Jumat, 01 April 2011

Menyadari Kegagalan Selalu Ada


MENYADARI KEGAGALAN:
Berani menyadari secara penuh akan adanya
kegagalan dalam keberlangsungan hidup
menjadi awal keberhasilan.

Barangkali tidak ada satu pun orang di muka bumi ini yang tidak pernah gagal. Sekecil apa pun, dalam hal apa pun, saya yakin, semua orang pernah mengalami kegagalan. Kegagalan dalam hal bermain, ujian/tes, pekerjaan, bersekolah, berpacaran, berumah tangga, dan sebagainya dan sebagainya. Menimpa siapa saja. Tidak peduli itu orang dewasa maupun anak-anak, orang kaya atau miskin, wanita juga lelaki. Kegagalan tidak pernah pilih kasih serupa kita yang sering berperilaku pilih ini pilih itu.

Tidak dapat diingkari bahwa orang-orang yang sekarang terlihat hidup sukses, baik sukses secara jasmani maupun nonjasmani,  pernah mengalami kegagalan. Masa-masa yang dilalui, saya berani saksikan, tidak selalu mulus. Ada kerikil-kerikil tajam, batu-batu besar, bahkan lubang sekalipun yang mengakibatkan (hingga) jatuh terperosok dilaluinya. Dan, bukan tidak mungkin kesuksesannya kini justru berawal dari kegagalan-kegagalan yang dialami tempo silam.

Oleh karena kegagalan, orang dan sejujurnya kita sendiri, sering mengalami beban psikologis yang demikian dahsyat. Kedahsyatannya (sering) dapat membawa batin remuk dan tangis meledak. Hingga melihat masa depan seperti mendung gelap menggantung, yang akhirnya terbayang oleh kita sebentar lagi runtuh menimbun kita. Menjauhkan segala harapan dari hadapan kita. Yang terbayangkan akhirnya hanyalah kehancuran, tidak mendapatkan apa-apa, bahkan hidup seperti tak berarti lagi. Jadi, umumnya kegagalan mematikan harapan, idaman, dan cita-cita.

Tentu hal tersebut terjadi hanya karena kita sering tidak menyadari bahwa dalam keberlangsungan hidup itu senantiasa ada kegagalan. Karena (sejak dahulu) telah terpola dalam pikiran kita selalu hanya melihat keberhasilan, kesuksesan, dan keberuntungan. Yang sering menjadi bayang-bayang dalam pikiran kita adalah orang-orang sukses, suksesnya saja maksudnya. Tidak pernah melihat kegagalan-kegagalan yang barangkali sering mereka alami. Kerja keras mereka dan perjuangan mereka sering hilang dari penglihatan kita. Yang tampak terang benderang di mata kita adalah suksesnya belaka.

Bukankah itu berarti kita menyerap sebagiannya saja. Sebagian yang baik-baik saja. Sementara yang sebagian lagi, yang tidak/kurang baik, kita abaikan. Inilah yang barangkali dikatakan orang sebagai penyerapan pengalaman yang tidak seimbang itu. Ketidakseimbangan itulah yang menjadikan kita kurang berani bersikap sebenarnya. Kurang berani menatap kenyataan sepenuhnya. Yang kita tatap hanya yang bersifat memberikan keuntungan dan keberhasilan.

Sehingga, tatkala kita mendapati kegagalan/ketidakberhasilan, kita menjadi kecut hati. Patah semangat dan meletupkan emosi-emosi kemarahan, kebencian, dan bahkan menyatakan penolakan yang membabi buta. Tentu kita tidak ingin membiarkan hal tersebut terus terjadi pada kehidupan kita bukan? Kita ingin ada perbaikan-perbaikan agar ke depan hidup semakin baik. Maka, sikap yang perlu ditumbuhkan dalam diri kita barangkali adalah menyadari bahwa dalam hidup selalu ada kegagalan.

Karena bukan tidak mungkin kesuksesan orang-orang yang kini dapat kita lihat itu oleh karena mereka memang memiliki keberanian terlebih dahulu untuk menyadari bahwa dalam hidup itu senantiasa ada kegagalan. Dan,  kegagalan yang mereka hadapi tidak untuk ditangisi, disesali, dihadapi dengan penuh emosi, tetapi didekati dengan hati (tekun, tabah, dan ikhlas) karena dalam ketekunan, ketabahan, dan keikhlasan itu, kata orang-orang bijak pandai, melahirkan harapan. Ya begitulah!

2 komentar:

  1. ini postingan smoga saja dibaca sama blue y mas.........heheheh
    salam persahabatan
    akusuka

    BalasHapus
  2. mantap sob artikelnya....salam kenal

    BalasHapus

""