Selasa, 26 April 2011

Si Bungsu


Si bungsu ketika masih berusia satu tahun.
Sekarang, sudah tiga tahun lebih
.

Kemarin sore si bungsu kami ajak ke rumah sakit. Untuk periksa pada dokter karena badannya panas. Sudah beberapa hari panas, tetapi munculnya sewaktu-waktu. Tidak terus-terusan. Acapkali badannya panas terjadi pada malam hari waktu tidur. Sehingga gaya tidur yang biasa saya lihat saat badannya sehat, tidak saya lihat saat malam hari itu sekalipun tidak sepanjang malam. Badannya meringkuk miring. Seakan-akan mengecil. Tidak seperti biasanya ketika dalam kondisi sehat, telentang segar terkesan besar.

Begitulah salah satu tanda jika badan si bungsu terasa tidak sehat. Yang, barangkali juga menandai banyak orang pada umumnya ketika jatuh sakit. Tidur melingkar karena menggigil (terasa) dingin, meski jika dipegang orang lain terasa panas badannya. Itulah sebabnya, tidur melingkar dalam posisi miring sepertinya terasa nyaman baginya seperti yang (juga) sering dialami si sulung dan ibunya jika sedang sakit. Tidak seperti saya. Kalau sedang sakit, saya (malah) membujur telentang, kaki dan tangan merapat ke badan. Bahkan, demi menikmati sakit yang saya rasa, sembari tiduran, menyanyi dengan suara lembut pun terjadi. Ngrengeng-ngrengeng (menyanyi dengan suara lirih, bahasa Jawa).

Tidak begitu si bungsu. Ia tampak lesu. Tidak bergairah. Keceriaan di wajahnya sirna, entah ke mana. Apalagi, makan pun juga sulit seperti yang dialami banyak orang ketika sakit. Si bungsu makan hanya sedikit. Padahal, jika dalam kondisi sehat, makannya sangat menyenangkan bagi setiap orang yang melihat. Telap-telep (sangat lahap, bahasa Jawa). Di hari kemarin (25/4), mengalami muntah. Setiap makan, hampir sering diikuti muntah. Seperti pada pagi harinya di hadapan saya. Ia begitu lahap menikmati tempe goreng yang masih hangat karena beberapa saat baru diangkat ibunya dari atas penggorengan. Satu potong tempe, saya jadikan dua bagian. Bagian yang pertama tuntas ia makan. Minta bagian yang kedua. Ia makan juga. Tetapi, saat gigitan yang entah keberapa, tiba-tiba muntah.  Jadinya, tumpah semua yang baru saja masuk ke dalam perutnya. Waduh!

Bukankah wajar jika saat itu si bungsu kelihatan lemas? Sebab energi yang masuk ke dalam tubuhnya, sering ditolak. Emoh (tidak mau, bahasa Jawa) makan. Dalam kondisi begitu, tak hanya keceriaannya musnah, tetapi ia tak banyak bergerak. Padahal, ketika dalam kondisi sehat, geraknya begitu banyak. Ibaratnya, hampir semua yang dilihat di televisi, ditirukan. Menari dan menyanyi, sekalipun menimbulkan tawa pada kami saat melihatnya. Saat sakit begini, tak ada lelucon si bungsu yang dapat menghibur benak kami.

Tak hanya itu. Yang biasanya suka menggoda kakaknya, si sulung, saat sakit begini, kebiasaan itu sirna. Bahkan, ketika kakaknya bermaksud mengajaknya bermain saja, agar ia mau tersenyum, kakaknya malah dimusuhi. Kakaknya dikatakan nakal kepada kami. Apa pun yang diperbuat oleh kakaknya, sekalipun berniat baik, selalu dianggap nakal. Ujung-ujungnya, perbuatan kakaknya itu diadukan kepada kami sembari menangis. Si bungsu ingin sendirian. Tidak mau “diganggu”, sekalipun itu kakaknya sendiri.

Dan memang begitulah orang-orang yang sedang sakit, baik itu muda maupun tua, bisa dipastikan tak mau terganggu, bukan diganggu. Kesendirian menjadi keinginan yang meluap ketika itu. Istirahat dari semua aktivitas. Tidak mau bergerak, melihat, mendengar, apalagi diajak bicara, jelas ia akan menolak. Karenanya, kita sering melihat orang bezuk atau kita sendiri yang bezuk teman sedang sakit, misalnya, lebih banyak membangun komunikasi dengan yang menunggu. Tidak dengan yang sakit. Itu pun selalu dalam waktu yang relatif pendek. Bahkan, acapakali kita cepat pulang dengan alasan agar si pasien dapat segera beristirahat. Bukankah begitu?

Si bungsu tidak hanya menolak “diganggu”. Dalam kondisi begitu (sakit), ia ingin mendapat perhatian lebih. Mengadukan setiap perbuatan kakaknya, yang sekalipun tidak berkaitan dengan dirinya, tetapi diketahuinya langsung, kepada kami dapat dipahami bahwa si bungsu membutuhkan perlindungan. Kami harus memerhatikan dan seolah-olah (harus) memarahi kakaknya agar hatinya lega. Sebab, kalau tak seakan-akan memarahi kakaknya, wajahnya terlihat cemberut karena rasa benci terhadap perbuatan kakaknya yang dianggap mengganggu itu. Jelasnya, ia membutuhkan “pembelaan”.

Sakitnya si bungsu, yang berdampak pada sikapnya itu, mengingatkan saya kepada siapa saja yang sakit. Tidak pandang bulu. Kaya, miskin, laki-laki, wanita, tua, muda, selalu membutuhkan perhatian khusus dari orang-orang terdekat. Anda bagaimana?

1 komentar:

  1. Anda benar... saya kalau sakit flu juga manja sekali pada istri :)

    BalasHapus

""