Minggu, 10 April 2011

"Membaca" Hidup di Apartemen


HIDUP DI APARTEMEN:
Sejak kecil hidup di kota akan lebih
mudah beradaptasi menjalani kehidupan
di apartemen, berbeda dengan orang
yang sejak kecil hidup di alam pedesaan.

Kami, saya dan salah satu teman, duduk-duduk di salah satu bagian area parkir bus pengunjung Dunia Fantasi (Dufan), Jakarta. Menunggu anak-anak didik kami yang sedang memenuhi hasrat menikmati hiburan Dufan. Ke Dufan yang barangkali hanya sekali (selama hidup), itu tentu tidak disia-siakan. Waktu yang disediakan oleh biro tour yang membawa kami serasa tidak memenuhi keinginan mereka. Terbukti, saat diberi tahu batas waktu kunjung, mereka banyak yang memrotes.

Mereka ingin memeroleh rentang waktu kunjung yang lebih lama. Dan, itu terbukti benar karena mereka banyak yang melanggar batas waktu. Sekalipun ada yang menaati waktu, tak sedikit yang memperpanjang waktu secara pribadi. Artinya, mengabaikan batas waktu yang ditentukan oleh biro tour kami. 

Itulah sebabnya, kami, yang memang hanya sekadar pendamping anak-anak, cukup menanti dengan duduk-duduk santai di tembok yang dimanfaatkan untuk mengitari tanah, media tumbuh tanaman.  Tembok penahan tanah tanaman yang permukaan atasnya relatif lebar itu dapat diduduki dengan rileks. Melihat-lihat keadaan sekitar. Pandangan mata saya akhirnya tertancap cukup lama pada bangunan apartemen tinggi menjulang megah. Jaraknya dari kami berada, cukup jauh. Mata saya saja hanya mampu menangkap kotak-kotak kecil, sekalipun itu saya yakini jendela. Apalagi di bagian lantai atas, terlihat sangat kecil seperti kotak-kotak mainan si bungsu di rumah. Meski kecil, terlihat oleh mata saya, ada beberapa kotak yang terbuka. Pasti Penghuninya berada di dalam. Tetapi, entah apa yang mereka lakukan.

Barangkali tidur-tiduran, melihat televisi, makan, atau malah tidur betulan karena lelah begitu menekan. Mengapa? Karena aktivitas orang di jalan-jalan, yang dapat saya jumpai dari atas bus tour selama perjalanan, terlihat begitu sibuk. Berjalan saja cepat-cepat. Satu dengan yang lain meski berpapasan tak saling menyapa. Barangkali memang mereka tidak saling mengenal. Atau memang mereka tidak sempat menyapa karena berburu waktu. Belum lagi mereka yang mengendarai motor atau mobil. Kemacetan yang mudah saja terjadi di mana-mana tempat, membuat mereka harus lihai dan lincah mengendarai. Ada kesempatan luang sedikit saja, bergegas melecitkan kendaraan. Karenanya, konsentrasi yang intens sangat dibutuhkan. Selalu siap. Dan, hal itu sungguh melelahkan.

Wajar saja jika kemudian saya berpikir, apartemen menjadi tempat paling nyaman bagi penghuninya ketika libur, sedang tidak bekerja. Penghuni apartemen dapat beristirahat sepuas-puasnya. Tidak ada tetangga yang mengganggu. Karena, masing-masing disibukkan oleh aktivitas pribadi. Akan tetapi, begitu lelah sudah sirna, aktivitas yang lain telah menanti. Mobilitas hidup serupa itu yang meyakinkan saya bahwa sesama penghuni apartemen boleh jadi tidak saling mengenal.

Apalagi, saya pun menduga, tidak mungkin ada tradisi kumpul-kumpul, kerja bakti, barangkali juga tidak ada rapat RTRW, pertemuan PKK, dan bentuk-bentuk berkumpul lainnya yang bersifat membangun kebersamaan warga.

Saya tidak mungkin bisa hidup dalam kondisi begitu sekalipun ada orang yang mau  membelikan/menyewakan. Melengkapinya dengan perkakas serba luks. Menambahinya dengan fasilitas-fasilitas lain yang memberi kemudahan. Katakan, tinggal menempati dan memanfaatkannya, saya tetap tidak bisa. Sikap serupa itu yang rupanya juga ada di pikiran teman saya. Ia tidak bakal dapat hidup dalam situasi dan kondisi  seperti itu. Itu karena kami memang orang-orang desa yang biasa hidup dalam keluasan berhubungan.

Sejak kecil hidup di desa. Bermain begitu bebas di tanah lapang. Berjumpa dengan siapa saja, baik saat di rumah maupun di jalan, di tempat yang lain juga, masih ada banyak waktu untuk saling bertegur sapa. Dengan tetangga masih sering bertukar sayur atau lauk untuk makan. Bahkan, menawari tetangga untuk memetik buah jambu yang ada di depan rumah saat musimnya telah menjadi tradisi yang hingga kini masih terasa. Itu yang tidak dapat ditemui di apartemen, sekalipun setinggi dan semegah yang saya lihat. Sehingga, kami tidak mungkin dapat menikmati keberlangsungan hidup di apartemen.

Berbeda dengan orang yang sejak kecil memang hidup di kota. Hidup yang telah dikondisikan oleh lingkungan kota akan sangat mudah beradaptasi dengan hidup di apartemen. Mereka akan dapat menikmatinya secara alamiah sealamiah kami menikmati kehidupan di alam pedesaan.    

2 komentar:

  1. senyaman-nyamannya tinggal di sebuah apartemen yang mewah sekalipun, tetep nyaman tinggal di rumah sendiri, pak, berbaur dengan tetangga dan sanak kerabat, hehe ...

    BalasHapus
  2. kunjungan pertama bersama trip on indonesia. mampir yuk! ☺

    BalasHapus

""