Senin, 25 April 2011

Melampaui Segalanya


MEMBANGUN KEBERSAMAAN:
Di masyarakat kalangan bawah, masih
dapat dijumpai sikap-sikap kebersamaan, yang
melampaui berbagai latar belakang
.
(gambar dari educlopedia.blogspot.com)

Baru saja beberapa waktu terlewati, saya melayat. Ada teman yang meninggal dunia. Sakit karena terjadi pendarahan lambung, yang diduga akibat mag kronis, menghadapkannya kepada Tuhan. Usianya memang sudah tua, sebab pensiun pegawai negeri telah dialami beberapa tahun. Akan tetapi, saya rasa bukan karena tuanya itu, tetapi secara medis meninggalnya akibat sakit mag begitu akut yang dideritanya. Sebelumnya masuk rumah sakit, selama tiga hari, hari terakhir masuk ICU karena kondisi kritis. Sehari di ICU, lantas meninggal dunia.

Peristiwa meninggalnya seseorang, di kota, lebih-lebih di desa, memungkinkan perjumpaan dari berbagai segmen masyarakat. Tidak melihat perbedaan mereka. Asal agama, suku, ras, dan golongan, tidak menjadi penghalang kehadiran pelayat. Sekalipun mereka berbeda agama, misalnya, pelayat tetap berdatangan. Seperti yang saya lihat saat saya melayat teman yang meninggal tadi.

Hubungan yang indah antara satu dengan yang lain sangat nyata dilihat dalam peristiwa perkabungan. Kehadiran pelayat, sekalipun berbeda latar belakang dengan yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan, tentu semata-mata turut merasakan duka (sementara) yang dialami oleh keluarga yang ditinggalkan. Memberi perhatian, baik secara moral, spiritual, atau material. Tradisi membawa beras atau uang untuk membantu keluarga yang ditinggalkan masih sangat terlihat. Tetangga selingkungan tempat tinggal, baik yang selatar belakang maupun tidak, datang bersama-sama memberi empati. Demikian juga kerabat, handai taulan, dan kolega dari jauh, memberikan perhatian yang sama. 

Itu artinya, tradisi saling memerhatikan melampaui segalanya masih bisa dilihat hingga sekarang. Yang, melampaui perbedaan agama, ras, suku, dan golongan. Ketika memasuki situasi demikian, perbedaan yang ada telah terlebur dalam satu empati. Itulah sejatinya fakta relasi antarsesama di kalangan rakyat. Tidak membedakan satu dengan yang lain. Coba Anda lihat di sekitar Anda. Pastilah hubungan antarsesama sangatlah indah, bukan? Kehidupan hubungan rakyat (bawah) tetap terbangun erat, sekalipun para elite sering memberikan contoh perseteruan, percekcokan, dan permusuhan, yang bisa jadi teralami secara  berkepanjangan.

Barangkali akan sangat menarik, misalnya, gambaran relasi antarsesama yang demikian itu tidak hanya terjadi ketika ada peristiwa-peristiwa duka. Dalam situasi yang wajar-wajar saja bukankah tidak mungkin untuk diciptakan? Tidak harus menunggu ada kematian, bencana, atau peristiwa serupa.  Tentu, di antara kita, tidak ada yang menginginkan adanya duka nestapa hanya untuk menegakkan rasa kebersamaan itu bukan?

Saya merasa menemukan suasana “sejuk” ketika melayat ke teman yang meninggal itu. Di sisi lain, pelayat yang seiman dengan yang meninggal mengadakan acara kebaktian pangrukti laya (perawatan jenazah, bahasa Jawa), tetapi di sisi lain, ada banyak pelayat yang berbeda iman tetap berada di tempat, sekalipun tidak mengikuti acara. Dapat mengikuti suasana kebaktian itu dengan menjaga keheningan sesaat selama kebaktian berlangsung merupakan sikap empati yang sungguh luar biasa. Mereka memberi ruang kepada sesama yang sedang menjalankan aktivitas religi dengan cara tidak ramai, tidak berbincang-bincang sendiri. Ini kesejatian toleransi yang masih banyak ditemukan di kalangan masyarakat bawah, di mana-mana di seluruh pelosok nusantara, barangkali.

Tradisi yang mempererat relasi satu dengan yang lain ini, tentu perlu terus dijaga. Sekalipun banyak pengaruh global yang cenderung mengikis tradisi itu, setiap kita yang sadar akan pentingnya rasa kebersamaan harus berani tampil menjadi penggerak terdepan demi kelestarian kerukunan, kebersamaan, dan kekeluargaan, yang sejak dahulu telah dikenalkan leluhur-leluhur kita. 

1 komentar:

  1. tak habisnya sya kagum dengan Bapak, hal sederhana bisa menjadi tulisan yang menginspirasi ... saya selalu membayangkan bagaimana senangnya jika bisa bertemu dan bercengkerama

    BalasHapus

""