Minggu, 01 Mei 2011

Internet bagi Anak, Dampak yang Kontradiktif

DAMPAK INTERNET:
Internet dapat berdampak secara positif
maupun negatif terhadap perkembangan
anak, tergantung pengelolaannya.
Tinggal bagaimana mengelolanya. Internet yang kehadirannya di tengah-tengah kehidupan masyarakat tak dapat dibendung lagi, mau tidak mau, mengajak kita untuk mengambil sikap tertepat. Sebab, internet yang menyuguhkan berbagai informasi publik, jika kurang hati-hati dalam menyikapinya akan sangat merugikan. Sebaliknya, jika kita menyikapinya dengan arif dan hati-hati, internet dapat mengantarkan seseorang mencapai puncak gemilang.

Sangat merugikan hanya karena tidak bersikap hati-hati, sebab ada banyak hal yang kurang baik terpublikasi melalui internet. Kurang baik memang relatif. Kurang baik bagi siapa. Kalau situs-situs dewasa, sampai dapat terambah oleh anak-anak, tentu itu kurang baik bukan? Tetapi, situs-situs dewasa, yang dirambah oleh orang dewasa, barangkali masih ada nilai baikknya.  Hal ilmu pengetahuan dan teknologi, tentu baik bagi semua kalangan usia, baik bagi anak-anak maupun dewasa.

Anak-anak, yang memang secara psikologis “selalu ingin tahu”, internet dapat menjadi media yang paling menarik. Karena internet memang menyuguhkan, baik secara bentuk maupun isi, memenuhi selera jiwa anak. Saya sangat jelas melihat itu. Si sulung, yang kini SMP, sangat tertarik dengan internet ketimbang memegang buku. Itu dapat saya ketahui dari sikapnya yang selalu familiar dengan internet, tapi kurang familiar dengan buku. Begitu rindunya untuk segera dapat ngenet. Tetapi, saya tidak pernah melihat sikapnya begitu rindunya terhadap buku bacaan, misalnya. Bacaan apa saja. Pelajaran atau cerita, koran atau buku.    

Artinya, si sulung ketika sudah tiba jatahnya waktu boleh ngenet, tak perlu dikompori, ia langsung ke kamar komputer, sendiri. Wajahnya berbinar-binar menandakan bahwa kesukacitaannya terpenuhi. Berbeda dengan ketika jatah waktunya untuk memegang buku alias belajar. Sekalipun tidak selalu disuruh, tetapi sesekali harus masih diingatkan. Dan tidak begitu ketika jatah waktu boleh ngenet. Hingga saat ini, saya tidak pernah mengingatkan si sulung untuk ngenet.

Betapa anak begitu gandrung dengan internet. Saya yakin, ini terjadi di mana-mana, di seluruh pelosok bumi pertiwi ini. Fakta yang begitu aktual dan akan terus terjadi. Karenanya, pada titik ini diperlukan pengawasan/kontrol orang tua terhadap anak yang ngenet. Lepas kontrol, berarti membiarkan anak ke jurang kehancuran moral, mental, dan sikap. Menerapkan kotrol, berarti membangun masa depan anak.

Itulah sebabnya, saya hanya memberi waktu boleh ngenet bagi si sulung pada Sabtu dan hari libur sekolah. Kecuali memang ada tugas sekolah yang harus dicari melalui internet, hari masuk sekolah pun saya izinkan ngenet. Karena yang demikian itu berarti ngenet yang sehat. Mencari dan menggali ilmu pengetahuan lewat internet demi memperkaya wawasan. Justru yang demikian ini perlu dimotivasi. Karena memotivasi mereka memanfaatkan internet secara sehat berarti berinvestasi untuk masa depan mereka (anak-anak).

Mengapa saya hanya memberi jatah waktu boleh ngenet pada Sabtu dan hari libur sekolah? Karena, saya melihat si sulung memanfaatkan internet belum sepenuhnya untuk belajar. Tetapi, lebih banyak untuk facebookan atau jejaring sosial lainnya. Sekalipun facebookan tidak buruk. Tetapi, jika terus-terusan facebookan tanpa kotrol, diakui atau tidak, akan berdampak kurang baik juga terhadap anak. Pengalaman menunjukkan, tak sedikit anak yang menjadi “korban” moral akibat facebookan.

Akan tetapi, lewat facebookan, anak pun dapat membangun komunikasi dengan banyak orang. Jika facebookan dikelola dengan baik, tidak mustahil dapat menghasilkan keuntungan-keuntungan, baik secara finansial atau paling tidak sosial. Anak-anak memiliki banyak jaringan/kenalan, sekalipun lewat dunia maya. Bukankah kita pun telah melihat banyak anak yang dapat mencapai puncak kesuksesan tertinggi lewat internet?

Jadi, yang terpenting adalah bagaimana cara mengelola internet untuk anak-anak kita. Dampaknya (memang) begitu kontradiktif. Jika dikelola dengan baik, membawa kebaikan; jika dikelola secara kurang baik, membawa petaka bagi anak. Bukankah begitu? 

3 komentar:

  1. satu lagi yang penting adalah letak komputer dan posisi monitor. saya berusaha meletakkan komputer di ruang yang mudah dilihat orang dan posisi menghadap monitor juga mudah dilihat orang dari jauh. hal ini mengurangi anak untuk curi-curi

    BalasHapus
  2. Cara yang diterapkan Budies juga menarik

    BalasHapus
  3. Saya sangat setuju pak kalau pemakaian internet bagi anak-anak dibatasi 1 hari max1 sampai 2 jam, kalau hanya hari sabtu dan minggu terlalu lama mereka menunggunya takut malahan mereka curi2 diluar rumah.
    Dan untungnya saya dirumah berjualan ONLINE sambil mengawasi anak-anak, Salam.

    BalasHapus

""