Kamis, 21 April 2011

Harus Menerima


SIKAP:
Menanamkan sikap positif kepada
anak, siswa, secara terbuka akan
membawa kebaikan dalam keberlangsungan
hidup mereka.
(gambar dari hoscokroaminoto.multifly.com)

Hingga hari ini, si sulung, telah mengikuti kegiatan persiapan lomba solo song tingkat kabupaten. Solo song antarsiswa SMP sekabupaten, maksudnya. Ia telah melewati tahap-tahap penyeleksian. Sejak pemilihan awal sampai dimunculkan dua siswa, yang ditunjuk mewakili sekolah. Salah satunya si sulung, sebagai peserta putri. Satunya temannya, sebagai peserta putra. Dua siswa ini yang selalu digembleng oleh guru pembimbing.

Dua hari terakhir ini, mereka digembleng pada pagi hari, saat jam pembelajaran. Berarti mereka harus sementara waktu meninggalkan proses pembelajaran di kelas. Tidak mengikuti mata pelajaran (mapel) tertentu. Mereka berkorban demi berlatih menyanyi. Cara demikian dipilih, agar mereka tidak datang sore hari. Datang sore hari berarti menyita waktu mereka. Cara yang dipandang kurang efektif. Sekalipun pagi hari, mereka tidak mengikuti proses pembelajaran sementara, itu lebih efektif. Tidak perlu dua kali datang ke sekolah. Pagi hari, sekali datang, dua kegiatan terlampaui. Dapat berlatih menyanyi dan mengikuti proses pembelajaran sekalipun tidak utuh. Dan, ternyata, cara begitu mereka lebih menyukainya.

Ada yang sementara waktu harus dikorbankan. Beberapa mapel tidak diikuti. Mau tidak mau, mereka harus mengejar mapel yang tidak diikuti itu. Itu artinya mereka harus lebih ekstra “bekerja”. Di lain waktu harus belajar lewat teman mereka, meminjam catatan, misalnya. Atau, jika dipikir penting, mereka dapat meminta teman yang memiliki kelebihan dalam mapel yang tidak diikuti itu untuk mengajari secara tutor sebaya. Bukankah selalu ada risiko segala sesuatu yang dipilih?

Demikian juga ketika awalnya dipilih dua siswa sebagai delegasi sekolah untuk lomba solo song itu. Satu sebagai wakil putri, satu sebagai wakil putra. Tetapi, informasi terakhir, ternyata setiap sekolah cukup mengirim satu wakil, boleh putra boleh putri. Itu artinya, dari dua siswa yang telah dipersiapkan, harus diseleksi lagi. Dipilih satu siswa sebagai wakil sekolah. Di sinilah dibutuhkan sikap berbesar hati, ikhlas, dan cerdas. Sikap itu harus ditanamkan kepada mereka, baik yang kelak terpilih maupun (lebih-lebih) yang tidak.

Secara pribadi, si sulung sudah saya pahamkan hal itu. Yang, tentu penting juga untuk disampaikan kepada temannya, yang mewakili siswa putra itu. Siapa pun yang dipilih harus melaksanakan tugas itu dengan berbesar hati, ikhlas, dan cerdas. Demikian juga yang tidak terpilih harus bersikap berbesar hati, ikhlas, dan cerdas. Yang terpilih tidak boleh merasa lebih baik, yang bukan tidak mungkin akhirnya menjebak diri menjadi congkak. Yang tidak terpilih tidak boleh rendah diri, tetaplah optimis karena rentang waktu masih demikian panjang untuk dilampaui.

Manakala pemahaman semacam itu ditanamkan pada setiap anak, siswa, saya yakini selalu akan membawa kebaikan. Anak, siswa, tidak hanya mau menerima, tetapi, saya yakin yang lebih dari itu, mereka akan tetap menjunjung nilai-nilai sportivitas. Bahkan, saya percaya, mereka tetap saling membangun rasa hormat satu terhadap yang lain dan memegang sikap percaya diri. 

3 komentar:

  1. Semoga sukses, baik putranya maupun orangtuanya. Amin.

    BalasHapus
  2. harus penuh tanggung jawab dan prfesional

    BalasHapus

""