Rabu, 13 April 2011

Turut Bersyukur


BERSYUKUR:
Bersyukur dapat dimaknai sebagai
spiritualitas berbagi berkat bagi sesama.

Merasa bersyukur berarti memiliki pertalian erat dengan Sang Khalik. Karena menghayati bahwa segala sesuatu yang dirasa/diraih tidak lepas dari campur tangan Sang Khalik. Sang Khalik memberi “jalan-jalan” kemudahan sehingga sesuatu yang diusahakan berhasil didapat. Itu membuat rasa bangga. Ungkapan rasa bangga itu umumnya oleh banyak orang diwujudkan dalam bentuk bersyukur.

Seperti yang siang tadi, kami, saya dan istri berikut si bungsu, menghadiri undangan ibadah syukur anak teman kami. Anak teman kami, yang telah berumah tangga, melahirkan. Kelahiran sang bayi di tengah-tengah keluarga merupakan anugerah  yang besar. Keselamatan, baik bagi ibu maupun bayinya, dalam peristiwa kelahiran, juga anugerah yang luar biasa.

Sebab, pertama, ada banyak dijumpai suami-istri yang telah lama menanti adanya keajaiban kehamilan, tetapi belum diberi tanda-tanda. Waktunya dapat bertahun-tahun menunggu mujijat itu. Bahkan, karena terlalu lama menanti, tak jarang untuk "merangsang" adanya mujijat kehamilan itu, pasangan suami-istri harus mengeluarkan banyak dana. Pergi ke dokter yang (dianggap) memiliki keahlian  membantu munculnya proses kehamilan. Ada yang cukup di dalam negeri. Tetapi, ada juga yang harus terbang ke luar negeri. Sehingga, mengalami sebuah proses kehamilan pada seorang istri merupakan mahaanugerah bagi pasangan suami-istri itu, bahkan bagi orang-orang terdekat mereka.

Kedua, ada banyak ditemukan proses kelahiran yang merenggut nyawa ibu, sementara bayinya tetap ada dan memiliki anugerah hidup. Hal seperti itu yang pernah dialami oleh salah satu teman saya, seorang guru. Masih usia seminggu, si kecil (harus) ditinggal oleh ibunya yang seorang guru, teman saya itu, menghadap Sang Khalik. Tetapi, sebaliknya, tak jarang dalam proses kelahiran itu yang terenggut nyawa si kecil yang telah ditunggu-tunggu begitu lama (kedatangannya) oleh ibu-ayahnya. Hal ini pernah dialami oleh salah satu saudara saya, karena si kecil mengidap tokso. Si kecil lahir dalam kondisi cacat, yang mengantarnya kembali pulang ke pangkuan Sang Khalik dalam beberapa hari setelah kelahirannya. Bahkan, ada juga peristiwa kelahiran yang dapat merenggut dua nyawa sekaligus, ibu dan bayinya. Itulah sebabnya, keselamatan dalam peristiwa kelahiran merupakan anugerah mujijat yang sungguh besar harganya.

Maka, ketika kebahagiaan itu tak sekadar dinikmati sendiri, tetapi banyak orang boleh turut merasakan, menjadi sebuah spiritulitas berbagi. Berkat yang tercurah perlu dibagikan kepada orang lain. Sehingga orang lain pun turut merasakan kebahagiaan itu. Karena memang kebahagian yang telah dicurahkan oleh Sang Khalik kepada kita sejatinya bukan hanya milik kita. Tetapi, sebagian juga milik orang-orang lain. Yang oleh banyak orang, barangkali termasuk saya dan Anda, orang-orang lain itu lebih dimaknai sebagai orang-orang terdekat, seperti tetangga, kenalan, kolega, sahabat, dan saudara saja. Kenyataan itu telah menjadi tradisi turun-temurun, hingga sekarang ini.

