Jumat, 22 April 2011

Kartinian dan Paskah


Orang di daerah saya sering menyebut Kartinian. Artinya, memeringati Hari Kartini, hari kelahiran R.A. Kartini. Kartinian setiap tahun selalu diadakan dengan berbagai respon. Dengan mengharuskan setiap wanita, di sekolah, kantor, baik negeri maupun swasta, mengenakan pakaian kebaya. Pakaian kebaya ala klasik dan modern. Sementara yang laki-laki, kadang ada yang cukup mengenakan batik, tetapi ada juga yang mengenakan pakaian adat Jawa. Diadakan lomba-lomba, memasak atau peragawan-peragawatian ala Kartini, dan sebagainya. Satu agenda acara yang tak bisa diabaikan adalah apel/upacara. Yang, umumnya dilaksanakan di sekolah dan kantor-kantor, terutama kantor pemerintah.

Semua siswa dan karyawan/pegawai turut ambil bagian. Para petugas apel, mengingat karena Hari Kartini, biasanya dibawakan oleh para kaum wanita. Mulai dari pemimpin barisan hingga pembina apel, semuanya melibatkan wanita. Tentu saja hal itu berangkat dari pemikiran bahwa Hari Kartini, harinya wanita. Wajar jika kemudian yang berperan langsung adalah wanita. Menunjukkan bahwa pendidikan untuk wanita yang pernah diperjuangkan oleh Kartini menumbuhkan hasil nyata yang dapat dilihat. Tidak hanya kaum Adam yang dapat berperan dalam urusan-urusan apel/upacara, kaum Hawa pun dapat melakukannya. Ini salah satu yang diperjuangkan Kartini, sebagai pahlawan emansipasi wanita. Wanita dapat sejajar dengan pria dalam berbagai kesempatan dan kedudukan. Sekalipun wanita tetap memiliki kodrat yang khas, yang tak dimiliki pria.

Perjuangan Kartini untuk membebaskan kebodohan yang membelenggu kaum wanita tidaklah ringan. Kartini harus berani menerabas norma-norma  yang ketika itu mengatur perilaku wanita. Di antaranya, wanita dalan usia dianggap telah dewasa (sekitar 12 tahun), haruslah dipingit. Ke mana-mana harus dikawal oleh laki-laki, atau siapa saja yang telah diberi wewenang untuk mengawal. Jadi, jelas bahwa kebebasan wanita tidak ada. Kartini, sosok yang menolak kondisi demikian itu. Dengan berbagai upaya diplomasi yang dilakukan, Kartini dan saudara-saudaranya akhirnya dapat mengikuti pendidikan. Padahal, awalnya, pendidikan yang dianggap pendidikan level tinggi, hanya laki-laki yang diperbolehkan mengenyam. Tetapi, oleh karena perjuangan Kartini, Kartini dan saudara-saudaranya wanita dapat mengenyam pendidikan seperti yang dienyam oleh laki-laki.

Kartini akhirnya membawa pembaharuan di kalangan wanita Indonesia. Mereka yang dahulu hanya sekadar sebagai konco wingking (saudara yang hanya ada di belakang, sebagai juru masak, mengurus urusan rumah tangga, mengurus anak-anak, misalnya), di kemudian mereka dapat terjun ke urusan-urusan publik, yang biasanya hanya diurusi oleh kaum lelaki. Kartini dan saudara-saudaranya wanita membuktikan sendiri lewat upayanya mendirikan lembaga pendidikan untuk kaum wanita. Melalui lembaga pendidikan itu, Kartini dapat menjadi pendidik. Mendidik kaum wanita pribumi tentang berbagai keterampilan hidup. Membangun karakter wanita yang bermasa depan gemilang. Kartini mencetak karakter itu untuk wanita Indonesia. Dengan begitu wanita dapat tampil seperti halnya lelaki. Wanita menjadi bebas dari keterkungkungan kebodohan dan ketidakadilan.

Hal yang sejatinya sama dirasakan oleh umat Kristiani di bulan ini. Bahwa melalui perayaan Paskah, umat Kristiani dibawa ke dalam penghayatan akan sosok Yesus. Yesus hadir di dunia yang dipenuhi kegelapan. Oleh karena hukum dunia telah menjadi acuan keberlangsungan hidup umat. Padahal, hukum dunia selalu saja mempraktikkan ketidakadilan, mengabaikan kasih dan pengampunan. Sehingga yang terjadi adalah ketidakdamaian dalam hidup. Karena orang-orang terperangkap dalam belenggu dosa.

Yesus hadir untuk melayani. Seperti halnya Kartini terlahir, juga untuk memberi pelayanan. Yesus melayani orang-orang yang dari mulanya telah jatuh dalam dosa, sementara Kartini melayani wanita-wanita yang terbelenggu oleh kebodohan. Bukankah (dengan demikian) kebodohan sama dengan dosa? Buktinya, oleh karena kebodohan, Adam, manusia pertama, akhirnya jatuh dalam dosa. Jadi, kebodohan ada relasi makna dengan dosa, bukan?

Orang yang terbelenggu kebodohan tidak akan mendapatkan masa depan gemilang. Karena tidak ada akses pengetahuan. Melalui Kartini, akses itu ada. Sementara itu, orang yang terus terbelenggu dosa tak akan mendapatkan hidup dalam terang Tuhan. Dosa akan menguasainya, tetapi Yesus membuka akses bagi manusia untuk memasuki terang Tuhan.

Untuk itu, Yesus mau berkorban. Tidak hanya berkorban sebatas waktu, tenaga, dan pikiran seperti yang dilakukan Kartini, tetapi lebih jauh dari itu. Yesus mengorbankan dirinya untuk manusia berdosa. Bukankah ini berarti sebuah pembaharuan yang dibawa oleh Yesus untuk umat-Nya? Dahulu umat-Nya hidup dalam kegelapan, oleh karena penebusan-Nya, kini dapat teranugerahi hidup dalam terang Tuhan. Sehinga umat akhirnya memiliki akses membangun hubungan dengan  Tuhan.

Kartini, yang diperingati pada Hari Kartini oleh seluruh warga nusantara dan Yesus, yang diperingati di Hari Paskah oleh seluruh umat-Nya di muka bumi ini dalam kematian dan kebangkitan-Nya, sejatinya memiliki misi yang sama sekalipun berbeda dimensi dan ruang lingkup. Kartini memperjuangkan hak-hak kebebasan wanita nusantara, Yesus memperjuangkan umat-Nya dari belenggu dosa.

2 komentar:

""