Jumat, 08 April 2011

Keluarga, Basis Pendidikan Life Skill


PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP:
Keluarga dapat menjadi basis pendidikan
kecakapan hidup secara efisien dan efektif
.
(gambar dari ipgtk-depokasri.blogspot.com)

Beberapa waktu lalu saya menyerviskan celana panjang jin. Terlalu panjang sehingga perlu dipotong, disesuaikan dengan panjang kaki saya. Jika saya paksakan mememakainya, pastilah saya harus melipat bagian ujungnya agar tidak terseret di tanah saat saya pakai. Terlihat kedodoran tentu merusak keindahan bukan? Atau paling tidak jika terlipat saat dipakai akan mengganggu kerileksan berjalan.

Upaya itu yang akhirnya memerjumpakan saya dengan seorang anak, tepatnya remaja, laki-laki, sibuk di seberang meja. Sibuk membongkar celana, yang mungkin akan diservis. Di meja persis di hadapannya masih penuh dengan bungkusan plastik, yang saya yakini di dalamnya pakaian yang akan dipermak. Milik orang-orang yang meminta bantuan jasa permaknya. Menumpuk di meja sebegitu berarti  banyak konsumen. Konsumen tentu saja antre, bersabar untuk menunggu beberapa saat atau bahkan perlu meninggalkan satu-dua hari untuk kemudian diambil besoknya setelah selesai perbaikan.

Saya pun mengalami hal serupa. Harapan bisa saya tunggu untuk dapat langsung dipermak dan sekalian saya ambil, ternyata tak terlayani. Saya menyadari untuk tidak memaksa diri harus selesai seketika itu. Tetapi, saya agak lega sebab dengan sedikit beramah-tamah sesaat, laki-laki remaja itu akhirnya memastikan bahwa sekitar pukul 16.00 WIB hari itu permakan celana jin saya selesai, yang berarti bisa diambil.

Yang menarik pikiran saya bukan karena di atas meja banyak menumpuk berbungkus pakaian yang harus dipermak. Bukan pula kemampuan memerbaiki pakaian kurang pantas dipakai oleh karena (barangkali) terlalu panjang, terlalu kecil, terlalu besar, dan sebagainya. Juga, bukan karena celana jin saya selesai hari itu. Bukan. Tetapi, tertarik kepada remaja lelaki yang saya jumpai di kios permak itu dengan segala kesibukannya.

Karena, sekecil itu sudah dapat “membangun” komunikasi dengan konsumen yang tua-tua dan bahkan berani mengambil keputusan untuk para konsumen itu. Misalnya, kapan hasil servis sudah dapat diambil. Seperti yang saya alami. Ia berani memberi kepastian pukul berapa celana jin saya selesai dikerjakan, yang berarti saya bisa mengambilnya. Yang lebih menarik (lagi) sebenarnya adalah dalam melakukan aktivitas semacam itu ia sendirian. Tidak bersama bapaknya. Padahal, sering saya melihat bapaknya berada di kios itu, sibuk menjahit, mengukur, membongkar, dan merapikan pakaian yang selesai dikerjakan bersamanya.

Karena di sore itu bapaknya tidak di tempat, ia harus melakukan semua pekerjaan sendirian. Dari mengukur panjang celana, memotong bagian yang harus dibuang, membedhel (membongkar) pakaian, hingga menjahitnya. Saya yakin, pekerjaan-pekerjaan itu telah ia kuasai. Terlihat dari terampilnya ia melakukannya. Aktivitas-aktivitas itu merupakan keterampilan/kecakapan hidup yang penting dimiliki oleh siapa pun. Karena, kecakapan semacam itu dan sejenisnya, saya yakini lebih memberi jawaban untuk dapat memertahankan hidup, yang semakin hari semakin tidak mudah untuk diraih.

Itulah pendidikan life skill yang sesungguhnya. Yang, sekalipun sederhana, tetapi dapat menjawab persoalan-persoalan riil masyarakat. Masyarakat yang (kini) semakin disibukkan oleh pekerjaan di area publik dan karenanya nyaris tak bisa mengurusi pekerjaan domestik, orang-orang yang memiliki kecakapan hidup (seperti remaja lelaki tadi) menjadi tempat menemukan solusi. Pekerjaan-pekerjaan domestik akhirnya dapat tertangani secara baik dengan sedikit mengeluarkan biaya. Si remaja lelaki tadi, melalui kecakapan hidupnya (akhirnya) dapat memeroleh penghasilan. Dengan kecakapan yang dimilikinya, tidak selalu bergantung kepada orang tua.

Tentu saja pada tahap awal ia mendapat didikan dari orangtua. Artinya, keterampilan yang dimiliki oleh orangtua diturunkan lewat proses pembelajaran praktis kepada anaknya. Orangtua menjadi guru, anak menjadi siswa. Ini sebuah proses pembelajaran informal, tetapi menghasilkan output berkualitas. Pendidikan yang tidak memerlukan kurikulum terstruktur dan pembiayaan tinggi. Semua proses pembelajaran berlangsung secara alamiah. Hubungan kedekatan antara “guru” dan “siswa”, orangtua dan anak,  menjamin suasana belajar menyenangkan, tidak membosankan. Dan, suasana demikian itu yang barangkali merangsang anak terus mau belajar hingga mencapai puncak prestasi seperti yang dicapai oleh remaja lelaki yang telah berjasa kepada banyak konsumen, termasuk saya itu.

Dalam pengalaman yang saya jumpai tersebut, didikan yang diberikan oleh orangtuanya tentu tidak langsung jadi. Belajar bagian demi bagian. Lantas, menguasai bagian demi bagian. Dan itu semua (tentu saja) belangsung secara pelan-pelan.

Ada banyak pengalaman semacam itu yang dapat kita jumpai di masyarakat. Orangtua mendidik anaknya tentang keterampilan sesuai dengan keterampilan yang dimilikinya. Sekalipun anaknya sekolah, tak jarang mereka juga melatihkan keterampilan kepada anaknya. Saya rasa lebih mudah karena anak dapat melihat langsung apa yang dilakukan orangtuanya setiap saat. Anak dapat terlibat langsung dalam beraktivitas. Lebih banyak praktik langsung ketimbang teori. Anak dapat belajar mulai dari bagaimana membangun relasi dengan konsumen, membuat perjanjian, menentukan harga, mengenalkan produk, hingga memroduksi barang atau jasa. Karenanya, keluarga sesungguhnya bisa menjadi basis pendidikan life skill secara efisien dan efektif.  

4 komentar:

  1. saya belum menikah,jadi belum punya anak,...
    tapi,tulisan Bpk ini bisa menjadi bekal untuk saya dimasa depan nanti...

    Terimakasih banyak... ^_^

    BalasHapus
  2. setuju pak. anak akan sangat gampang belajar dari orang tuanya. sehingga sangat peting peran orang tua kepada anaknya. baik itu hardskill maupun softskill

    BalasHapus
  3. saya menerjemahkan sebagai keterampilan ya pak, Itu yang selalu saya sampaikan kepada siswa saya, termasuk (www.noharaface.com) puteri saya. Sebagai guru Bahasa Indonesia "gadungan" saya sering menekankan keterampilan berbahasa seperti menulis karya nonfiksi, surat, berbicara dll
    makasih pak. walaupun kejadian kecil, tp bisa kita jadikan pelajaran

    BalasHapus

""