Minggu, 03 April 2011

Masih Banyak yang Mengerti


MEMBANGUN EMPATI:
Membangun kembali sikap peduli, mengerti,
dan empati, yang semakin langka ini,
menjadi penting
.
(gambar dari aircahayamataku.blogspot.com)

Karena bensin motor hampir habis, istri saya mengusulkan agar saya membeli bensin dahulu di pom bensin. Letaknya tidak jauh dari tempat istri bekerja. Sekitar 500 meter. Karenanya, istri, dan si bungsu yang kebetulan ikut menjemput ibunya pagi itu, bersedia menunggu sebentar di gang menuju rumah. Ibunya tidak mungkin mengikuti membeli bensin sebab tidak membawa helem. Sekalipun jalur utama yang saya lewati untuk membeli bensin di waktu pagi seperti itu saya yakini tidak ada polisi. Tetapi, bukan karena tidak ada poilisi, lantas saya memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat pelanggaran.

Bukannya saya sok tertib. Sok disiplin berlalu lintas. Bukan. Saya memang begitu, di samping juga jika tidak membawa serta istri dan si bungsu bukankah waktu yang saya pergunakan untuk membeli bensin relatif lebih pendek? Sehingga tidak memotong waktu kegiatan selanjutnya yang harus kami lakukan. Karena saya tentu dapat mengendarai motor lebih cepat jika tidak bersama istri dan si bungsu. Dan, tepat sudah angan-angan itu, karena ketika saya sampai di pom bensin, tidak perlu antre lama-lama. Cukup menanti satu pembeli, saya langsung dapat dilayani.

Sehingga, dalam hitungan menit saja saya sudah sampai di tempat semula, lokasi meninggalkan istri dan si bungsu. Tetapi, istri dan si bungsu sudah tidak ada di lokasi itu. Mereka telah berada jauh di depan, masuk gang. Saya mengejarnya dengan motor. Begitu saya berada di sebelah mereka, istri saya bilang bahwa telah ada tiga pengendara motor yang menawari  tumpangan. Ketiga orang itu memang telah dikenal istri saya. Satu di antaranya tetangga rumah. Meski istri saya tidak bercerita menolak tawaran mereka, saya berkesimpulan (sendiri) bahwa istri saya tentu menolak tawaran itu.  Terbukti, ia dan si bungsu sampai rumah bersama saya.

Yang terlintas di pikiran saya, ternyata masih banyak (orang) yang mengerti keadaan orang lain. Orang lain yang tentu terlihat membutuhkan pertolongan/bantuan. Sikap mengerti keadaan orang lain, yang sekarang ini saya tengarai telah mulai menipis, masih bisa juga dijumpai pada sosok orang. Sekalipun barangkali terbatas pada orang-orang yang memang telah saling mengenal.

Tetapi, bukan tidak mungkin sekalipun telah saling mengenal, dalam kondisi tertentu, orang yang telah mengenal tadi tidak memberi bantuan tumpangan. Saya pernah melakukan hal seperti itu. Dalam siang yang begitu panas, ada orang yang saya kenal berjalan kaki, yang kebetulan jalur itu saya lewati dengan mengendarai motor. Tetapi, saya tidak menawarinya tumpangan. Saya tidak enak hati karena kenalnya tidak begitu akrab. Apalagi ia berjenis kelamin yang berbeda dengan saya dan saya pun tidak kenal akrab dengan suaminya. Pertimbangan-pertibangan itu ternyata berpengaruh juga terhadap keputusan yang saya ambil. Akhirnya, ia tetap berjalan kaki, saya naik motor dan melewatinya setelah saya menyampaikan permisi.

Lain dengan yang ini. Ketika bertemu dengan tetangga saya, yang sudah sangat akrab, berjalan kaki di jalan yang saya lewati dengan mengendari motor, saya hentikan motor persis di sampingnya. Tidak banyak pertimbangan, saya pun menawarinya tumpangan. Ia mengiyakan. Dan kami pun akhirnya melenggang di atas motor, sekalipun kami berbeda jenis kelamin. Hati saya tetap nyaman, yang saya yakini senyaman benak tetangga saya itu karena kami memang sudah saling mengenal secara akrab, baik pribadi maupun keluarga.

Ikatan perkenalan, pertemanan, pertetanggaan, dan (tentu saja) perbudayaan agaknya dapat menjadi media untuk membangun kembali sikap mengerti, peduli, dan empati, yang semakin lama semakin tergerus arus zaman ini.

2 komentar:

  1. bener sekali, pak, utk merekatkan tali silaturahmi dengan tetangga dan saudara, agaknya perlu dimulai dari yang kecil2 seperti ini. syukur2 menawari boncengan, senyuman ramah pun bisa menjadi penanda kepedulian kita terhadap sesama.

    BalasHapus
  2. waaaah budaya yang hilang dikota besar nih bapak. mereka sih ga pedulian. bodo amat sama tetangga. terlalu individual -.-

    BalasHapus

""