Kamis, 05 Mei 2011

Menjadikan Kudus Cyber City, Sebuah Kerja Besar


Telah cukup lama, Bupati Kudus, Mustofa Wardoyo, yang lebih sering disapa Kang Mus, itu menggagas Kudus Cyber City. Sebuah kota yang dinamika kehidupan pembangunannya dipercepat dengan memanfaatkan kelebihan perangkat informasi teknologi, internet. Tentu saja baik pembangunan fisik maupun nonfisik, yang semuanya mesti harus dapat dinikmati oleh semua warga Kudus, baik yang berada di perkotaan maupun pedesaan. Dengan demikian, diharapkan ke depan kesejahteraan hidup masyarakat Kudus lebih baik. Urusan apa pun yang dilakukan oleh masyarakat dapat terlayani dengan cepat, akurat, dan “sehat”. Pendidikan, kesehatan, informasi, usaha, dan sebagainya yang menyangkut peri kehidupan warga mudah diakses oleh siapa pun saja.

Itulah sebabnya, gagasan ini merupakan kerja besar yang melibatkan banyak pihak. Tak (mungkin) cukup hanya ditangani oleh pemerintah. Semua elemen masyarakat digerakkan untuk mendukung dan tentu terus mengawal kerja besar ini. Maka, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, gagasan yang mengarah pada pendidikan masyarakat berbasis IT ini dibarakan melalui berbagai kegiatan. Kegiatan yang melibatkan banyak pihak. Tidak hanya dari kalangan pendidikan, tetapi juga  perusahaan, di samping tentu pemerintah.

Beberapa elemen yang mendukung adalah PT Telkom Indonesia, Prodi Sistem Informasi Fakultas Teknik UMK, PT Djarum, Yestv,  Yamaha, dan sebagainya. Kegiatan yang didukung oleh sekian banyak elemen masyarakat itu dimulai sejak 2 Mei, yang secara berturut-turut hingga 8 Mei mendatang. Dalam momen Hari Pendidikan Nasional, yang kali ini mengangkat tema, “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa”,  berbagai kegiatan pendidikan yang diadakan berbasis internet menyentuh masyarakat berbagai kalangan. Misalnya, Lomba Blog (SMP, SMA, Guru), Lomba WEB Desain (SMA), Lomba SMS Gateway (Mahasiswa), Workshop Blog, yang (8/5) nanti akan ditutup dengan acara “Ngenet Sehat Bareng Kang Mus”, yang kegiatannya dipusatkan di Alun-Alun Kudus. Khusus yang terakhir rencananya akan melibatkan masyarakat sejumlah 2500 orang. Karenanya, akan dicatatkan sebagai pemecah rekor MURI 2011.

Sekalipun begitu, barangkali kita semua sepakat bahwa semua kegiatan itu tidak akan serta merta mengantarkan kota Kretek ini menjadi Kudus Cyber City. Kegiatan itu tidak akan terlalu berdampak pada kerja besar yang dimaksud. Kegiatan-kegiatan itu hanya sebagai langkah awal untuk lebih jauh lagi. Karenanya, perlu ditindaklanjuti dalam bentuk pendidikan keinternetan bagi masyarakat secara berkelanjutan dan menyeluruh. Caranya, mungkin dengan membangun kantong-kantong pendidikan keinternetan yang menyebar di seluruh wilayah Kudus.

Saya pikir, itu hal bisa dilakukan karena Kudus berwilayah tidak terlalu luas. Hanya sembilan kecamatan, yang relatif mudah dijangkau. Kantong-kantong pendidikan keinternetan diadakan di pusat-pusat kecamatan. Kalau sejak awal penggagasan kerja besar ini telah banyak elemen masyarakat yang berperan, maka bukan tidak mungkin tindak lanjutnya mengajak mereka untuk terlibat. Untuk pembiayaan perangkat yang dibutuhkan dan tenaga pendidik, swasta dan mahasiswa saya pikir dapat dilibatkan. Bukankah di Kudus banyak perusahaan yang berpeduli akan pendidikan generasi muda? Dan, juga bukankah ada perguruan tinggi (PT) yang memiliki jurusan Sistem Informasi?

Sebab, jika angan-angan itu tidak ditindaklanjuti dengan melibatkan banyak pihak, saya khawatir itu hanya gerakan yang bersifat sementara. Formalitas dan seremonial belaka. Dan, akhirnya gagasan untuk menjadikan Kudus Cyber City hanya sebagai gagasan yang mati. Karenanya, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kudus harus sungguh-sungguh menggalang banyak pihak untuk bersama-sama membangun gagasan positif itu dalam wujud yang sesungguhnya sehingga kemajuan pembangunan manusia (warga Kudus) seutuhnya sebagai manusia melek teknologi sekaligus berkarakter menjadi nyata. Semoga.

3 komentar:

  1. Pak, ide seperti itu sering dilakukan dulu di kota2 lain dan hasilnya menurutku ngga bisa dibilang gagal meski jauh dari kata berhasil.

    Yang lebih penting follow upnya... untuk itu jangan mengandalkan pemerintah. Andalkanlah komunitas2 non formal yang diusahakan tetap terus bergerak meski tanpa dukungan pemerintah ;)

    Sukses terus!

    BalasHapus
  2. Kita ini suka bikin gebrakan tanpa kelanjutan. Maksud saya tanpa tindak lanjut.

    Semoga ada hikmahnya. Amin.

    BalasHapus
  3. Betul itu pak seperti tulisan saya yang ini:
    http://kuraih.com/kudus-cyber-city-komunitas-blogger-kudus/
    jika tanpa adanya dukungan dari komunitas blogger kudus sebagai komunitas cyber di kudus kayaknya berat banget.

    BalasHapus

""