Orang-orang yang diundang untuk mengikuti syukuran itu, umumnya tidak datang dengan tangan hampa. Tetapi, membawa apa-apa sebagai sumbangan. Apa-apa itu dapat berupa barang, dapat juga berupa uang. Barang yang dibawa disumbangkan itu biasanya barang-barang yang terkait dengan keperluan bayi. Bisa pakaian, perkakas mandi, dan cuci. Perilaku ini juga telah menradisi dari dahulu sampai kini.

Yang membawa sumbangan itu ibu-ibu, atau yang berjenis kelamin wanita. Sekalipun sumbangannya berupa uang, kaum Hawalah yang membawa. Di daerah saya, tidak pernah saya tahu, secara sengaja (tanpa ada alasan tertentu) ada kaum Adam yang membawa sumbangan serupa itu dalam acara syukuran kelahiran. Entah apa alasannya, saya tidak tahu. Namun, yang acapkali terdengar, baik dari mulut wanita maupun lelaki, adalah bahwa kaum lelaki tidak pantas membawa sumbangan itu.  Karena perihal melahirkan itu bukankah berkaitan dengan kaum ibu? Itu alasan klasik yang sering dipakai sebagai argumentasi.

Saya kadang berpikir, ibu bisa melahirkan, bukankah juga karena peran serta ayah? Tanpa ayah, tentu ibu tidak dapat hamil dan kemudian melahirkan si kecil. Jadi, boleh dibilang, perihal melahirkan itu, lelaki, ayah, tetap memiliki ikatan. Namun, karena tradisi yang telah mendarah daging itu, lelaki/ayah tak pernah membawa sumbangan dalam acara kelahiran.

Kedatangannya pun selalu bersama istri. Tidak pernah datang sendiri. Kalau ada lelaki yang datang sendirian ke acara serupa itu memang karena masih bujangan dan kebetulan saja berteman dengan yang berhajat. Mungkin teman ibu yang melahirkan itu atau bapak si bayi. Mereka datang karena diundang untuk syukuran (makan bersama). Dan, karena bujangan, lelaki itu dipastikan tidak membawa sumbangan apa-apa. Berbeda dengan kaum Hawa yang bujangan. Kedatangan mereka dipastikan membawa sumbangan. Tetapi, satu hal yang pasti bahwa mereka datang untuk mengucapkan selamat dan turut bersyukur seperti yang diperbuat oleh pasangan istri-suami dan ibu-ibu yang berdatangan. 

9 komentar:

  1. di Bali jarang ada adat syukuran semacam ini. Mungkin ada tapi sistemnya beda. makasi udah sharing pak. :)

    BalasHapus
  2. setiap anak yang lahir patut disyukuri keberadaannya :D saya beberapa kali ikut acara syukuran seperti ini.

    BalasHapus
  3. Ketika ada teman di tempat kerja yang melahirkan, biasanya pas tilik bareng2 saya juga memberikan sumbangan tapi sambil bilang, "Ini titipan dari Istri!"

    BalasHapus
  4. jadi banyak dapat hadiah dong... :D

    BalasHapus
  5. temen2 juga memiliki tradisi seperti itu, pak. "tilik bayi", demikian teman2 biasa menyebutnya, memang salah satu cara yang efektif utk mempererat silaturahmi selain sbg wujud rasa ikut bersyukur atas kelahiran si jabang bayi.

    BalasHapus
  6. Di sini pun (di kalimantan )temen-temen dari perantauan juga saling sambang-sambangan..jadi ingat kampung halaman,,,hik-hik....
    eh pak sempat ganti judul apa ya, kok judul yang lama sudah diganti

    BalasHapus
  7. Hadirnya anggota keluarga yang baru memang patut disyukuri, karena itu merupakan anugerah.

    Salam kenal

    BalasHapus
  8. @budies

    Aduh, Pak Bud, maunya sih sedikit memberi tampilan yang agak berbeda ketimbang yang lawas, eee, ternyata, saya kurang memahami ilmunya. Jadi, ya kembali ke asal. hiks!

    BalasHapus

""