Senin, 25 April 2011

UN: Beban Psikologis karena Seragam Pengawas?


MENAMBAH BEBAN PSIKOLOGIS:
Meski belum terbukti, pengawas UN yang
berseragam  penuh dengan atribut diduga
menambah beban psikologis siswa
.

Hari ini (25/4), ujian nasional (UN) SMP/MTs. dimulai secara serempak di seluruh wilayah nusantara. Ini sesuai dengan kalender pendidikan Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). UN untuk SMP/MTs. negeri dan swasta. Pengawasan dilakukan secara silang. Ada yang guru negeri mengawasi siswa SMP/MTs. swasta. Demikian juga sebaliknya, ada guru swasta mengawasi siswa SMP/MTs negeri. Ada juga yang negeri di negeri, swasta di swasta. Jadi, tidak ada guru yang mengawasi siswanya sendiri. Maka, tidak salah jika ada beberapa orang menyebut pengawasan silang secara penuh.

Pengawasan dengan pola demikian telah lama diberlakukan. Tentu, melalui pola begitu, diharapkan pelaksanaan UN dapat lebih dipertanggungjawabkan kepada publik. Hasil lulusan lebih riil. Karena pihak sekolah penyelenggara tidak banyak memiliki peluang untuk “membantu” siswanya. Diduga tahun-tahun yang lalu sekolah berbuat curang. Apalagi, kini, soal paketnya lima, paket 12, 25, 39, 46, dan 54 (di wilayah, tempat saya bekerja, Kabupaten Kudus). Jumlah paket soal yang demikian itu mempersempit “gerak” siswa dalam bergerilya mencari-tukar jawaban antarteman.

Toh, sejujurnya, sebagai pendidik, kita memang tidak mengingini anak-anak kita melakukan perilaku yang tidak baik. Menyontek teman, ngerpek, atau tindakan lain yang serupa, misalnya. Sejak mereka masuk sekolah, telah kita tanamkan sikap-sikap bertanggung jawab, mengutamakan kejujuran, kebaikan, dan keadilan bukan? Jadi, kalau saat menghadapi UN kemudian di antara kita memiliki pemikiran kurang selaras dengan kebijkan pemerintah, itu artinya, kita mengingkari komitmen sendiri, terutama sebagai pendidik. 

Akan tetapi, pengakuan salah seorang kepala MTs. swasta di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), agaknya perlu menjadi perhatian. Saya mencermati pengakuannya saat saya mengikuti pengarahannya menjelang mengawasi pelaksanaan UN di salah satu MTs. swasta tersebut pagi tadi. Dikatakan, siswa sekolah/madrasah swasta memiliki beban psikologis tersendiri ketika para pengawasnya berasal dari sekolah/madrasah negeri. Sekalipun (memang) semua siswa memiliki beban psikologis ketika diawasi oleh guru lain saat UN, siswa swasta beban psikologisnya lebih dalam.

Betapa tidak, kalau dalam sehari-hari mereka belajar dalam asuhan guru-guru yang berpakaian lebih familiar, saat UN mereka berhadapan dengan guru-guru yang berseragam banyak dengan atribut. Pembedaan itu, tentu didasarkan pada pakaian seragam harian swasta tidak banyak memakai embel-embel. Sementara pakaian seragam harian negeri banyak mengenakan embel-embel, di antaranya barangkali emblem, nama, dan korpri. Yang tidak ada embel-embelnya lebih familiar, sedangkan yang berembel-embel kurang familiar. Benarkah? Saya tidak tahu. Tetapi, itulah pengakuan yang saya dengar. Jadi, dari seragam yang dikenakan oleh guru-guru negeri saat mengawasi UN menjadi hal yang berbeda di mata siswa swasta. Melihat seragam yang dikenakan pengawas itu, di benak siswa timbul berbagai-bagai kesan. Kesan, yang diakui atau tidak, menimbulkan nyali mereka semakin kecil.

Sekalipun kebenarannnya (masih) perlu dibuktikan, tetapi patut saya catat. Siapa tahu di kelak kemudian hari ada orang-orang yang tertarik mengadakan penelitian terkait dengan hal tersebut setelah membaca tulisan ini atau oleh karena pengalaman lain. Dengan begitu akan diketahui apa yang sesungguhnya terjadi, seragam pengawas berpengaruh atau tidak terhadap psikologi siswa saat menghadapi UN.

2 komentar:

  1. saya kira memang demikian pak, sedangkan sesama sekolah negeri saja yang notabene memiliki seragam yang sama siswa pun merasa lain suasananya. sejauhmana pengawas silang berdampak negatif terhadap siswa memang bergangung pada siswa itu sendiri

    BalasHapus
  2. Saya penasaran.. mbok difoto pengawas beserta atributnya, Pak ;)

    BalasHapus

""