Bahkan, sekadar surat keterangan saja aku tidak pernah tahu. Dan, bagi Emak dan Bapak hal itu tentu tidak penting untuk diberitahukan kepada anak. Apalagi di desa sepelosok desaku, rasanya tak mungkin ada administrasian-administrasian. Jadi, wajar jika aku tidak pernah tahu, aku ini bersurat lahir atau tidak. Di mana Emak dan Bapak menyimpan. Bentuknya serupa apa. Aku tidak pernah tahu. Atau memang ketika itu, anak-anak yang terlahir dari ibu, tidak pernah ada suratnya. Begitu bebas, dan dianggapnya hal biasa sehingga tidak perlu surat. Emak dan Bapak barangkali memang tidak melaporkan, sehingga desa tidak mengeluarkan surat kelahiran. Atau Emak dan Bapak sudah melaporkan dan karenanya menerima surat itu, tetapi tidak menyimpannya baik-baik sehingga surat itu hilang entah ke mana karena dianggap hal yang tidak penting. Yang penting bagi Emak dan Bapak saat itu barangkali bagaimana caranya dapat menghidupi anak-anaknya.  


Emak berjualan dengan terlebih dahulu harus belanja di pasar. Pasar yang letaknya jauh dari desaku karena berada di desa lain, yang agak ke kota. Melewati banyak desa ketika Emak harus pergi ke pasar. Begitu juga saat kembali dari pasar. Emak berjalan kaki. Karena memang belum ada kendaraan yang dapat menembus desaku. Jalan masih berbatu-batu, bertanah, dan jika hujan lebat, Emak harus menyeberangi sungai yang tak berjembatan. Saya masih sangat ingat, Emak, seperti juga perempuan dewasa lainnya, ke mana-mana selalu memakai jarit dan berkebaya. Ke pasar, berjualan keliling, Emak selalu mengenakan jarit dan kebaya. Di punggungnya selalu ada dhunak, tempat belanjaan yang terbuat dari anyaman bambu. Dhunak itu selalu melekat dipunggung dengan ditali selendang panjang agar tidak jatuh. Emak tidak hanya berjualan keliling desa, tetapi setiap ada panen di sawah, Emak juga berjualan di tengah-tengah sawah melayani para pemetik padi. Bahkan, yang saya hingga kini masih begitu ingat, Emak ketika itu tidak hanya membawa uang hasil berjualan, tetapi juga membawa padi dalam gendongannya saat tiba di rumah. Saya mengetahui setelah dewasa, Emak dan para pemetik padi, itu ternyata telah mengenal barter. Emak memberikan mungkin terasi, lombok, dan sejenisnya; sementara itu pembeli memberikan seikat padi kepada Emak.

Dengan bekerja begitu, Emak masih dapat hidup dan menghidupi anak-anaknya, satu adikku yang masih kecil dan yang aku ingat dengan beberapa kakakku yang sudah dewasa. Bahkan, sempat sepertinya Emakku menikahkan satu kakakku wanita dengan seorang lelaki tetangga. Emak sendirian ketika itu, tanpa Bapak, dan aku tidak tahu mengapa Bapak tidak ada. Jadi, Emak hanya dibantu oleh kakak-kakakku yang lain dan beberapa suadara Emak dan Bapak.

Saat Emak menikahkan kakakku itu, rumah yang kami tempati, seingatku, lumayan besar. Rumah dari papan dan bergenting, tidak beratap welit, atap yang terbuat dari rumput atau ijuk yang diikat-ikat. Saya belum mengerti apakah rumah yang begitu itu tergolong milik keluarga kaya atau miskin. Aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya, rumah itu berbeda dengan rumah-rumah tetangga. Rumah tetangga masih banyak yang beratap welit dan berdinding gedhek, anyaman bambu.

Aku tidak selalu bertemu dengan Emak. Emak sibuk ke pasar setiap hari. Habis dari pasar, tiba di rumah, Emak memasak sebentar, lalu pergi lagi memasarkan dagangannya. Dagangannya ada yang sudah dimasak, seperti jenis lauk, tetapi ada juga yang masih mentah. Sore, Emak baru pulang. Sepertinya aku tidak pernah berkesempatan menatap Emak dari dekat. Berbincang-bincang, dipangku, dibelai, disayang rasanya tidak pernah. Atau aku yang kurang peka karena masih kecil, sehingga yang selalu memenuhi hidupku hanya bermain-main. Namun, aku selalu merasakan masakan Emak meski tidak berada di samping Emak. Ikan goreng, yang barangkali ketika itu, orang di desaku tidak banyak yang dapat menikmati, aku telah menikmatinya. Ikan goreng Emak terasa enak dan khas. Rasa khasnya itu yang sulit aku utarakan dengan kata-kata. 

1 komentar:

  1. Saya seperti membaca "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" nya Pram, Pak :)

    BalasHapus

""