Rabu, 20 April 2011

Peristiwa

Ingatan-ingatan masa kecil mengenai saudara-saudaraku, menjadi bagian penting yang harus aku ceritakan. Aku ingat, bahwa ketika itu, aku memiliki saudara laki-laki. Sudah dewasa, dan karenanya aku memanggilnya kang. Di desaku, kang, lengkapnya kakang merupakan sebutan panggilan untuk kakak laki-laki. Dan, seingatku, ia kakakku laki-laki satu-satunya. Tak ada yang lain. Sebab, yang lainnya kakak-kakak wanita. Kakakku laki-laki itu bernama Sadino. Seingatku, ia tinggi besar dan berkulit agak hitam serupa kulitku, tidak seperti kulit Emak yang putih bersih.

Tetapi, aku tidak sering berjumpa dengan kakakku laki-laki itu. Entah di mana ia selalu berada. Bertempat tinggal di mana. Sudah kawin atau belum. Aku tidak tahu. Hanya sewaktu-waktu ia muncul di rumah. Jadi, hubunganku dengan kakakku laki-laki itu tidak seakrab hubunganku dengan kakak-kakakku wanita, yang memang selalu tinggal serumah. Aku tidak seberapa mengenalnya. Tetapi, aku ingat akan salah satu perbuatannya yang menyedihkan orang seisi rumah. Meski ketika itu aku belum dapat merasakan kesedihan akibat ulah kakakku laki-laki itu.  Sekalipun aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kakak-kakakku wanita tentang Kang Sadino, ada sedikit ingatan tentang perilaku ganjil Kang Sadino.

Suatu hari, Kang Sadino muncul di rumah. Waktu itu, kami masih memiliki sapi. Sapinya sering aku gembalakan di lahan pertegalan di sebelah selatan rumah. Sapi itu gemuk karena memang saat itu rumput masih demikian mudah ditemukan. Tidak jauh dari rumah, telah banyak dijumpai tempat penggembalaan hewan piaraan. Karena aku belum sekolah, aku selalu senang menggembalakan sapi itu. Dapat berkumpul dengan teman-teman gembala. Anak-anak tetangga, seusiaku, juga menggembalakan hewan piaraan. Kami sering bermain sembari menggembalakan hewan piaraan kami. Kebiasaan kami yang unik dan khas sebagai anak gembala nanti akan aku cetitakan pada bagian lain.

Kedatangan Kang Sadino di rumah saat itu, ternyata ingin mengambil sapi yang setiap hari kugembalakan di lahan rumput sebelah rumah. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Tetapi, lewat kakak-kakakku wanita, kudengar Kang Sadino hendak menjual sapi itu. Itu saja yang aku dengar, selebihnya tidak tahu. Dan, aku juga tidak ingat, apakah setelah itu aku masih menggembalakan hewan piaraan atau tidak. Benar-benar aku lupa. Yang tidak aku lupa adalah cerita kakak-kakakku wanita tentang Kang Sadino menjual sapi keluarga.

Rasanya tak ada yang berani menolak. Emak pun aku kira tak berani menolak. Bapak tak ada di rumah. Sekali lagi, entah di mana, aku tidak mengerti. Kalau Bapak di rumah tentu peristiwa itu tidak bakal terjadi. Bapak pasti orang pertama yang menolak keinginan Kang Sadino. Sebab, sapi dipelihara tentu akan dapat beranak-pinak. Satu sapi dalam waktu tertentu dapat berubah menjadi dua-tiga sapi. Itu yang akan menenangkan hidup orang desa.

Barangkali karena Kang Sadino lelaki sendiri yang dewasa dalam keluarga ketika itu, segala perilakunya tak ada yang menentang. Barangkali juga Emak takut, kakak-kakakku wanita juga takut. Apalagi aku, lelaki kecil, yang bisanya hanya bermain dan bersenang-senang. Andai saja, ketika itu aku tahu perbuatan Kang Sadino itu menyengsarakan keluarga, tentu aku bersikap setali tiga uang dengan sikap Emak dan kakak-kakakku wanita. Takut sama Kang Sadino.

Tak ada saudara Emak dan Bapak yang tinggal dekat rumah kami. Kalau ada, mungkin ada yang membantu Emak dan kakak-kakakku wanita untuk menolak keinginan Kang Sadino. Karena barangkali tak ada tentangan, akhirnya sapi yang sering kugembalakan, itu tidak ada di rumah. Dari kakak-kakakku wanita, kudengar, benar-benar sapi itu telah dijual oleh Kang Sadino. Perihal Emak diberi sebagian hasil jual atau tidak, aku tidak tahu. Tak pernah kudengar kakak-kakakku wanita memperbincangkan perihal yang satu itu. Atau, barangkali mereka mempercakapkan, tetapi tidak setahu aku. Kalau pun ketika membicarakan hal itu, aku berada di antara mereka, aku tetap saja tidak mengerti.


Tidak mengerti, karena aku masih kecil. Tidak peduli memikirkan hal seperti itu. Bukankah hal serupa itu hanya konsumsi orang-orang tua? Orang-orang yang sudah dewasa, tidak seperti aku, yang masih kanak-kanak ketika itu. Ketiadaan Bapak di rumah, tak juga mengusikku. Seingatku, tak pernah aku menanyakan kepada kakak-kakakku wanita atau Emakku sekalipun mengapa Bapak tidak pernah ada di rumah. Ketiadaan Bapak di tengah-tengah keluarga sepertinya tak menimbulkan keanehan dalam pikiranku. Biasa-biasa saja. Sepertinya tidak ada yang kurang. Atau, ketika itu sesungguhnya aku juga mengalami rasa bertanya-tanya. Tetapi barangkali karena kelihaian kakak-kakakku wanita dan Emakku memberikan penjelasan, aku tak mengalami rasa bertanya-tanya secara berkepanjangan mengenai Bapak.

3 komentar:

  1. masa kecil ada yang sangat berkesan sekali, satu hal yang saya selalu ingin tahu dan selalu mencoba mengingat,...seperti apa bapakku,.. karena usia 4 tahun kami suadah ditinggal beliau
    kok jadi melo sih pak saya, kalu ingin mengingat bapak

    BalasHapus
  2. Hmmm.. sosok ayah.. mengharukan...

    BalasHapus
  3. peristiwa masa kecil memang tak gampang dilupakan begitu saja, pak, apalagi berkaitan dengan saudara kandung. sepahit apa pun peristiwa itu pasti memberikan hikmah yang amat berharga. semoga suatu ketika pak sungkowo kembali dipertemukan dg keluarga secara utuh dan lengkap.

    BalasHapus

""